29. Their Past

10.7K 1.5K 49
                                        

Mata memerah dengan kantung hitam layaknya seekor panda, rambut acak-acakan dengan beberapa helai mengembang, pelipis yang berdenyut nyeri seolah kepalanya tengah dipukul-pukul lalu---Stacy menatap kosong pada pantulan dirinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mata memerah dengan kantung hitam layaknya seekor panda, rambut acak-acakan dengan beberapa helai mengembang, pelipis yang berdenyut nyeri seolah kepalanya tengah dipukul-pukul lalu---Stacy menatap kosong pada pantulan dirinya.

Gadis itu tengah duduk di kursi rias dengan dua pelayan membantu memperbaikinya, ia bahkan tidak peduli akan ekspresi jijik yang terang-terangan pelayan itu lempar.

Lemas dan linglung adalah yang gadis itu rasakan, pikirannya sulit berpikir lurus setiap mengingat dirinya terbangun di atas kasur alih-alih berada di kolong meja.

Padahal jelas teringat adegan tengkorak yang tertawa layaknya penyihir itu dan membuat dirinya pingsan. Lantas bagaimana mungkin ketika matahari kembali bertengger gagah, kasurnya tiba-tiba bersih sempurna dengan Stacy tidur begitu nyenyak?

Seluruhnya menghilang tanpa jejak---dan itu membuat Stacy ingin membanting kepalanya sendiri, ia bingung dan mulai mempertanyakan apa kejadian semalam sebatas mimpi atau nyata.

"Hey," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan, lurus ke arah pantulan kaca rias.

Merasa terpanggil, kedua pelayan itu terlonjak hingga tanpa sadar memundurkan langkah. "Yes, princess?"

"Apa kau tidak melihat sesuatu di kasurku?"

Mereka saling bersitatap sebelum salah satunya menjawab, "Tidak, putri."

"Sama sekali...? Tidak ada darah, tengkorak, lidah setengah menggantung yang bergerak seperti cacing dan tertawa.... Tidak ada?"

Alih-alih jawaban, Stacy justru mendapat pertanyaan. "Apa anda baru saja mengalami mimpi buruk?"

Mulut sang gadis bungkam dalam selang waktu yang cukup lama. Matanya kosong tanpa kehidupan menyapu ke setiap sudut kamar barunya.

Benar, memang tidak ada sama sekali

Stacy yakin dirinya tidak halusinasi, tapi nyatanya tidak sedikitpun bukti yang tertinggal. Gadis itu masih ingat betul kata 'harga' yang terselip pada ceceran darah di kasurnya.

Harga.... Harga... Harga...

Bahkan di dalam mimpi sekalipun Stacy dihantui satu kata terkutuk itu. Apa sebenarnya yang dimaksud?

Oh, apa arwah orang tuanya sengaja berkunjung dan balas dendam karena ia tidak mengubur mereka dengan benar?

Stacy mencibir singkat atas pemikiran anehnya. Jauh dalam diri sang gadis, rasa takut sedang menyiksanya dengan kejam---namun lebih dari itu, ia lebih terfokus pada pertanyaan-pertanyaannya. Siapa pengirimnya? L, apakah Louis? Tapi Stacy bahkan belum mencari masalah dengannya.

"Saya akan memanggilkan dokter---"

"Tidak perlu, pergilah."

Stacy mendecak malas melihat kedua pelayan yang pagi ini bertugas mengurusnya lari terbirit-birit keluar kamar.

Her Pathetic FateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang