07.20 PM
"Farraz? Tumben telat, kau baik-baik saja, kan?" Seseorang menyambut Farraz yang baru saja tiba di studio siaran radio-nya.
"Ah iya, maafkan aku, tadi jalanan sangat padat, aku berlari ke sini. Aku bisa memulainya sekarang, kan?"
Pria yang menyambutnya mengangguk. "Letakkan saja jaket dan tasmu di sofa, aku 'kan rapikan mereka. Segera masuk ke ruang recording! Banyak yang merindukanmu, hahaha!"
Farraz tertawa kecil mendengar Pria itu kemudian segera melepas jaket dan tasnya di sofa. "Langsung mulai saja ya?" Pria itu mengangguk mengiyakan.
"Check sound ... one ... two ... ready! AIRING ON!!!"
"Halo semuanya! Kembali lagi bersama FM One Key. Ah, maafkan aku ... hari ini aku sedikit terlambat karena padatnya jalanan petang ini jauh berbeda dengan hari-hari lainnya. Baiklah, kita akan memulai cerita sebelum tidur dan membaca surat-surat dari teman-teman semua, ya!"
Farraz menarik kotak berisikan surat yang selalu ada di sisi meja recording-nya. Surat dari puluhan orang sudah menunggu untuk dibaca. Tentu saja acara radionya menjadi terkenal juga berkat cerita-cerita itu.
"Oh? Ada beberapa yang khusus untukku, hehe, terima kasih! Aku akan membacakan sebagian saja ya, karena hari ini adalah hari berbela sungkawan atas..." Farraz terdiam, mulutnya terkunci rapat.
"Raz?" Produsernya menegurnya yang melamun secara tiba-tiba.
"Oh maaf-maaf! Aku sedang memilih surat tadi, hehe. Hari ini adalah hari berbela sungkawan atas gugurnya puluhan dokter terbaik negara kita pada kejadian wabah merah pada 10 tahun yang lalu," Farraz menjedanya sejenak.
"... dengan itu, mari kita tundukkan sejenak kepala kita dan berdoa untuk mereka menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai!"
Doa berlangsung dengan khidmat. Bahkan Farraz tidak menyadari bahwa air matanya menetes melalui pipi tembamnya. Sejenak, sang produser menyadari apa yang terjadi dan apa yang Farraz rasakan di balik tampang cerianya.
- LOYALTY -
Tok-tok-tok! Click!
"Hey, Farhan, kau tidak lapar?" Farhan menoleh.
Valora, kenapa pemuda itu ada di rumahnya? Dan kenapa ia bisa masuk meski pintu dikunci rapat? Ia tidak pernah memberi kuncinya pada Valora! Jangankan Valora, keluarganya pun tidak tahu pin pintu apartement-nya itu.
"Lapar. Kau membawa makanan? Jika tidak, pergilah sekarang!" Valora tertawa, merangkulnya mendekat.
"Ini, makanan kesukaanmu, kan? Jangan mengambek dong! Aku hanya membawakan sesuatu yang rahasia, jadi aku harus segera masuk." Valora menyodorkan bag kertas yang ia bawa kemudian duduk di sofa yang ada di kamar Farhan itu.
"Apa ini? Bukan bom, kan?" Tanyanya sembari membuka bag itu. Makanan kesukaan Farhan dan sebuah foto usang.
"Hey! Kau pikir aku sejahat itu? Aku justru berpikir kau akan merindukan mereka." Farhan tersenyum menahan tawa saat mendengar omelan Valora. Ia merindukan omelan pemuda itu.
"Hari ini ya? Hari di mana mereka semua berkorban untuk kita semua." Farhan duduk di samping Valora. Ia menatap foto itu.
"Han?" Farhan berusaha menahan tangisannya, ia hanya diam, benar-benar mengunci mulutnya setelah itu.
Setidaknya ketika tidak ada kata yang keluar, air matanya juga tidak akan keluar. Terdengar helaan nafas yang dipaksakan darinya. Valora yang menyadari itu hanya bisa menarik Farhan ke dalam pelukannya, menenangkan pemuda itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOYALTY [ ENDED ]
Mystery / ThrillerKesetian itu, seperti mawar hitam rupanya. Started at 15 May 2021. Ended at 15 June 2021. Rombak (Revisi) at 15 June 2022.
![LOYALTY [ ENDED ]](https://img.wattpad.com/cover/269530221-64-k356367.jpg)