17. Penembak Jitu

25 11 0
                                        

09.27 PM

"Hah ... Raz, udah siap-siap?" Farraz mengangguk mengiyakan pertanyaan Angga.

"Ini sarung tanganmu dan ini herba untukmu. Aku membelinya tadi di pasar." Angga meletakkan sarung tangan dan beberapa bungkus herba di atas kasur Farraz.

"Hey, Angga, kau terlihat lemas, kau tidak sakit, kan?" Ucap Farraz kemudian kembali berkutat dengan seragamnya.

"Tidak ... aku tidak apa-apa. Sudahlah Raz, aku tunggu di luar saja, ya." Angga meninggalkan ruangan dengan tasnya.

Ia adalah penembak jitu sejak kecil, tapi ia kehilangan kehebatannya ketika usai bertugas dari Athereio dan mengalami trauma kecil. Akhirnya ia kembali berlatih bersama Nabiel. Targetnya adalah untuk menjadi polisi atau juru tembak saja.

Tapi ia rasa ... ia salah selama ini. Kini dirinya berada kembali di Front Line untuk penanganan The Red Plague. Dan kembali ke posisi awalnya sebagai Nomor Seri 41 yang termasuk jajaran penembak.

Banyak sekali orang-orang yang berusaha masuk Athereio dengan ilegal. Juru Tembak Penyusup adalah bagian dari tim juru tembak yang ada untuk melindungi Athereio agar tidak disentuh oleh masyarakat umum.

Karena dikhawatirkan infeksi bisa dengan cepat menyebar karena Athereio adalah pusat dari perawatan pasien The Red Plague. Sayangnya, banyak sekali orang yang ingin melihat saudaranya hingga berusaha menyusup.

Tembakan yang diluncurkan adalah tembakan listrik hingga korban hanya akan pingsan dan dapat diantarkan kembali ke pulau inti yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan kapal dari pelabuhan Athereio.

Setelah mengantarkan korban, para juru tembak akan kembali ke tempat bertugas masing-masing karena banyak sekali yang berusaha melakukan penyusupan ke inti pulau. Ganasnya api krematorium mungkin adalah satu-satunya jawaban untuk fenomena ini.

"Hey, ayo berangkat, kau sudah siap, kan?" Farraz merangkulnya Angga yang melamun.

"Raz, apakah kau berpikir bahwa kita masih bisa sebaik dulu?" Farraz menatap Angga sejenak.

"Pertanyaanmu sedikit menjebak ya, sial sekali." Protesnya sebal.

"Hehe, aku serius. Apakah kita masih bisa menjadi harapan orang-orang?" Farraz tersenyum simpul mendengar pertanyaan itu.

"Aku baru tahu kau ternyata serapuh cermin kamar kita, Ngga. Kenapa tidak sejak dulu kau bertanya pada dirimu? Kenapa kau kembali ke lapangan tembak? Pasti ada alasannya, kan."

Angga menatap jari-jemarinya sejenak, "Aku kembali karena..."

- LOYALTY -

Tidak basa-basi, Farraz menariknya agar segera mengunci garasi dan naik ke motornya. Motor Farraz melaju setelah Angga naik. Keduanya tiba di pelabuhan 30 menit sebelum jam keberangkatan kapal.

Setidaknya itu belum terlambat bahkan sama sekali belum. Keadaan pelabuhan terlihat begitu terang dengan sirene polisi dan ambulan di mana-mana. Terlihat beberapa dokter plague yang mulai sibuk menangani pasien.

Satu di antara mereka adalah Nabiel yang kesusahan berjalan tapi memaksa untuk membantu pemindahan pasien. Di sisi lain, Valora sedang melakukan usaha terbaiknya untuk membantu korban mendapatkan tambahan nutrisi untuk bertahan hidup.

Varen dan Farhan terlihat sibuk mengurus kedatangan pasien dan memindahkan dari ambulance ke dalam kapal besar yang telah siap berlabuh. Tak tampak Nagen bahkan batang hidungnya, entah ke mana pemuda itu.

"Aku rasa kita juga harus langsung bersiap. Kau tunggu dulu. Pakai seragammu dengan lengkap juga! Aku harus menitipkan motorku!"

Farraz berlari kecil menuju pos satpam sementara Angga mempersiapkan diri dan seragamnya. Ia terlihat kesusahan sendiri ketika harus menggunakan baju lain untuk merangkapi baju kainnya.

LOYALTY [ ENDED ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang