Mendapat kabar dari changuk, minhee lekas menuju klinik kampus. Sampai disana, ada dua teman yunseong kelihatan panik.
"Kalian balik aja, gue bisa jagain"
Mereka pergi setelah minhee mengucapkan terimakasih. Mereka juga berpesan menunggu petugas, padahal yunseong tidak akan sembuh dengan itu.
Wajah pucat kekasihnya membuat minhee menghela nafas, pasti yunseong lupa bawa minum lagi. Ditutupnya tirai pembatas, minhee mencari benda tajam diranselnya. Hanya ada gunting.
Minhee berusaha mengiris kulit pergelangan tangannya. Hingga darah menetes tepat dibelah bibir yunseong. Menggigit bibir bawah sendiri menunggu reaksi si hwang.
Seperti yang pernah terjadi. Mata tajam itu terbuka, langsung merain tangan minhee dan menghisapnya penuh nikmat. Namun hanya sebentar sampai si cantik heran. Tak lupa yunseong menjilat sekilas luka ditangan minhee, dan langsung hilang-mulus seakan tak pernah disayat.
"Segitu doang? Tumben?"
Yunseong tersenyum lemah, duduk dan menepuk pahanya. Minhee paham dan naik ke ranjang lebih tepatnya ke paha yunseong.
Mengendusi leher putih minhee, dipeluknya tubuh sang pujaan erat. Taring yunseong keluar, dengan pelan menancap dan menghisap darah manis minhee.
"Ugh-nanti ada yang liat"
Yunseong tak peduli, semakin memeluk erat dan tetap meminum darah kesukaannya dengan rakus.
"Kalo kamu mati ya tinggal aku gigit, nanti jadi kaya aku"
Kerlingan jahil yunseong membuat minhee mencebik. Dia belum mau diubah menjadi vampir.
"Sini seong"
Yunseong menurut, menghampiri minhee dan masuk ke selimut yang sama. "Kenapa?" Diam saja saat minhee merabai dada bidangnya.
Terkekeh, "kamu agak cair ya kalo sama aku. Nggak kaya vampir....bahkan pelukan kamu rasanya hangat"
Yunseong mengusap sayang punggung sempit sang kekasih. Mereka bertatapan dengan penuh cinta. Minhee naik ke tubuh besar yunseong dan menubrukkan bibir mereka.
Saling memakan bibir satu sama lain. Minhee sukarela membuka mulut saat lidah tebal yunseong mengetuknya. Mengerang saat lidah pendeknya diajak bergulat.
"Kita harus melakukannya"
Jempol yunseong mengusap lelehan saliva di sudut bibir minhee. "Seperti biasa aja ya? Aku masih takut"
"Apasih, ayoooo"
Biasanya minhee hanya akan dimanjakan yunseong dengan handjob atau jari panjangnya yang menerobos. Bukan penyatuan yang sebenarnya. Maka kali ini minhee ingin keduanya saling memuaskan.
Yunseong tak ingin minhee kecewa, akhirnya mengangguk. Mereka bertukar posisi. Yunseong dengan lembut menelanjangi minhee dan memberi pemanasan seperti biasa.
Minhee gelisah sendiri melihat penis yunseong terpampang. "B-boleh aku pegang?"
Minhee merengut saat tubuhnya dibanting, "aku maunya dilubang kamu"
Minhee kegirangan meraih leher yunseong untuk dipeluk. Namun menangis saat lubang sempitnya mulai dimasuki. Yunseong terus menatap minhee agar bisa menahan diri supaya tenaga vampirnya tidak keluar.
"Oh! Aghh-" sudah masuk sepenuhnya yunseong langsung bergerak teratur
"Y-yah terussh"
Minhee mendesah teputus saat tubuhnya dibuat menungging. Tangannya bergetar meraih penisnya sendiri untuk dikocok. Gerakan yunseong mulai cepat. Pinggangnya dipegang sangat erat, dan dia suka.
Bibir bengkaknya terus terbuka menyebut nama yunseong kepayahan. Punggungnya sesekali melengkung menerima tusukan penis yunseong tepat di titik nikmatnya.
"Ngah!"
Minhee sampai duluan, tangannya terkulai dengan tubuh terhentak kencang. "Sshhh-yunseong"
"Bentar lagi"
Tiba-tiba perutnya dipeluk hingga posisinya jadi duduk, yunseong masih bergerak kasar. Dagunya diraih dan yunseong mengajaknya berpagutan panas.
Menggeram tertahan, penis yunseong menancap dalam-dalam. Pelukan diperut minhee terlepas lalu merosot terbaring tengkurap. Sperma yunseong mengalir pelan dari lubang merah muda minhee.
Yunseong segera memakai celana sebelum ingin mengulangi lagi. Membersihkan selangkangan minhee dengan tisu, lalu memakaikan baju.
"Maaf hee, nanti pasti ada biru di badan kamu"
"Nggak apa, tadi itu enak banget hehe"
Harusnya yunseong tak usah minta maaf.
.
End
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.