the light

1.2K 90 5
                                        





"Lubang sialan"

Yunseong terus menggerakkan pinggulnya terburu, tak peduli minhee sudah kelelahan dan mulai kesakitan.

Saat puncaknya akan datang, yunseong merendahkan tubuhnya, melumat bibir minhee dengan geraman tertahan menyemburkan maninya didalam sana.

"Sssh-nanti anterin aku pulang ya seong"

"Gue bisanya besok pagi, ada acara"

Yunseong menyelimuti tubuh telanjang minhee lalu ditinggal begitu saja. Tak pernah bersikap lembut pada pacarnya sendiri bahkan saat bersetubuh.

Walau tak nyaman, lelah membuat minhee tertidur.

.

Memutar bolpoin ditangannya bosan, lapar pun tidak. Biasanya ada minhee yang membawakan bekal untuknya, pacarnya itu tidak masuk sudah dua hari ini.

Minhee tak mengabarinya sama sekali, yunseong terlalu gengsi untuk menghubungi duluan.

Kaki jenjangnya berjalan ke meja junghwan, buat ketua kelas itu mendongak bingung.

"Minhee kemana?"

"Lo kan pacarnya? Masa tanya orang lain?"

"Jawab aja"

Junghwan memutar matanya malas, "sakit disurat ijinnya"







Pulang sekoalah yunseong menekan egonya, datang ke rumah minhee untuk menjenguk. Belum pernah kesana padahal sudah 4 bulan ia memaksa minhee menjadi pacarnya.

Rumah modern tapi minimalis itu yunseong ketuk pintunya. Wanita tak muda namun masih cantik muncul, membungkukkan badan sopan, yunseong berterimakasih saat dipersilahkan masuk.

Meminum sedikit teh buatan ibu minhee, tersedak mendengar penuturan wanita ramah itu

"Minhee hamil, kamu tahu?"

"Saya-"

Ibu minhee mengangguk, "ibu tahu kok. Kamu yunseong, pacar minhee"

"Maafkan saya"

Pemilik rumah panik saat pemuda itu tiba-tiba bersimpuh dihadapannya.

"Yunseong, tak perlu begini nak"

"Saya sudah jahat dengan anak ibu"

"Minhee sudah baik-baik saja. Tapi kehamilannya rentan sekali, ia gampang lelah. Mungkin nanti ibu akan mengurus surat minhee keluar dari sekolah, sayang ya..padahal baru mulai tingkat akhir...dan minhee tidak ingin kamu tahu"

Yunseong meremat kepalanya, ia sudah menghancurkan impian anak cantik itu.

"Apa ibu tidak marah?"

"Awalnya marah sekali, pada putra kesayangan ibu, pada kamu. Tapi semua sudah terjadi, masa mau memperburuk suasana"

Senyum wanita itu memudar melihat minhee keluar dari kamar.

"Yunseong?"

"Minhee, kesini sayang"

Melangkah ragu-ragu mendekati sofa. "Dia ngapain kesini bu?"

"Nggak boleh gitu, kalian ngobrol ya"

Ibu minhee memberi waktu keduanya berbicara, minhee tak nyaman sama sekali, ingin rasanya berlari kembali ke kamar.

"Gue akan tanggung jawab"

Minhee menoleh dan langsung menangis, yunseong meraih tubuh ramping itu dan dipeluk erat. Mengusap kepala minhee dan berbisik, "maafin gue"

"A-aku juga salah"










Malamnya yunseong membawa minhee kerumahnya. Saat kedua orangtuanya ada, tak seperti biasa selalu sibuk.

Saat diberitahu, mama yunseong menangis kencang, mendekati minhee dan menyentuh pundaknya. "Kamu baik sayang? Ada yang sakit? Bilang sama mama"

Minhee menggeleng, mengusap air matanya yang ikut menetes, terkejut karena mengira akan diusir.

Suara pukulan membuat keduanya tersentak, yunseong tersungkur saat sang papa memukul rahangnya. Minhee hendak menolong namun tangannya dipegang nyonya hwang, wanita anggun itu menggeleng.

"Jangan buat malu lagi, setelah lulus nikahi dia"
Ucap tuan hwang setelah memberi satu kali lagi pukulan untuk anaknya

Yunseong mengangguk, minhee baru boleh menghampiri, si manis menangis tersedu buat yang dipukul diam-diam tersenyum geli.

"Udah, gue gapapa"

.

4 bulan setelahnya

Dengan perut yang sudah kentara buncit, minhee dirumah mengenakan baju terusan selutut.

Untuk yunseong, setelah dihajar papanya waktu itu meminta tinggal dirumah minhee. Setelah sekolah akan kerja paruh waktu di minimarket.

Pulang pukul setengah delapan malam, mandi lalu menyusul minhee ke kamar setelah makan masakan ibu. Kadang belajar dulu sebentar, atas paksaan minhee tentu saja.

"Sini punggungnya aku urut"

Minhee melepas kaos ayah dari anak dikandungannya itu, punggung lebar yang sering ia puja terpampang, minhee membaluri minyak angin pelan-pelan.

Jari lentik minhee mulai memijat teratur, yunseong sampai mengantuk karena keenakan.

"Udah"

Minhee memakaikan kaos yunseong kembali, tersenyum manis ketika yunseong mengucapkan terimakasih.

"Lo cantik banget, hati lo baik. Gue beruntung banget bisa milikin lo"

Salah tingkah parah digombali pertama kali, tapi minhee bisa langsung tenang "Anakmu mual dalem perut nih"

Telunjuk besar yunseong menyapa perut minhee. Lalu mendekatkan wajah mencuri kecupan dibibir minhee.

"Ih, bau minyak gosok!"

Yunseong hanya tertawa gemas melihat calon istrinya berbaring memunggunginya.

Ia ikut berbaring dan memeluk tubuh atas minhee erat. "Biar lo bau minyak juga"

Malam ini mereka tidur dengan nyenyak sambil tersenyum.









.

End

Energetic selesai!
Terima kasih telah membaca❤

Sekalian promosi ya, hehe
Nanti mau ak pub

Sekalian promosi ya, heheNanti mau ak pub

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Energetic | Hwangmini✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang