Agracia Euna memang termasuk kategori orang aneh. Setelah mati tragis setengah bodoh karena menyebrang jalan sembari bermain ponsel, alih-alih bersedih, dia justru bahagia.
Memasuki tingkat kekonyolan baru, tidak cukup sebatas dikirim ke surga atau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sungguh, Irish tidak sedikitpun peduli jika gaun zamrud waktu itu jatuh ke tangan Stacy---astaga, satu potong pakaian saja apa yang perlu diributkan?! Tapi sayangnya, publik menyorot dengan cara berbeda.
Stacy jelas tengah berpuas diri karena berhasil membuat kehebohan besar dari ujung utara ke selatan Xeothia. Irish memang kerap kali menjadi topik perbincangan hangat setelah bertunangan dengan Louis---entah mengenai kepribadiannya, ataupun hubungan dekatnya dengan Keluarga Kekaisaran, jadi si penjilat itu benar-benar memilih timing yang pas.
Tapi masalah ekonomi? Lucu sekali jika harus berpikir keturunan Duke seperti Cael harus kalah dengan anak Baron---yang bahkan telah bangkrut pula. Ada sebagian kelompok yang percaya dan mulai membuat persepsi masing-masing, meski adapula yang langsung mengerti jika itu adalah gosip tolol yang murahan.
Tapi Irish? Gadis itu seratus persen masa bodoh, hanya saja penjilat sialan itu meninggalkan beban berat di pundaknya. Meski ia memang sebatas berniat memancing Stacy untuk mengeluarkan uang banyak dan mengalah pada akhirnya---Irish kini perlu memastikan gaunnya tidak jauh lebih buruk dengan milik Stacy, atau paling tidak yang mampu membuat orang-orang luar biasa terkesima.
Jika Irish gagal, bisa-bisa reputasinya benar-benar terkena dampak.
Chloe menatap lekat-lekat sang nona yang tidak berhenti menghela napas sejak tadi. "Nona, jika anda membutuhkan sesuatu, tolong katakan saja dan tidak perlu repot meninggalkan kamar---saya yang akan mengurus segala kebutuhan anda."
Irish membenarkan posisi duduknya pada sofa, menaikkan sebelah alis penuh tanya. "Memangnya kenapa?"
"Ah... Itu, eumnn---" Chloe membasahi bibir, bingung harus menjawab bagaimana agar tidak memperburuk suasana hati Irish.
Tapi alih-alih tersulut emosi, Irish justru terkekeh gemas karena tingkah pelayan kehormatannya itu---Chloe terlihat super imut ketika kuncirannya agak berantakan dan kacamata setengah merosot.
"Kau khawatir jika aku mendengar rumor-rumor tidak jelas yang sedang berkeliaran?"
Chloe tersentak hebat, buru-buru menyahut, "Nona!!! Tolong jangan anggap serius perkataan jelek yang anda dengar, sungguh, nona adalah yang terbaik!! Kesehatan anda akan terpengaruh jika terlalu banyak berpikir berat, mohon beristirahat saj---"
"Dan bagaimana dengan ini?" Irish tersenyum lebar, melempar-tangkap buku referensi berisi berbagai macam model gaun.
"........."
Oh, jika disuruh memilih, Irish jelas lebih baik tidur seharian di kasur dibanding repot begini---sayangnya ia tidak bisa.
Satu-satunya keturunan Cael itu mendengus geli saat Chloe terdiam membisu, ia mengibaskan tangan lantas kembali memfokuskan perhatian pada kegiatan sebelumnya. "Terima kasih, Chloe. Tapi aku baik-baik saja. Jika kau ingin membantuku, bisakah kau menyajikan camilan? Aku sedikit lapar."