14. Xan The Fighter

20 8 0
                                        

11.49 AM

"Woy! Alexan! Apakah kau sudah mendengar kabar bahwa kita mengalami perubahan jadwal mendadak?"

Sebuah suara menyambut Alexan yang baru saja terbangun dari tidurnya. Itu suara Varen dari handphone-nya yang tersambung voice channel di salah satu aplikasi. Entah sudah berapa lama handphone-nya tersambung dengan Varen.

"Shit! Iya! Aku lupa! Bye Varen! See you malam ini!" Alexan langsung memutus sambungan itu dan segera memasukkan Handphone-nya ke dalam saku. 

Ia terlelap di kantornya. Ia masih di gedung Shiba Company sejak pagi untuk mengurus penugasan ke Athereio. Pemimpin perusahaannya sudah mengatakan bahwa ia harus pergi lebih awal.

Tapi sialnya ia lupa dan justru tertidur usai mengirimkan file pada Nagen dan pemimpin perusahaan. Lebih tepatnya ia kelelahan hingga terlampau malas untuk pulang. Ia pikir ia bisa tidur sepuluh menit saja.

"Haduh ... kunci mobil gua mana sih!?"

Dengan panik ia mengacak-acak berkas di atas mejanya, tapi aksinya terhenti saat ia melihat seseorang yang familiar di lorong kantornya itu. Ia menegakkan tubuhnya, menajamkan penglihatanannya. Itu pemimpin perusahaan Dahlia Company, Danali Dahlia!

"SHIT!"

Ia segera menyabet sebuah suit berwarna putih dari kulit dan topeng paruh burung miliknya. Ia harus mencegah mereka sebelum tiba di kantor CEO-nya. Ia harus bersyukur Danali salah memilih lobby.

Dengan terburu-buru ia memasukkan kaki tanpa alasnya ke dalam sepatu boot kulit dan menggunakan baju ketat dari kulit serta jas besar berwarna hitam. Sementara bajunya sendiri berwarna putih senada dengan topeng yang ia gunakan.

Di dalam topeng itu, ia sudah memasukkan beragam herba yang dapat membantunya bernafas relax. Dengan cepat, ia berlari keluar ruangan dan sukses mengejar orang-orang itu. Mengejar Danali.

"KALIAN! BERHENTI!!!"

- LOYALTY -

"Ck, siapa lagi yang mau menjadi pahlawan kesiangan? Oh-oh ... seorang Dokter Wabah ya? Nomor seri 30 ... oh hoho, Alexander Dirgantara, Doctor Xan!" Danali berhenti dan tertawa saat melihat Alexan dengan seragam lengkap Doctor Plague-nya.

"Hahaha, kau juga mau merasakan ini!?" Tanya Danali sembari mengangkat sebuah botol di tangannya.

"Berhenti! Kau membawa celaka ke dunia ini!" Danali tertawa terbahak-bahak.

"Anak kecil sepertimu diam saja!" Tiba-tiba tawanya berubah menjadi sarkas.

Hup! Empat orang body guard Danali meloncat maju melindungi bos mereka.

'Sial ... aku hanya membawa satu pisau. Dan aku tidak bisa mengotori kantor ini, bagaimana jika warga sipil juga terinfeksi?'

Alexan menunduk. Meletakkan pisaunya di lantai. Tapi gigi dan tulang-tulang di tangannya bergemeletuk. Emosinya mulai memuncak. 

"Kau! Kau membawa masa-masa yang muram lagi!"

Dengan sekali tebas, Alexan sukses mematahkan leher dua body guard Danali. Sukses membuat Danali panik dan berusaha berlari akan tetapi Alexan tidak akan berhenti di sana. Selain itu, tubuh Danali sudah lemah karena efek samping virus yang dimasukkan padanya.

Dengan lincah, tubuh kurus Alexan berlari menyela dua body guard Danali. Ditariknya jas Danali dengan kuat. Matanya membara di balik topeng paruh burung itu. Dengan sepenuh tenaga, Alexan membanting Danali ke lantai. 

Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada keempatnya di sana. "Ck. Kau membawa celaka ya rupanya!"

Tatapan Alexan semakin dingin. Ia dengan paksa merebut botol dari tangan Danali. Memasukkannya ke tas pinggang dari kulit yang selalu dimiliki oleh Doctor Plague. Tangannya dengan cepat bergerak mematahkan tangan Danali.

LOYALTY [ ENDED ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang