chapter 24 - a dream in a dream

14 2 0
                                        

Mungkinkah aku di kehidupan sebelumnya adalah orang yang jahat? Sehingga kehidupan ini menghukumku dengan memberi kegelapan dalam setiap langkahku.

***

Tera kira, dirinya sedang bermimpi. Oh, memang sedang berada di dunia mimpi, tetapi mungkin ini adalah sebuah mimpi di dunia mimpi. Seseorang yang berbicara dengannya kini adalah orang yang sangat ia ingin temui.

Haiva.

"Tera, kamu harus membayar semua ini. Kamu tahu betapa inginnya aku melihat pagelaran dari klub drama?!"

Namun, ucapan teman pertamanya di dunia ini sungguh berbeda dari kepribadiannya.

"Haiva? Kamu kembali? Maafkan aku. Maafkan aku yang sebagai temanmu, tapi tidak bisa menyelamatkanmu," ujar Tera penuh penyesalan.

"Kamu tahu aku sudah mati dan tidak akan bisa kembali. Kamu tidak akan kumaafkan! Kamu pembunuh! Keluargamu pembunuh! Kita bahkan tidak pernah berteman."

Kalau saat ini detak jantung Tera sedang dimonitori, mungkin alatnya akan terguncang saking kencangnya. Gadis itu tidak menyangka jika Haiva akan mengucapkan kalimat menyakitkan itu.

Sosok ini bukan Haiva. Haiva selalu menganggapnya sebagai teman.

Akan tetapi, ia memang Haiva, sedang memakai baju seragam sekolah yang sama seperti milik Tera dan rambut cokelat tua sebahu seperti biasanya.

"Kamu bukan Haiva!"

"Kamu bahkan tidak pernah ingat saat aku memintamu menghentikan perbuatan burukmu. Kamu berjalan di arah yang salah dan tetap salah meskipun ingin mengurangi! Kamu harus mati juga, Tera! Kamu membunuh harapanku melihat karyaku dipentaskan, maka aku harus membunuhmu sebagai balasan!"

Tiba-tiba muncullah dua orang dewasa di belakang Haiva. Dua orang itu berwajah sedikit mirip dengan Haiva, mungkin kedua orang tuanya. Namun, yang Tera kira akan membantunya, justru membantu anak mereka.

"Ayo, mengaku! Kamu harus pergi ke neraka! Kamu membuat anak bungsuku menderita sendirian di dunia yang kejam ini!"

"Kamu harus membayarnya! Segeralah ke neraka!"

Tubuh tiga orang itu berdarah-darah. Mulai dari seluruh kepala dan rambut yang terus mengucurkan darah, lalu juga perut yang terkoyak, kedua mata yang hilang, dan banyak luka lainnya. Bahkan, kini Haiva tidak lagi dapat Tera kenali.

Tera mundur perlahan. Matanya berkaca-kaca dengan seluruh tubuh bergetar hebat. Ia meletakkan kedua tangannya di telinga untuk menutupi agar tidak mendengar kalimat jahat mereka atau mengingat hari-hari buruk itu. "TIDAK! HENTIKAN!" teriak Tera menggema di seluruh taman rumah sakit.

Langit ikut bergemuruh, seakan menyetujui teriakan Tera. Awan siang hari yang awalnya putih kini kembali menghitam. Menelan bulat-bulat awan putih yang awalnya bertugas jalan-jalan saja. Bahkan, burung-burung yang hinggap di pepohonan langsung berlari mengungsi.

Angin kencang mengembus cepat, lalu menghilangkan bayangan tubuh Haiva dan mama papanya. Tiga orang itu tidak ada di hadapan Tera lagi, baik setetes darah pun. Mungkinkah mereka sama seperti Ozan barusan?

"Kamu sudah bekerja keras, Nona Tera," sapa sebuah suara dari belakang tubuh gadis itu.

Tidak menoleh, ia seakan tahu apa yang sedang menunggunya di balik tubuhnya yang kurus. Ia berpikir kemungkinan itu adalah salah satu orang yang sama seperti beberapa orang sebelumnya. Datang menyalahkannya dan hilang begitu saja.

"Nona Tera, saya kecewa dengan kamu. Padahal saya berniat membawamu keluar dari masalahmu, makanya saya tanya padamu waktu itu. Akan tetapi, kamu malah membuat saya pergi secara tidak bagus."

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang