10.11 AM
"KITA TERKEPUNG!"
- LOYALTY -
"Hai ... anak-anak kecil ... bisa mendengar suaraku? Cek ... sepertinya iya." Suara itu tidak asing. Musuh besar perusahaan-perusahaan obat di kota mereka, Pimpinan dari Lotus Pharmacy.
"Aku akan menghabisi kalian semua hari ini ... teman kalian, Doctor Valora, Doctor Prawara, Doctor Varen, Doctor Angga, dan Doctor Andrew telah kami tawan."
"Hm ... seems like easy. Still a kids, huh? Tersisa empat orang, ya? Kalian akan habis di tangan anak buahku, HAHAHA!!!"
"Aku yakin ... kalian pasti akan menjadi sangat lemah tanpa pimpinan kalian, Valora dan Nagenda Prawara. Apakah aku salah? Sepertinya tidak."
Mata Alexan menyipit mendengarnya, tangannya mencengkram pistol lebih erat, Nabiel mengedarkan pandangannya. Tidak ada pergerakan dari pagar manusia yang mengelilingi mereka.
"SERANG MEREKA HABIS-HABISAN!!! AHAHAHA!!!" Tawa yang luar biasa keras itu terdengar begitu menyakitkan siapapun yang mendengarnya.
Suara nyaring dari mic yang di gunakan sukses memekak-kan telinga siapapun yang mendengarnya. Dengungannya pun tak kunjung berhenti meski tawa itu telah terhentikan.
Suasana mencekam seketika, jelas sekali. Ombak naik sangat tinggi karena fase bulan purnama telah tiba. Tak ada jalan lain untuk kabur selain menerjang apapun yang jadi halangannya.
Nabiel dan Alexan saling memunggungi satu sama lain guna menghindari serangan mendadak. Setidaknya orang-orang yang mengepung mereka sudah seperti orang gila setengah zombie setengah kanibal yang siap melahap keduanya sewaktu-waktu. Nabiel berbisik pada Alexan,
"Masih tersisa empat, tanpa Valora dan Nagen, tersisa Farhan dan Farraz! kita harus mencari Farhan dan Farraz." Mata Alexan melebar.
"Aku pikir mereka masih di--"
DOR!
"Oke, tidak ada waktu untuk merundingkannya, nanti saja, sekarang ... TERJANG!"
- LOYALTY -
Di sisi lain, Farhan dan Farraz harus menghadapi hal yang sama. Terkepung dengan manusia-manusia yang terlihat tidak sedikit pun baik. Mata mereka berwarna merah darah, sama seperti korban Red Plague lainnya.
Kulit mereka pucat dan terus mengelupas sehingga semakin tipis. Setidaknya dalam 20 menit, kulit itu pasti lepas keseluruhan karena membusuk. Mereka pun terlihat bak busung lapar yang siap memangsa keduanya.
"Raz, kita harus ke lantai satu, sekarang." Bisik Farhan.
"Kenapa?" Tanya Farraz, posisi kuda-kuda keduanya tidak berubah sedikitpun sejak awal.
"Mereka tidak membawa senjata. Kau ingat, kita bisa terinfeksi jika terkena darahnya. Tendang, pukul, tembus mereka. Lantai satu adalah tempat paling aman. Kita harus menyalamatkan yang lain juga." Farraz menatap orang-orang itu.
"Oh-- kau benar, ada senjata di basement. Mungkin kita memerlukannya nanti."
"Katakan Han, apa rencanamu untuk menembus mereka? Mereka semakin mendekat!" Ucap Farraz setengah berbisik setengah panik.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOYALTY [ ENDED ]
Misteri / ThrillerKesetian itu, seperti mawar hitam rupanya. Started at 15 May 2021. Ended at 15 June 2021. Rombak (Revisi) at 15 June 2022.
![LOYALTY [ ENDED ]](https://img.wattpad.com/cover/269530221-64-k356367.jpg)