Minhee mengulum bibir sebentar, masuk setelah mengucapkan terima kasih pelan ke penjaga pintu restoran. Menuju pria duduk pinggir jendela mengenakan kemeja biru muda, rambut tertata rapi.
"Yunseong?"
"Ah, kamu sudah datang?"
Minhee hampir meraih kursi namun yunseong segera mengambil alih. Mereka saling tersenyum malu-malu, awalan yang manis.
Mereka menunggu makanan pesanan yunseong sembari mengobrol ringan. Seakan sudah kenal lama, bahkan yunseong lancar sekali mengutarakan rayuan klasik ke minhee.
Dasarnya minhee memang ramah, ia mampu mengimbangi topik pembicaraan pria yang dikenalkan junho untuknya ini.
"Gimana perkembangan kalian?"
"Hehe, makin bagus keknya. Ini gue nunggu yunseong jemput didepan kantor"
"Iyasih dia gampang bucin kalau dah naksir. Tapi dia cerita nggak soal gangguannya?"
"He?"
"Loh, enggak? Dia punya kepribadian ganda min, karena ini dia nggak mau ada hubungan sama orang. Tapi pas gue kenalin sama lo, langsung mau"
"Diri yunseong yang satunya gimana? Psikopat gitu?"
"Nggak lah anjer, cuma posesif sama agak kasar gitu. Setau gue udah lama nggak muncul"
Minhee menggigit bibir bawahnya "Kenapa lo nggak bilang?"
"Gue pikir yunseong bakal bisa bilang sendiri. T-tapi lo bakal ninggalin dia abis gue kasih tau?"
"Cha junho bangsat"
"Min! Jan-"
Pip, telfon dimatikan. Minhee menekan nekan dahi mulusnya. Dia juga menyukai yunseong, tapi tadi itu mengejutkan sekali.
"Jadi gue macarin dua orang dalam satu tubuh gitu? Wow kang minhee"
Mobil sedan hitam yunseong berhenti tepat didepannya. Minhee langsung menubruk pria hwang itu dengan pelukan eratnya.
"Ada apa hee?" Heran namun membalas rengkuhan pujaannya.
Minhee menggeleng, mengusakkan wajah ke dada bidang yunseong tanpa tahu yang dipeluk mulai bergetar matanya.
Diperjalanan minhee memaki maki junho lewat pesan guna melampiaskan pikiran ruwetnya.
"Siapa yang chat?"
"Eh? Temen kerja tadi"
Yunseong mengangguk, minhee terdiam baru sadar nada bicara yunseong lebih kaku. Saat menoleh, pria itu pun melihatnya dan memberi senyum tipis.
Minhee merinding.
Sampai didepan rumah minimalis minhee, yunseong membukakan pintu mobil. Minhee mengucapkan terimakasih secara manis tapi pundaknya didorong hingga sebagian tubuhnya menabrak mobil.
"Kalau lagi sama aku, jangan fokus ke hal lain. Aku nggak suka"
"Yuns-"
Bibir minhee dicium tiba-tiba, yunseong memagut kasar belah tipis kenyal minhee. Pundaknya ditepuki lalu ciuman turun ke leher, minhee berusaha menahan lenguhannya.
Meninggalkan beberapa jejak basah, yunseong menjauhkan diri.
"Aku-"
Minhee tersenyum, "besok aja ya. Aku pulang agak awal besok. Kamu istirahat aja malam ini"
Mengusap perhatian kantung mata yunseong yang menebal.
"Aku pulang dulu"
Yunseong masuk mobil setelah mengecup punggung tangan minhee.
"Jadi ini diri yunseong yang lain?"
Minhee melongo merasa satu kancing atas bajunya lepas.
"Ahh-pelanin"
Yunseong tetap terburu menabrakkan kepala penisnya digumpalan nikmat minhee. Yang ditunggangi hanya bisa melampiaskan selain dengan rematan dan cakaran ke bisep sang dominan. Yunseong begitu panas, buat minhee gila, sudah lama tak merasakan jamahan intim begini.
"Eghh"
Geraman keras yunseong terdengar juga spermanya menyembur deras, membanjiri minhee yang sudah keluar lebih dulu.
Tubuh lunglai minhee sudah terbaring dimeja makan, yunseong tersenyum lalu menyatukan kening mereka.
"Yunseong..."
"Hm?"
Mereka saling menatap disela nafas yang masih sama-sama tersenggal.
"Ini yunseong yang lain?" Tanya minhee selembut mungkin, tangannya merapikan rambut gelap yang sempat ia jambaki tadi saat yunseong agak memberi jarak.
"Iya, kamu takut?"
"Nggak"
"Kamu udah tahu kekuranganku, kamu boleh pergi minhee"
"Kamu ngusir aku setelah kamu nikmatin tubuh aku?"
Yunseong terkekeh, "aku dan dia cinta sama kamu"
"Yaudah nggausah ngusir"
"Kamu-"
"Iya." Potong minhee cepat.
Yunseong mengangkat tubuh minhee.
"Mau kemana?"
"Lanjut dikamar mandi, masa cuma satu kali doang"
.
End
Yg buat kalian jadi fujo ap?
