13. On Air FM One Key

22 10 0
                                        

08.20 AM

Sementara itu ... di rumahnya, Farraz terliat panik dan terburu-buru melakukan sesuatu dan terlihat akan meninggalkan rumah. Tapi kali ini ia tidak mengajak Angga. Entah mengapa ia tidak sedikitpun berniat membangunkan Angga yang tertidur pulas di kasurnya.

Ia seharusnya sudah pergi meninggalkan rumah tepat pada pukul 9 pagi hari. Ada kabar buruk yang harus ia sampaikan pada masyarakat. Paniknya lagi-lagi mulai tidak terkontrol sehingga ia kesusahan fokus pada satu hal.

"Sial, aduh, di mana sih tadi kuncinya!?"

Karena tergesa-gesa, dirinya tidak menemukan kunci rumahnya dan memutuskan langsung menutupnya dan meninggalkannya. Ia tidak bisa menunda paniknya. Berita terbaru yang dikirimkan rumah sakit padanya dan teman-temannya membuatnya gelisah.

"Aduh, itu kebo masih tidur lagi. Ini gimana ya? Duh, ntar kalau dia di culik gimana? Ah enggak lah, masa ada orang mau nyulik kebo kaya dia. Aish, udahlah!"

Motor Farraz keluar dari garasi dan dengan kecepatan tinggi menuju studio rekamannya. Kecepatannya mencapai 80 km lebih di jalan raya utama yang cukup padat. Ia harus bersyukur nyawanya selamat.

CITTT!

"Maaf pak, saya terburu-buru. Saya mohon, izinkan saya melakukan siaran!"

- LOYALTY -

Beberapa saat sebelumnya...

Kring~ Click!

Belum berdering lama, Farraz langsung mengangkat telefon itu. Tertera nama Nagenda di layarnya.

"Farraz, ada sesuatu yang dikabarkan oleh perusahaan. Kau dan Angga sudah bersiap untuk pemberangkatan?" Farraz menatap Angga yang terlihat sibuk dengan HP-nya.

"Tidak, kami belum bersiap apapun. Angga sangat susah untuk dibangunkan. Dan sekarang sangat susah untuk dipisahkan dari HP-nya." Terdengar helaan nafas berat dari ujung lainnya.

"Seperti ini ... ada kabar yang kurang menyenangkan. Bisakah kau ke studio rekamanmu sekarang? Berita harus menyebar, detik ini juga." Suara Nagen terdengar sangat lelah.

"Em ... mungkin bisa. Seharusnya bisa, radio sedang kosong belakangan. Banyak penyiar yang mengundurkan diri. Se-darurat apa kabarnya?" Tanya Farraz balik.

"Baiklah, kalau begitu, dengarkan aku baik-baik. Aku akan mengirimkan sebuah file padamu, kau harus membacanya. File itu berisikan kabar dan berita terbaru dari rumah sakit pusat, bacakan saja saat kau sudah On Air."

"Rumah sakit pusat?" Tanya Farraz lagi.

"Iyaaa, astaga, sudah, baca saja. Bisakah aku berbicara dengan Angga?" Baru saja Farraz akan menoleh, Angga sudah terlelap dengan posisi telentang dan HP-nya sudah nyaris terjatuh dari kasur.

"Tidak. Dia tertidur lagi..." Tak terdengar apapun sebagai jawaban dari Nagen.

"... aku tutup dulu, Nagen, aku akan membaca beritanya dan aku akan segera berangkat ke studio. Terima kasih informasinya!"

Beep!

Farraz segera membuka laptopnya, E-Mail dari Nagen sudah masuk atas nama Damanik Corp. Ia membuka file itu dan menatap lamat-lamat isinya. Hingga ia membaca inti dari berita itu.

Deg!

"HAH!?" Matanya melebar.

Dengan terburu-buru ia menyalin data itu ke flashdisk kecil miliknya dan dalam sekejap berubah menjadi panik. Ia pun asal meraih jaket dari salah satu yang ia gantung di lemari.

LOYALTY [ ENDED ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang