Suara musik terdengar sayup-sayup. Yunseong memakai jaket biru sebagai penyamaran terakhir. Memarkirkan mobilnya, lalu masuk, sudah diurus sedemikian rupa oleh atasannya sehingga dia bisa melewati security dengan mudah.
Bau alkohol membuatnya mengernyit, mata tajamnya segera menyapu seisi tempat. Punggung sempit dengan kemeja abu tua langsung membuatnya menyeringai.
Targetnya sudah ketemu. Kang minhee, anggota dari pengedar senjata ilegal di kota. Salah satu buronan yang sangat sulit ditangkap.
Dengan langkah pasti, tungkai jenjangnya terayun menuju lelaki incarannya.
"Boleh aku duduk disini?"
"Tentu saja, tuan"
Kang minhee ini. Parasnya lebih indah jika dilihat langsung. Suaranya merdu dan manis bagai madu. Yunseong menggeleng kecil menyadarkan dirinya sendiri karena sempat terpesona.
"Tuan, aku jarang melihatmu. Pengunjung baru ya?"
Tanya minhee dengan kepala berbaring dimeja menatapnya. Senyum cantiknya bahkan tak luntur, mungkin efek sedikit mabuk.
"Aku tadi lewat dan tertarik berkunjung. Kalau kamu pelanggan tetap disini?"
"Nggak juga. Taeyoung, si barternder kurang ajar itu selalu melarangku berlama disini. Alasannya khawatir, cih"
"Kamu pasti punya banyak teman"
"Tidak, pekerjaanku sangat beresiko. Bos bahkan menyuruhku berhenti, katanya aku terlalu cantik dan pintar. Apa aku cantik?"
"Jujur saja kamu memang cantik, ..."
Minhee tersenyum miring, "namaku minhee"
"Yunseong"
Bagaimana bisa yunseong malah menyebut nama aslinya. Tapi tak apa, toh sebentar lagi minhee pasti dia tangkap.
Mereka betah bertatapan, saat tangan putih minhee terulur menyentuh dada bidangnya-juga turun ke lengan, yunseong menahan nafas.
"Mungkin aku memang harus berhenti bekerja dengan bos, supaya aku bisa menikmati hidup"
Yunseong tersenyum, menangkap tangan minhee dipundaknya untuk digenggam dan diremas lembut.
"Tuan, kamu tampan sekali. Apa boleh aku meminta sesuatu?"
"Meminta apa?"
Minhee berdiri sempoyongan lalu sengaja menubruk tubuh yunseong. Memeluk leher yunseong dan menyatukan kening mereka. Minhee terpejam sejenak lalu menatap si tampan tepat dimata.
"Malam yang panas, kita berdua. Mari memesan kamar, yunseong"
•••
Minhee tak bisa menahan girang saat yunseong melepas kaosnya, sangat sexy hingga membuatnya ingin menggigiti seluruh tubuh atletis itu.
Yunseong menunduk menjemput ciuman lagi ke bibir minhee yang sudah bengkak dia hajar tadi. Dengan tergesa tubuh bawah minhee ia telanjangi.
"Kamu tidak sabaran sekali, bikin aku makin panas" bisik minhee didepan bibir sang dominan.
"Mulut nakalmu itu, dan kamu sudah basah disini"
Pekikan manja minhee mengalun saat yunseong menyapa lubangnya. Apalagi ketika telapak kasar itu menangkup penisnya. "Dia memerah dan tegang, sepertimu"
"C-cukup, kamu bisa masuki aku sekarang yunseong"
Yunseong melebarkan paha minhee. Giginya bergemelatuk menahan gairah, mengeluarkan penis besarnya dan memompa sampai ukuran maksimal. Begitu tegak menantang membuat minhee agak takut, namun mencoba rileks dan makin melebarkan kangkangannya.
"Siap sayang?"
Minhee mengangguk, matanya otomatis terpejam merasakan benda padat bertekstur itu menerobosnya.
"Y-ya tuhan...yunseong!"
Yunseong menyeringai dan langsung menumbuk kasar saat sudah masuk seluruhnya. Menunduk mengulum dada minhee bergantian, jambakan dirambutnya menandakan minhee menikmati permainan mereka.
"Eghh-nikmat kan?"
"A-akhh! Disitu!"
Beberapa tusukan kencang lalu minhee orgasme hebat. Yunseong memelankan gerakannya menikmati ekspresi wajah kemerahan cantik lelaki yang ia kukung. Ekspresi yang mampu membuatnya ikut orgasme.
Minhee bergetar memeluk pundak lebar yunseong. Pria itu bernafas terengah dilehernya.
"Aku nggak tau kamu bakal sehebat ini"
"Kamu yang buat aku lepas kendali"
Minhee terkekeh, diam-diam tangan kirinya masuk ke balik selimut disamping mereka yang tak berubah posisi.
"Mau ronde selanjutnya?" Ucap yunseong dengan suara rendahnya.
"Boleh"
Yunseong tersenyum, hendak bangkit namun terdiam saat lehernya terasa ditusuk oleh sebuah jarum.
Jelang sedetik tubuhnya lemas, tak bisa digerakkan. Sialan, itu obat bius.
"Kan sudah aku bilang. Kata bos, aku terlalu cantik dan pintar. Tenang saja, biusnya hanya bertahan setengah jam kok" ucap minhee santai. Mendorong badan yunseong berbaring, lalu menyelimuti. Ia turun dari ranjang mengenakan pakaiannya.
Sebelum keluar, minhee menyempatkan diri mengecup bibir tebal detektif yang sudah ia kelabuhi.
"Aku tidak bohong soal permainan sex kamu yang hebat, sampai berjumpa lagi, tampan!"
Yunseong menatap langit-langit kamar setelah minhee betulan pergi. Lalu tersenyum tipis. "Keparat kecil, ya...semoga kita bertemu lagi"
.
End
