20. A Bloody Letter

16.7K 2.2K 106
                                        

Angin malam berhembus kencang menusuk tulang, beberapa burung hantu dengan sorot menyala bertengger di dahan pepohonan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angin malam berhembus kencang menusuk tulang, beberapa burung hantu dengan sorot menyala bertengger di dahan pepohonan. Sosok berperawakan tinggi terbungkus jubah hitam mengeluarkan sejumlah uang dari kantung-presensinya hampir tidak terlihat dalam kegelapan.

Setelah menengok ke kanan dan kiri-memastikan tidak ada yang melihat-seorang ksatria kekaisaran bagian penjaga gerbang istana itu meraih uang yang disodorkan lantas menunduk hormat.

Celah sempit terbuka diantara gerbang tinggi dengan ujung runcing super megah itu. Orion menaiki kereta kuda yang berhenti tak jauh dari istana, menuju tempat dimana seseorang tengah menunggunya.

15 menit berlalu dengan cepat, terdapat sebuah bangunan kayu reyot di ujung persimpangan, aura tidak menyenangkan terasa begitu kental. Hanya lampu temaram dari lilin dalam kaca digantung di dekat tiang pelataran adalah satu-satunya penerangan yang tersedia. Orion turun dari kereta, melangkah cepat memasuki pintu rumah bekas itu.

Stacy duduk menatap kosong ke depan dengan segelas anggur merah di atas meja. Orion mengerutkan alis, sedikit jijik melihat kondisi sekeliling.

"Kau seperti orang kehilangan jiwa. Setidaknya berterima kasihlah karena aku memberimu tempat tinggal."

Merasakan keberadaan orang lain dalam ruangan, Stacy tersentak seraya melakukan courtesy. "Greetings, His Highness, Prince Orion De Alger."

Alih-alih membalas, Orion justru kian mengerutkan alis menyadari kaki gadis di hadapannya itu sedikit terpincang-bahkan terdapat bekas luka mengering di dahinya. Sembari menempatkan diri di kursi, ia berucap, "Aku tidak menyangka kau akan terlihat seburuk ini."

"Saya baik-baik saja, pangeran. Sejauh saya masih memiliki kesempatan untuk menghancurkan Irish, saya tidak masalah."

Ajaibnya, sorot yang awalnya kosong tak beremosi itu perlahan menunjukkan tekad kuat dan berapi-api. Orion menopang dagu, menuangkan anggur merah ke gelasnya.

"Kau ingin bersulang?"

Clank!

Kedua ujung gelas milik Orion dan Stacy bertemu. Selepas meneguk habis cairan merah itu, sang pangeran kembali memusatkan perhatian pada tujuan utamanya.

"Dengar, aku tidak suka jika kau hanya sebatas berbicara mengenai rencana untuk mendapat bantuanku." Orion mengamati lamat-lamat ekspresi-ekspresi yang terlukis di wajah Stacy.

"Pangeran, saya memang membutuhkan bantuan anda. Tetapi saya juga bersungguh-sungguh mengenai ucapan saya-katakan saja satu-satunya tujuan utama saya yang tersisa untuk saat ini adalah membuat Irish kehilangan segalanya."

See? Padahal Orion hanya sebatas mengetes sejauh apa Stacy membenci calon kakak iparnya. Sedari awal pria itu tidak pernah berniat memutuskan kesepakatan keduanya-meski untuk yang pertama Stacy berakhir pingsan, namun tekadnya tidak main-main, Orion bisa melihatnya dengan jelas.

Her Pathetic FateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang