chapter 8 - teleportation

15 3 0
                                        

Aku takut sendirian, dia akan menelanku bulat-bulat.

***

Tera pikir, hidup di dunia mimpi akan lebih menyenangkan. Ia punya banyak teman, orang tua yang selalu meluangkan waktunya, dan bisa pergi ke mana pun. Itu semua adalah keinginan gadis itu sejak kecil.

Namun, traumanya terhadap mimpi kini terulang kembali. Ia ingin berhenti dan berusaha untuk tidak menjalani kehidupan di mimpinya yang panjang itu, tetapi ada satu alasan kenapa ia tetap menjalani hari sebagai Tera di dunia aneh itu. Hidupnya selalu terancam apabila ia tidak berbaur dengan orang-orang. Seperti saat ia disekap Rain waktu itu. Jadi, ia tetap bersekolah layaknya orang sana.

Makanya ketika diminta untuk ikut klub drama, Tera mau saja karena akan terhindar dari Rain yang selalu muncul di mana saja. Padahal aslinya Tera tidak berharap bisa menjadi tokoh utama atau bahkan mendalami kehidupan itu. Ia hanya ingin pulang.

Cahaya matahari yang seperti baru terbit menerobos masuk dengan leluasa lewat jendela kamar. Terangnya langsung mengenai mata sehingga mata gadis itu bisa terbuka lebar.

Entah kenapa kali ini gadis itu merasa tubuhnya berat sekali. Kerongkongannya terasa kering dan pusing melanda hebat kepalanya.

Tera menghadap ke jendela, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Seolah telah lama tidak menikmati sejuknya suasana pagi yang cerah.

"Tera? Apa kamu sudah bangun?"

Matanya langsung mengamati sekitar, mencari dari mana suara itu berasal. Lalu, matanya mengarah tepat pada sebuah layar televisi besar tepat di hadapannya tidur.

Sosok mamanya muncul setengah badan di layar televisi besar itu. Wanita itu terlihat sedang sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya sambil sesekali melirik ke arahnya. Sebelah kanan tangannya memegang ponsel di samping telinga.

"Nona? Bagaimana perasaan Nona?"

Menoleh ke samping, Tera mendapati seorang perempuan berusia 20-an tahun ke atas. Lalu, disusul sekitar tiga orang perempuan lain yang memakai baju seragam hitam putih.

"Kalian siapa?" tanya Tera karena wajah mereka tidak ia ingat.

Mereka langsung canggung, mungkin karena Tera menanyakan sesuatu yang kurang mengenakkan. Mereka memandang satu sama lain agar salah satu saja yang menjawab.

"Uh, sebenarnya, kami—Nona akan saya panggilkan dokter sekarang juga," jawab salah satu dari mereka yang paling depan. Ia kemudian berjalan keluar dari ruangan besar ini.

Tidak begitu mengerti, Tera hanya diam saja. Ia merasa tubuhnya sangat lemah, hanya untuk duduk saja tidak kuat. Akhirnya, ia tiduran saja sembari menunggu dokter yang dipanggil perempuan tadi. Juga menunggu Claire mengajaknya berbicara lagi.

"Mama sedang apa? Aku haus," ujar Tera dengan suara lirih tidak bertenaga. Ia berusaha bangkit dari tidurannya, tetapi tidak kuasa.

Lalu, sebuah tangan mengulurkan gelas berisi air putih. "Ini minum Nona."

Melirik sebentar, Tera menerima saja gelas itu daripada dirinya tidak kuat lagi. "Makasih."

"Dengan senang hati, Nona."

Sembari dibantu duduk untuk minum, ia melirik perempuan yang memberinya air itu. Ia heran kenapa banyak sekali orang di ruangan ini.

Namun, keheranannya itu segera berakhir saat perempuan pertama memasuki ruangan bersama seorang pria paruh baya yang memakai jas putih. Bersamaan dengan itu, ia menyelesaikan minumnya dan tubuhnya sedikit bertenaga.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang