Agracia Euna memang termasuk kategori orang aneh. Setelah mati tragis setengah bodoh karena menyebrang jalan sembari bermain ponsel, alih-alih bersedih, dia justru bahagia.
Memasuki tingkat kekonyolan baru, tidak cukup sebatas dikirim ke surga atau...
Note sedikit sebelum mulai baca chapter ini (27/06/2021) :
Chapter ini mungkin akan terasa menjengkelkan bagi beberapa dari kalian. Tapi aku membuat setiap bagian cerita ini karena punya alasanku tersendiri.
Jadi kalau memang kurang cocok dengan cerita ini, tolong tinggalkan tanpa memberi komentar yang buruk, okay? Aku nggak masalah dengan saran, tapi komentar buruk bisa ngaruh ke mood menulisku, jadi tolong banget, hehe🙏😃
Mari sama-sama saling menghargai (〃^▽^〃) tapi selamat kalau mampu bertahan melewati bab-bab yang agaknya memang menjengkelkan, hehe! Karena hanya soal waktu saja Irish mengalami perkembangan, terima kasih sudah mampir♡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Entah harus disebut keberuntungan atau justru kesialan ketika Irish secara kebetulan berpapasan dengan Cael.
Tanpa mampu ditahan, Irish merasa deja vu. Hari pertamanya keluar dari kamar setelah memasuki dunia ini pun ia langsung dihadapkan wajah antar wajah dengan ayahnya itu.
Menghela napas panjang, padahal Irish hanya ingin menghabiskan waktu membordir di taman dengan tenang.
Irish melakukan courtesy, memaksa senyumnya dan menahan mati-matian untuk tidak memutar bola mata. "Greetings, His Grace, Duke Cael Dé Eustacio."
Keheningan seolah merampas paksa napas sang gadis, ayahnya tak kunjung membuka mulut-atau malah akan mengabaikannya seperti tempo hari? Irish tidak mengharapkan apapun mengingat Cael juga bukan tipe orang yang pantas diharapkan sesuatu.
Andai memang semudah itu, Irish ingin langsung berlalu dan berpura-pura jika keduanya adalah orang asing. Namun tatapan Cael tidak membiarkan Irish lepas dengan mudah, manik emas berkilau yang menyorotnya dari atas ke bawah itu secara tidak langsung menarik jiwanya keluar hidup-hidup.
Irish melirik Cyrus dan Damon yang berada beberapa langkah di belakang sang ayah, bertanya bila ada yang salah dengan Cael melalui pandangan. Alih-alih menjawab, keduanya sebatas menunduk sebagai bentuk penghormatan.
"Berhentilah berkeliling tanpa tujuan seperti serangga."
"M-maaf?"
"Apa kau tuli?"
Irish mengatupkan rahangnya erat-erat, bukankah ini sedikit lucu? Awalnya ia kira Cael sebatas akan berlalu tanpa repot membuka mulut, tapi nyatanya ini lebih buruk.
Seorang ayah seperti ini bahkan tidak pantas menyandang gelar orang tua. Ia masih heran mengapa 'dirinya yang asli' begitu tergila-gila akan kasih sayang karakter yang satu itu.
Sang gadis berusaha menenangkan diri kala merasakan pembulu darahnya memanas.
"Apa-tidak, maksudku... Aku tidak tuli, ayah. Aku hanya terkejut atas ucapan manismu."