10.20 PM
Semua orang pulang ke rumah masing-masing setelah semua bagian upacara selesai dilaksanakan. Termasuk Nagen, Alexan, Nabiel, dan Varen. Sementara Farraz yang berhenti sejenak di jalan pun kembali melanjutkan perjalanannya pulang.
Valora juga meninggalkan rumah Farhan setelah selesai makan malam bersama pemuda itu. Di sisi lain, Angga sudah terlelap sejak sore hari karena ia adalah satu-satunya di antara semua rekannya yang sangat membenci kejadian-kejadian di masa itu.
Angga memilih tidur. Ia tidak ingin sedikitpun mengingat kejadian itu. Meski dalam tidurnya pun ia menangis. Ia kehilangan banyak orang. Paman dan bibinya, ayah dan bunda-nya, kedua adiknya, kakek-neneknya, dan bahkan sahabat-sahabatnya.
Sesak di dadanya tidak pernah menghilang. Setiap kali ia mengingat mereka, yang terjadi adalah rasa sakit yang semakin luar biasa sesak di dadanya dan pusing yang tak berhenti di kepalanya. Ia pun dulu hampir kehilangan Farraz, jika saja...
"Angga! Bangun! Kamu belum makan malam!"
Farraz Kaditula, satu-satunya sahabat masa kecilnya yang survive dari kejadian itu. Angga itu pendiam meski cerewet. Farraz adalah sahabat masa kecilnya yang sangat hafal tentangnya dan tidak pernah meninggalkannya. Saat ini pun Angga tinggal di rumah Farraz.
"Eoh ... aku tidak lapar Raz, aku mengantuk..."
"Ck, bangun! Nanti sakit lagi Farraz ga mau tau! CEPETAN ISH!"
Farraz penderita Traumatic Disorder selama bertahun-tahun lamanya setelah The Red Plague berakhir. Angga juga yang ada di sisinya untuk membantunya berjuang melawan itu. Jauh lebih baik. Ia hanya akan kumat-kumatan saat kelelahan.
Farraz masih bersikap seperti anak-anak ketika kelainan itu kumat-kumatan. Setidaknya trauma besar itu sudah menghilang darinya. Meski Angga tahu, semua kenangan tentangnya, tentang keluarga asli Farraz, tentang segalanya, telah menghilang dari ingatan pemuda itu.
Bersamaan dengan sebuah kecelakaan yang membuat Farraz hilang ingatan, "Iya-iya-iya! Bawel deh! Ini bangun nih!"
"Nah, gitu dong! Aku siapin makan malam, cuci muka dulu sana."
"Hmmm..."
- LOYALTY -
Waktu berlalu dengan cepat. Sudah tiga hari terlewati oleh kesunyian di kota karena hari bela sungkawan masih berlangsung. Hari ini kegiatan telah kembali normal dan kedelapan pemuda itu diminta perusahaan masing-masing untuk bertemu di ruang pertemuan Damanik Corp.
Nagen dan Farhan sudah ada di Damanik Corp lebih dahulu, rajin berangkat pagi-pagi. Posisi Nagen sebagai salah satu profiler terbaik tentu tidak bisa dihentikan meski ia memilih role sebagai dokter bedah.
Ia sibuk bekerja membuat spekulasi, mencari bukti-bukti, dan banyak hal lainnya untuk mencari pembunuh akan beberapa kasus yang harus dieksekusi sesegera mungkin sebelum ia pergi untuk penanganan Plague kedua kalinya.
"Hey, Nagen! Farhan! Pasti belum sarapan. Iya, kan?" Valora terlihat aneh hari itu.
"Kenapa dah cengar-cengir kayak kuda begitu? Serem tau!" Protes Farhan curiga.
Ia bahkan langsung memasang wajah geli ketika melihat ekspresi aneh Valora yang terlihat ceria. Tidak cocok dengan cover menyeramkannya yang selalu ia kenakan sebelumnya. Entah ia harus bersyukur atau mual melihat perubahan ini.
"Ini tuh ... Tadaaa! Gaji kita besar, kan? Hehe..." Valora menunjukkan sebuah struk gaji.
"Er ... Nagen punya sih ... tadi..." Nagen mengeluarkan struk gajinya, menunjukkannya pada Valora.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOYALTY [ ENDED ]
Gizem / GerilimKesetian itu, seperti mawar hitam rupanya. Started at 15 May 2021. Ended at 15 June 2021. Rombak (Revisi) at 15 June 2022.
![LOYALTY [ ENDED ]](https://img.wattpad.com/cover/269530221-64-k356367.jpg)