12.30 PM
Sementara itu Varen masih sibuk berkutat dengan apa yang harus ia bawa karena ia bahkan belum mendapatkan izin dari orang tua satu-satunya, Sang Ibunda. Dirinya menghela nafas sejenak.
Berdiri dan memutuskan untuk turun saat mendengar suara derung mobil mendekati rumahnya. Setidaknya ia berpikir bahwa itu suara kendaraan bundanya.
"Bunda? Oh, Bunda sudah pulang."
Varen menemukan bundanya yang baru saja pulang. Senyuman masam di wajahnya tidak berubah saat melihat Sang Bunda melepas jas Doctor Plague-nya dan meletakkan topeng paruh burungnya di atas rak lemari kayu tua di garasi mereka.
"Maafkan Bunda nak ... bunda terpaksa. Bunda tidak ingin ini menjadi lebih buruk. Selagi kita masih bisa mencegahnya, kan?" Varen mengangguk pelan.
"Bunda, ada yang harus Varen bicarakan..."
Bundanya sudah tahu apa yang akan Varen bicarakan. Tangannya menggenggam pelan tangan Varen, pelan tapi hangat, Varen menggenggam balik tangan bundanya, lebih erat, bak tak ingin melepaskannya.
"Bunda sudah tahu, dan bunda mengizinkanmu berangkat. Berjanjilah untuk menjaga dirimu."
Varen dan Bundanya saling tatap. Kali ini, rasa sakit dan sesak untuk meninggalkan rumah justru membuncah, membuatnya tak ingin melangkah keluar.
"Varen ... Ayah dan Bunda akan selamanya bangga padamu, seorang Vasan Argantara Varen yang kami besarkan sepenuh hati. Okay? Varen harus bekerja keras!"
"Bunda ... Varen minta maaf..." Air matanya meluncur begitu saja. Ia benar-benar merasa sesak harus meninggalkan rumah hari itu.
"Dengarkan Bunda, ya? Varen adalah anak bunda satu-satunya. Varen adalah satu-satunya tumpuan Bunda saat ini. Varen, berjanjilah untuk pergi dengan baik-baik saja dan pulanglah dengan baik-baik saja. You're still my favorite person ever, my son, Varen..."
Varen menghapus air matanya. Sejenak, sesak di dadanya berkurang secara berangsur-angsur. "Bunda, Varen berangkat, ya..."
"Hati-hati, nak. Bunda selalu di sini untukmu, bunda selalu mendoakanmu. Bunda selalu menunggumu."
- LOYALTY -
Varen menatap Bundanya sekali lagi setelah membawa tasnya keluar. "Bunda, Varen janji, Varen akan kembali," Bundanya tersenyum manis.
"Iya nak, berjuanglah," Senyuman pahit dari wajah Varen sudah menggambarkan betapa beratnya ia harus membawa tubuhnya pergi. Sayangnya kakinya pun tidak mau kembali.
"Bunda, Varen akan buat Ayah bangga," Bundanya tertawa kecil.
"You're still everyone's favorite Varen, be a perfect doctor as well as your dad do..."
"Ahaha, yes mom, I will. Varen pergi dulu," Varen meninggalkan rumah setelah melihat Valora menjemputnya di depan gerbang.
Ia menahan air matanya turun lebih deras meski terlihat jelas ada jejak air mata di pipinya. Dirinya kekeh harus pergi, bahwa ia adalah bagian dari orang-orang yang harus menangani wabah itu.
Ia yakin, ia bisa membanggakan kedua orangtuanya dan menjadi dokter terbaik seperti sang ayah pada masa itu. Ia harus bisa membanggakan ayahnya, yang pasti pernah membanggakan dirinya pada orang lain.
"Hey, kau menangis?" Tanya Valora saat motornya sudah berjalan cukup jauh.
"Bisa dikatakan seperti itu. Eoh, sejak kapan kau juga menangis?" Varen menyadari jejak air mata di pipi dan mata sembab Valora terlihat jelas di spion motor, pemandangan langka.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOYALTY [ ENDED ]
Mystery / ThrillerKesetian itu, seperti mawar hitam rupanya. Started at 15 May 2021. Ended at 15 June 2021. Rombak (Revisi) at 15 June 2022.
![LOYALTY [ ENDED ]](https://img.wattpad.com/cover/269530221-64-k356367.jpg)