Minhee mengetukkan pulpennya ke dagu, bukannya mencatat poin yang dijelaskan kak pacar malah dia sibuk melihat urat lengan yunseong menimbul jelas karena kemejanya digulung.
Mana kemejanya hitam pulak.
"Heh, malah ngelamun"
Minhee mengerang, pulpennya dilempar sembarang. "Main aja yuk kak, lagian besok kan hari minggu"
"Main?" Yunseong menaikkan sebelah alisnya, melirik ke ranjang empuk milik pacar lucunya.
"Ih! Bukan main itu, y-ya main apa kek uno kek gitu" jelas minhee dengan wajah memerah.
"Iya iya, yang kalah dicubit pinggangnya"
"Cubitan kakak sakit! Gamau!"
"Yaudah, cium aja"
"O-oke"
Bukannya duduk dihadapan yunseong, minhee malah melebarkan kaki sang pacar dan duduk ditengahnya.
••
Sama-sama kelebihan hormon, keduanya tetap saja akan keblabasan. Minhee kalah dan menerima ciuman yunseong sampai hampir pingsan, pacarnya itu tidak bisa lembut sedikit apa jika sedang bernafsu
"Mmhh-"
Minhee mengernyit keenakan saat yunseong melepas lumatannya, jarinya dibawah sana bergerak keluar masuk semakin cepat.
Anak cantik itu kesal jika yunseong kumat mengerjai tubuhnya. Bukannya langsung keinti, malah menjadikan tubuh minhee sebagai mainan.
Minhee sudah telanjang total, yunseong masih pake celana.
"C-capek kak, abis ini udahan ya"
"Loh, kakak belum masukin kamu"
"Kenapa-ah!!cum!" Minhee merapatkan kakinya saat pelepasan yang kedua datang, tiga jari yunseong masih bergerak. Menunggu minhee benar-benar selesai baru mencabut jarinya.
Rengekan minhee keluar ketika yunseong melebarkan kakinya, menghentak penisnya masuk begitu saja. Tubuh ramping minhee sampai terhentak ke atas, pukulan tangannya mengenai kepala yunseong karena kesal.
"Bisa pelan nggak sih?! Pinggang aku mau copot nih!"
Yunseong menulikan telinganya, menggenggam tangan minhee lalu dibawa ke atas pemuda manis itu. Mulai menggerakan pinggul, kepalanya mendekat ke dada minhee menjilati puting tegang itu.
"Ah-sempit banget dek"
Yunseong merem melek keenakan mempercepat gerakan, tak menuruti permintaan minhee untuk melepas cengkraman tangan si cantik.
.
End
