Agracia Euna memang termasuk kategori orang aneh. Setelah mati tragis setengah bodoh karena menyebrang jalan sembari bermain ponsel, alih-alih bersedih, dia justru bahagia.
Memasuki tingkat kekonyolan baru, tidak cukup sebatas dikirim ke surga atau...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cael mengetuk-ngetukkan sepatunya berirama, memecah keheningan. Kening pria itu berkerut dalam setelah membaca kertas menguning di tangannya.
Ruangan kerja temaram berbekal sebuah lilin dan cahaya rembulan, sepasang manik mulberry menyala bertengger di balkon. Burung itu sesekali memiringkan kepala, penasaran keputusan yang akan tuannya ambil selepas membaca laporan yang ia bawa-meski secara teknis dirinya merupakan anak buah Aries, namun prioritas utamanya adalah Cael.
Bukan berarti berkhianat, karena sejak awal burung itu memang tidak berniat melayani Aries jika bukan untuk Cael. Seluruh laporan sehari-hari mengenai Irish terkadang bisa laki-laki itu manipulasi melalui dirinya.
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Cael jika ia menginginkannya. Sebanyak apapun orang yang bekerja untuk Aries-sekali Cael menurunkan perintah, maka pria itulah yang menjadi utama.
Angin malam menerobos masuk, menerbangkan beberapa dokumen yang tergeletak naas di meja kerja sang tuan. Cyrus-yang berada di pojok layaknya patung hidup-memungut dengan telaten.
"Cyrus."
Gerakannya terhenti kala suara berat Cael terdengar, ia mendongak dengan posisi setengah membungkuk untuk mengambil kertas. "Yes, master? Apa anda ingin saya mengirim seseorang untuk melenyapkan mereka?"
Cyrus yakin sepenuhnya jawaban 'iya' akan keluar dari mulut tuannya. Keturunan Mourette berani melayangkan tangannya pada sang nona? Gila saja, bahkan Cael tidak pernah sekalipun menyakiti putrinya.
Menyiksa sama sekali bukan kesukaannya, namun Cyrus akan mendukung jika seluruh Keluarga Mourette menjalani kesakitan luar biasa sebelum ajal menjemput-kembali terbayang wajah polos dan imut Irish, sungguh, pria itu selalu naik pitam bila memikirkan bekas merah mendarat di pipi sang nona.
Tetapi sepertinya kali ini Cyrus mendapat jawaban yang mengejutkan. Cael beranjak dari kursi, tanpa mengalihkan mata dari beberapa baris kata yang menjadi pusat amarahnya.
"Don't kill them. Sekalipun, jangan membiarkan Aries mendengar berita ini."
Cael menyugar rambut, sebelah wajahnya bersinar diterpa sinar bulan. "Just make them poor, no matter what it'll cost. Aku ingin mendengar beritanya besok, selesaikan sebelum fajar bagaimanapun caramu."
Seratus persen tidak mengerti dengan jalan pikir pria itu, Cyrus hanya mampu menelan pertanyaannya. Membuat sebuah keluarga bangsawan kehilangan kejayaan termasuk hukuman yang mudah-bahkan Aries sering melakukannya tanpa alasan, atau parahnya hanya karena bosan.
Cyrus tidak yakin ini adalah harga yang setimpal untuk berani menyakiti salah seorang Keluarga Eustacio.
"Understood, master." pada akhirnya seluruh tanda tanya itu berakhir terpendam tanpa jawaban.