Agracia Euna memang termasuk kategori orang aneh. Setelah mati tragis setengah bodoh karena menyebrang jalan sembari bermain ponsel, alih-alih bersedih, dia justru bahagia.
Memasuki tingkat kekonyolan baru, tidak cukup sebatas dikirim ke surga atau...
Haloooo, udah nunggu lama ya? Maaf tiba-tiba ngilang nggak ada kabar hehehe✌😁🔫
Aku udah tambahin terjemahan buat beberapa kalimat, kalo ada yang salah, kurang tepat, atau typo boleh tuh dikoreksi nyiehehe👀👌
. . . . . . 🌻Selamat membaca🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama beberapa waktu mendekam di kamar untuk masa penyembuhan kakinya, Louis selalu berkunjung ke kamar Irish. Ah, betulkah jika disebut begitu? Pasalnya sang pangeran sebatas berdiri di ambang pintu, kemudian mengamati tanpa bersuara sedikitpun---sungguh, Irish sampai sering mengira tunangannya terasuki sesuatu.
Irish memang biasa saja---entahlah, gadis itu secara perlahan mulai melupakan fakta bahwa ia seharusnya takut pada Louis---tapi tidak dengan Chloe. Setiap waktu sarapan, Chloe mengurus segala macam kebutuhannya termasuk menyediakan makanan---dan saat itulah ia kerap kali bergetar ketakutan karena Louis muncul tanpa diundang dan pergi tanpa pamit sesukanya.
Sangat aneh. Sebenarnya apa yang diinginkan Louis? Bahkan ketika Irish mencoba bertanya satu-dua hal, ia sama sekali tidak menggubris.
Tapi justru yang lebih aneh lagi, ketika kakinya telah sembuh total, Irish justru yang mencari Louis karena tidak melihat pria itu selama beberapa hari terakhir---benar-benar seperti menghilang ditelan bumi.
Dan disinilah sang gadis berakhir, berdiri di hadapan dua lukisan megah terpajang namun memiliki keadaan yang kontras. Tak jauh beberapa langkah darinya, tubuh Louis menjulang tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana---ia menatap kosong pada bingkai yang tertutup tirai tanpa cahaya.
Irish mengerutkan alis tak mengerti, ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapapun selain dirinya dan Louis---ah, kecuali satu wanita yang tidak ia ketahui di sudut ruangan dengan setangkai mawar putih.
Sebenarnya apa yang Louis sedang lakukan?
Dan dengan lancangnya mulut sang gadis bertanya, "Pangeran, apa anda yakin tidak salah posisi?" Irish memberanikan diri berdiri di samping tunangannya itu.
Bukankah begitu aneh jika Louis justru berdiri di hadapan lukisan yang tertutup tirai, gelap, tanpa cahaya sekaligus suram sementara di sebelahnya terdapat potret wanita cantik berlesung pipi yang terbingkai baik?
Tunggu, apa Louis sedang berziarah? Lantas mengapa ia tidak membawa mawar? Irish sungguh tidak mengerti, tempat dirinya berpijak persis sekali dengan gedung serba putih yang ia kunjungi di hari peringatan kematian sang ibu---hanya terdapat lukisan megah dan beberapa kursi.
"Menurutmu?" Louis tersenyum miring tanpa mengalihkan fokus.
".......Apa anda mengenalnya?"
Tidak ada jawaban, Irish seketika merinding ketika pria itu justru menolehkan kepala secara patah-patah lantas tersenyum begitu lebar. "Tidak, sama sekali tidak. Tapi aku membencinya, sangat."