11. Sang Parang

24 11 0
                                        

03.25 PM

"Aku pulang dulu."

Valora atau dikenal sebagai Parang adalah satu-satunya dokter bantu operasi yang tidak lagi bertugas setelah wabah usai. Kebanyakan dari dokter-dokter itu masih bertugas, baik itu Nagen, William, dan banyak lagi.

Valora sendiri memutuskan berhenti. Menurut dokter-dokter senior, itu adalah sesuatu yang sangat tidak mereka harapkan karena kemampuan Valora dalam melakukan operasi tunggal sangatlah baik.

Alasan singkat mengapa Valora memutuskan untuk berhenti adalah demi kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sangat khawatir jika Valora kembali berkecimpung di dunia itu lagi.

Keduanya memasukkan Valora ke sekolah keperawatan, bukan ke jurusan bedah. Valora sudah menyelesaikan S1-nya dan tengah melanjutkan S2-nya. Di bidang yang sama, keperawatan dan medis dasar.

Usianya kini genap 24 tahun. Sejak memasuki kepala dua, Valora tinggal sendirian terpisah dari orang tuanya meski tidak terlalu jauh dari mereka. Valora sendiri menganggap dirinya tidak akrab dengan kedua orang tuanya.

Hubungan mereka tidak harmonis. Mengingat keduanya pernah bercerai meski akhirnya mengajukan pernikahan kembali. Ia hanya berusaha memperbaiki hubungannya dengan Varen, adik tirinya. Tidak dengan kedua orangtuanya.

- LOYALTY -

"Ma? Pa? Kalian di rumah?" Valora mendorong pintu rumah kedua orang tuanya. Kosong, lenggang, hanya terdengar orang yang memasak dari dapur.

"Permisi, oh? Bi Nissa?" Valora menghampiri orang yang memasak itu.

"Hah?" Orang itu menoleh, wanita lanjut usia yang sudah lama membakti kepada keluargnya.

"Astaga, Bi Nissa ngapain masak siang-siang begini? Harusnya minta tolong Aden aja buat beliin makanan."

Nissa tertawa, menggeleng pelan, "Tidak-tidak. Makanan rumah saja, Tuan Besar bilang lebih sehat masakan rumah."

Valora duduk di kursi meja makan, padahal tidak ada satu pun dari Mama atau Papa-nya yang di rumah, kenapa Bi Nissa memasak makan siang? Apakah ada tamu di rumah mama papanya ini? Ia rasa tidak.

"Bi, Mama sama Papa di mana?" Nissa berhenti memasak. Terdiam sejenak.

"Mereka mendapatkan panggilan dari rumah sakit, ada sesuatu yang buruk terjadi," 

Perasaan Valora tidak nyaman, sesuatu mengganjal di pikirannya. "Oh gitu ... Mereka tidak menyampaikan kapan pulang?" Tanyanya lagi.

"Tidak Den, harusnya sih makan siang ini sudah pulang. Tapi sepertinya tidak dengan hari ini." Valora menghela nafas.

Ia sudah sangat terburu-buru untuk menyampaikan tugasnya ke Athereio, ternyata kedua orang tuanya sibuk bekerja juga. Ia butuh persetujuan keduanya baru benar-benar menghubungi perusahaan bahwa ia akan ikut serta dalam misi.

"Ya sudah Bi, Aden naik ke lantai dua dulu, ya?" Valora berdiri dan mengembalikan kursi ke posisi semula.

"Iya Den, nanti saat makan siang siap, saya panggil ya."

"Iya Bi, terima kasih."

- LOYALTY -

Kring~ Kring~ Click! "Kak kau sudah siap?" Sunyi... Valora tidak menjawab pertanyaan Varen meski ia sudah mengangkat telefon itu.

"Kak? Hah ... pasti ada masalah kan, di sana?"  Valora tersenyum tipis, adiknya ternyata peka, tidak seperti dirinya.

"Ya, bisa di katakan seperti itu. Kenapa? Kamu sudah siap?" Varen tertawa, tidak langsung menjawab.

LOYALTY [ ENDED ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang