"Banyak cinta yang datang mendekat..ku menolak, semua itu karna ku cinta kau~"
Dongpyo memperhatikan kuku cantiknya, bunyi notif ponsel mengalihkan pandangan. Ada info penting dari group chat khususnya.
Setelah membaca, ia langsung membangunkan minhee yang tidur di meja belakangnya.
"Hee, bangun! Bentar lagi anak osis razia heh!"
Tak terlalu sulit anak lucu itu bangun, ia mengerucutkan bibir sok imut menatap dongpyo.
"Bukannya sebulan sekali ya? Kan minggu kemaren razia"
"Tau, gabut kali mereka"
"Masih menikmati masa awal tingkat akhir razia mulu kek lagi mangkal"
"Awokwokwok, benda kramat lu dah simpen?"
"Hehe, gue masukin ke dalem sragam"
10 menit kemudian tiga anak osis betulan memasuki kelas mereka. Minhee mendesah lega saat pacar sok galaknya itu tak mendapat bagian kelasnya.
Mengutuk dongpyo yang berhasil kabur diam-diam dan melambaikan tangan dari jendela. Ia tak boleh kalah, benda kramatnya lebih berharga, karena belum dibuka sama sekali.
Butuh acting dan tenaga tambahan, jinhyuk si mata keranjang bisa ia lewati.
Minhee kabur ke ruang uks belakang kelasnya.
"Aduh adem banget suasananya, tidur lagi bentar apa ya. Lagian jamkos"
Minhee merebahkan tubuhnya diranjang uks yang lumayan keras, selimut ia gunakan untuk bantal tambahan.
Hampir tertidur namun suara pintu dikunci buat minhee membuka mata kembali.
"Yunseong?!"
"Ya?"
"Kok tau aku disini sih"
Yunseong hanya mengangkat bahu. "Kamu bisa kabur dari mereka, tapi nggak kalau aku"
Anak tampan itu bersedekap angkuh. Minhee merengek tanpa niat bangkit. Yunseong tersenyum miring mendekat, melepas dasi dan tiga kancing minhee. Tangan besarnya masuk dan meraba sana sini mencari sesuatu.
Minhee dengan nafas mulai memberat ingin mengarahkan jemari panjang itu ke dadanya namun terhenti oleh tatapan mengintimidasi yunseong.
"Udah aku bilang jangan beli ginian lagi, minhee"
"Iklannya mana nahan!"
Yunseong membuang komik hentai minhee ke tempat sampah uks tanpa rasa bersalah, lalu menutupi dengan tisu yang tersedia di meja.
"Kalau ini gapapa, bibir kamu biar makin manis" yunseong menunjukkan pelembab bibir warna pink.
Minhee ya minhee, dipancing sedikit saja langsung girang.
"Ayooo"
Kerah yunseong ditarik sampai tubuh tegap itu berada disekitar kakinya yang terbuka.
"Ayo apa?"
"Ih aku mauuu"
"Mau apa sayang?"
"Mau titit"
Yunseong tidak tahu harus bersyukur apa bagaimana punya pacar seperti minhee. Terlalu berani, tapi dia juga penyebabnya.
Mencengkeram lengan minhee yang kurang ajar memompa kejantanannya dari luar celana. Gembungan besar itu buat minhee berbinar.
Tak mau lama-lama, yunseong segera menyatukan bibir mereka dan melucuti celana minhee. Membuat penis kecil itu tegang sampai merah juga kerutan sempit pacarnya sedikit basah.
Ia angkat sedikit pinggul ramping kesukaannya lalu mendorong masuk perlahan. Minhee menjambak rambut yunseong karena bibirnya terus dikulum.
"Nghhh-yunseonghh"
Sakit dan nikmat, minhee pasrah saat lubangnya dihajar yunseong.
Walau terkunci juga jendela tertutup gorden, desahan minhee itu berisik, yunseong harus mendekap bibir bengkak itu dengan tangan.
.
End
