chapter 18 - another world

16 3 0
                                        

Setelah bangun, kukira semua rasa sakit itu menghilang, ternyata itu adalah bagian dari hidupku.

***

Pagi ini, hujan deras mengguyur kota yang selalu suram itu. Awan hitam yang selama ini selalu menyimpan begitu banyak air, kini diperasnya turun ke bumi.

Perasaan Tera sedikit tidak enak. Ia kesal dalam hati saat menyadari dirinya tanpa sengaja berteleportasi ke dunia nyata tanpa disadarinya. Entah kenapa setiap teleportasi ke dunia nyata, ia tidak ingat kejadian sebelumnya. Dan selalu merasa linglung ketika terbangun.

Lalu, kini dirinya kembali ke dunia mimpi lagi.

Wangi petrikor menyambut Tera ketika ia keluar dari mobil. Telah lama tidak mencium bau sesegar ini membuat Tera melayang. Di dunianya pun biasanya hanya panas, meskipun akhir-akhir ini ia tidak tahu sedang musim apa.

"Jangan pulang dulu sebelum Papa jemput, ya," ucap Mike ketika Tera hendak menutup pintu mobil.

Ya, hari ini, Tera mulai bersekolah lagi. Kedua orang tuanya sudah mulai melonggarkan Tera lagi. Meskipun hubungan keduanya malah semakin buruk. Tera tahu dan menyadari, setiap malam mereka tidur terpisah, beberapa kali berdebat dengan suara teriakan. Ia juga sadar ketika dirinya pamit keluar dengan Arvie kemarin, kedua orang dewasa itu bertengkar lagi. Dapat ia lihat dari sisa pecahan vas bunga lain yang ada di ruang tamu.

Tera mengangguk. "Papa baik-baik saja?" tanyanya, melihat pria itu memberi plester pada dahinya.

"Tenang saja, Papa baik, kok. Terima kasih sudah bertanya." Ia mengacak rambut putrinya, lalu membiarkan putri satu-satunya itu memasuki gerbang sekolah.

Awalnya, Tera memang ingin menolak ketika orang tuanya berkata ia sudah boleh kembali bersekolah. Kejadian waktu itu dan perlakuan mereka terhadapnya membuatnya takut. Akan tetapi, dengan ini ia bisa keluar dari rumah.

Ada satu hal juga yang ingin ia tanyakan kepada Arvie atau Altha. Bagaimana kemarin dirinya bisa sampai di rumah tanpa sadar? Ia ingat saat pingsan masih berada di ujung jalan itu, tetapi ketika terbangun sudah berada di dalam rumah saja. Sama seperti waktu itu saat Altha mencoba meneleportasinya ke dunianya.

Tera tidak akan berasumsi lagi bahwa dirinya di tubuh ini melakukan kegiatan itu sendiri. Maksudnya, ia yakin jika dirinya pindah dunia, tubuhnya yang satu lagi hanya akan tidur. Buktinya saat waktu itu dirinya keluar dari sini karena mantra dari Altha, ia terbangun di dunia ini dua hari kemudian, dengan pakaian dan penampilan yang sama seperti terakhir kali.

Meskipun sebenarnya agak sangsi mengingat saat pertama kali datang ke dunia ini, ia berada di depan kelas, seperti tengah melanjutkan kegiatan seseorang. Di kedua kalinya pun sama. Ia terbangun di dalam kelas.

"Arvie!" panggil Tera sedikit keras saat ia tiba di koridor dan melihat sosok senior kelasnya yang tengah berjalan berlawanan arah.

"Hai! Apa kabar? Akhirnya, kamu sekolah lagi," balas Arvie dengan nada ceria. Laki-laki berambut hitam berponi itu berjalan mendekati Tera.

"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku ingin bertanya sesuatu," ujar Tera. Pandangannya mengarah pada sekitar yang lumayan ramai karena ini koridor persimpangan. Ditambah bel masuk akan berbunyi sekitar sepuluh menit lagi, jadi sedang ramai-ramainya karena mereka pasti tidak ingin telat masuk.

Tahu kondisi dan maksud tatapan Tera, Arvie berkata, "Sepulang sekolah, kita pulang bersama dan membicarakan hal itu."

"Kita akan ada latihan klub drama sepulang sekolah, bukannya?" tanya Tera yang sudah memprediksikan hal itu. Ia juga sudah berkata kepada papanya agar menjemputnya agak sore karena ia akan ikut latihan.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang