Entah berapa banyak air mata yang telah keluar selama ini.
***
Pagi itu Tera memasuki rumah Haiva dari pintu belakang. Masih terlalu awal dan belum ada yang bangun di keluarga itu. Tera dengan jiwa separuhnya adalah Ona menaiki tangga menuju lantai atas. Dibukanya setiap pintu ruangan di sana, tetapi ada yang terkunci dan ada juga yang kosong, hingga sampailah di pintu terakhir yang benar sekali itu kamar Haiva.
Tanpa mengetuk pintu, ia masuk saja ke ruangan berlampu warna-warni itu. Kehadirannya disambut terkejut oleh Haiva yang sedang duduk di kursi belajarnya.
"Tera? Ada apa? Kamu tidak bilang kalau akan ke sini," ujar Haiva dengan nada tidak suka. Mungkin karena terlalu pagi dan sangat mendadak.
Tera tersenyum lebar. "Haiva, aku boleh minta waktumu sebentar, 'kan? Ini tidak akan lama, kok."
"Ya?" tanya Haiva.
Tera ingat jelas ekspresi ketakutan Haiva saat itu. Gadis itu menyadari dirinya bukan Tera, melainkan Tera hanya melihat, tidak melakukan. Semuanya dilakukan oleh Ona. Pantas saja Tera pernah merasa familier dengan ruangan itu.
Mulai dari menarik tangan Haiva, menyeretnya keluar, tetapi tidak berhasil pada percobaan pertama.
Saat itu wajah Haiva ketakutan sampai berkeringat dingin. Ia bahkan mundur-mundur tanpa ingat jika di belakangnya ada kasur yang sudah ia tata rapi. Dan terjatuhlah ia di sana karena didorong terus oleh Ona.
"Kamu bukan Tera!" seru Haiva dengan nada bergetar.
"Aku Tera, kok, hanya sedang berbagi tubuh saja dengan orang lain," ujar Ona yang masih mengambil alih tubuh Tera. Lalu, tangannya mengeluarkan sebilah pisau dan hendak menancapkannya ke gadis itu.
Akan tetapi, lagi-lagi percobaan itu gagal. Haiva pandai berkelit, menghindari tangan Ona meskipun dirinya sedang ditindih tubuh Tera.
"Kamu diajak baik-baik malah melawan. Coba diam saja, pasti akan dengan cepat berakhir."
Sedang Ona lengah karena terlalu banyak berbicara, Haiva mendorong tubuh Tera ke arah kursi belajarnya. Sehingga kertas yang awalnya di atas meja terjatuh dan tubuh Tera mengenai kursi itu.
"Tera, keluar! Jangan terpengaruh olehnya!"
Ya, Tera juga mengingat seruan marah teman sebangkunya itu. Namun, Ona malah terkikik, lalu menyeret tubuh Haiva dengan paksa. Sudah berontak pun tetap saja tenaganya lebih besar daripada gadis belia itu.
Hingga sampailah mereka di lantai bawah dan membuat keributan sehingga Udisha dan Sinclair terbangun dan melihat semua itu. Lalu, terjadilah kekacauan di rumah itu. Ona berada di tubuh Tera seakan menguasai mereka.
Meskipun Tera tahu dan hendak menolong, ia tidak bisa. Tubuhnya sepenuhnya diambil alih oleh sosok itu dan ia hanya bisa melihat.
"Tera, hentikan dia, Tera! Kamu melukai mama papaku!"
Ona sudah mulai menganiaya Udisha. Namun, ia malah berusaha dihentikan oleh Sinclair. Haiva berusaha membantu dengan cara memanggil-manggil Tera. Tidak ada salah satu dari mereka yang keluar untuk mencari bantuan. Tera tahu mereka saling tidak ingin meninggalkan.
Semuanya terasa begitu pilu. Tera ingat melihat itu semua, tetapi dirinya tidak bisa membantu. Ia melihat darah mulai bercecer memenuhi ruang tamu yang pencahayaannya waktu itu hanya dari lampu meja. Dirinya pun dibalut darah di sekujur tubuhnya.
Ya, Tera-lah yang membunuh Haiva.
Lalu, bayangan-bayangan itu berubah lokasi menjadi di dalam sebuah rumah minimalis yang tidak begitu terurus. Seorang anak laki-laki berumur dua tahun di atasnya itu sedang berdiri tepat di depan tubuh Tera. Perlahan senyumnya diangkat oleh Ona.
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [END]
Mistério / SuspensePada beberapa kejadian, terkadang mimpi adalah sebuah dunia lain yang sebenarnya berdampingan dengan dunia nyata. Setiap pingsan, Tera akan menjalani hari-hari seperti biasanya. Lalu, ketika ia terbangun, seolah semua itu hanyalah mimpi dan ia ling...
![REFLECTION [END]](https://img.wattpad.com/cover/162337210-64-k233962.jpg)