07.20 AM
Nagen sudah pernah ada di posisi itu sebelumnya, kewalahan menangani pasien yang membeludak. Tapi karena harus menangani lebih dari 50 pasien operasi, ia tidak sedikitpun bisa fokus untuk melakukan eksperimen obat-obatan.
Tangannya masih sibuk dengan beberapa jarum jahit. Ada bebera pasien meninggal dunia yang rupanya tidak memiliki keluarga atau sanak saudara untuk mengambil abunya. Sehingga ia mendapatkan izin dari pusat kota untuk menggunakannya sebagai bahan uji coba.
Nagen menjahit dada pasien-nya itu. Pasalnya, meski pasien yang telah di ganti paru-parunya atau di ambil tumornya tetap mengalami alergi tingkat tinggi pada karbohidrat dan glukosa.
Menyusahkan pemerintah dalam memasok pangan ke Athereio karena jenis makanan yang dihindari adalah pangan utama kota itu. Membuat pasokan ke Athereio sebagian besar hanya sayur non-glukosa dan garam bersodium tinggi, Nagen pun sekarang sudah lupa rasa gula.
Kini di sanalah ia. Di laboratorium yang digunakan William untuk memasukkan virus pada Danali Dahlia. Lama ia hanya diam menyentuh satu persatu alat yang dulu pernah ia gunakan.
Sekilas dari matanya, semua orang tahu jika ia sudah berpengalaman ada disana. Meski kini hanya terdengar helaan singkat dari mulutnya. Valora, Nazali, dan Andrew tengah berjuang mengoperasi beberapa pasien akut yang terus berdatangan.
Varen dan Farraz mulai kewalahan harus menggonta-ganti tabung oksigen dan membawa berbagai herba untuk tim operasi yang harus terus mengganti herba di topeng mereka. Tak khayal jika mereka dengan mudah melemas.
Di sisi lain Athereio, Angga, Farhan, dan Alexan tengah menebang pepohonan sembari sesekali membantu memindahkan jenazah dari brankar ke dalam tabung krematorium. Tidak ada yang tidak di kremasi.
Pemerintah bahkan terpaksa melakukan kremasi gratis karena mungkin peluang untuk menguburkan korban sangatlah kecil. Kesibukan Alexan menyiapkan kremasi membuat Nabiel sibuk mencatat data pasien, menggantikannya.
Entah yang mati, entah yang hidup, entah yang baru saja tiba.
Perawat-perawat yang merupakan relawan dari kota tetanggapun telah berdatangan dan tengah simpang siur membantu dokter-dokter di sana-sini. Tampak sangat sibuk, rumah sakit utama itu terdengar lebih ramai dari biasanya.
Nagen menatap keluar. Dari jendela di sisi timur laboratorium, ia hanya bisa melihat kobaran api dari krematorium. Di sisi barat, hanya ada kegaduhan. Laboratorium itu sendiri begitu senyap.
Karena hanya ada dirinya dan dua jasad manusia yang siap digunakan sebagai uji coba dari apa yang Nagen temukan. Akses laboratorium juga sangat dibatasi, bahkan untuk dokter-dokter lainnya.
Sepuluh menit Nagen melamun, matanya berbinar. Tidak kurang, tidak lebih, dalam sepuluh menit saja, muncul sebuah ide di benak Nagen.
- LOYALTY -
Kring~ Kring~ Kring~ Click!
"Valora! Bisakah kau menemuiku di rooftop rumah sakit? Ada sebuah rencana yang harus aku bicarakan. Minta tolonglah pada yang lain untuk menggantikanmu sejenak."
Valora tidak menjawab sebelum ia segera mengiyakan dan menutup sambungan. Nagen bergegas keluar gedung, masuk ke gedung rumah sakit dan langsung menggunakan lift menuju rooftop.
Nagen tahu, padatnya jadwal operasi saat ini. Hanya ada jeda 10 menit antara operasi satu dengan yang lainnya. Itu sebabnya, dulu, dokter-dokter senior berguguran ketika harus mengoperasi ginjal atau hati dari pasien-pasien wabah.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOYALTY [ ENDED ]
Mystery / ThrillerKesetian itu, seperti mawar hitam rupanya. Started at 15 May 2021. Ended at 15 June 2021. Rombak (Revisi) at 15 June 2022.
![LOYALTY [ ENDED ]](https://img.wattpad.com/cover/269530221-64-k356367.jpg)