chapter 25 - the lost memories

19 2 0
                                        

Dunia ini kejam. Atau hanya kepadaku?

***

Ctik!

Wanita berwajah tirus dengan hidung mancung itu menjentikkan jarinya ke udara. Lalu, ruangan tempat mereka berubah menjadi sebuah ruang gelap dan dingin yang hanya terdapat satu pencahayaan, yaitu menyorot kepada area mereka berdua. Selain yang disorot, Tera tidak akan bisa melihat hal lain di ruangan itu.

Suara helaan napas Tera terdengar jelas karena tidak ada suara lain. Otak dan tubuhnya seperti mendapat sinyal bahaya. Ia mulai gelisah dan melirik kanan-kiri, takut kembali berada di masa lalunya. Masa lalu yang kelam itu.

"Oh, iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Ona, sebut saja seperti itu. Aku tahu masa lalumu yang begitu kelam. Kamu tidak dari dunia ini, 'kan? Tentu saja, meskipun kalian sama, aku bisa membedakan mana Tera yang asli dan palsu," ucap wanita itu.

Wanita yang mengaku namanya Ona itu duduk di udara, seolah terdapat kursi di sana. Ia tengah meletakkan tangan di dagu, seperti sedang berpikir keras.

"Biar aku tebak. Kamu menyetujui sebuah kontrak dari dunia mimpi." Wanita itu tersenyum sok karena bisa menebak sesuatu, padahal Tera sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. "Kan? Yah, karena dunia mimpi memang susah diingat kembali, sepertinya kamu melupakan sebagian dari masa lalumu. Bukan masalah besar juga, sih, beberapa hari ke depan kamu pasti akan kembali mengingatnya. Tenang saja, aku akan membantumu sekitar 5% saja, sisanya lakukan sendiri. Hahaha!"

Sejak dipindahkan ke tempat gelap dan dingin ini, Tera didudukkan di sebuah kursi yang lebih rendah dari posisi Ona. Sehingga ia harus lebih banyak mendongak. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia tidak mengerti yang dikatakan Ona, sehingga memilih untuk memikirkan hal lain. Mulai dari ruangan familier yang menyakitkan ini hingga siapa Ona ini sebenarnya.

Wanita itu mungkin hanya ingin mengelabuinya.

"Kamu tahu alasan mama dan papamu melakukan pembunuhan selama tiga belas tahun terakhir?"

Tera melihat hal lain, tidak berminat mendengarkan ocehan wanita tidak jelas itu. Berharap semuanya hanyalah mimpi yang berada di dunia mimpi. Walaupun sebenarnya pertanyaan Ona itu sangat menarik perhatiannya, ia sudah memikirkan itu sebelumnya dan akan menanyakannya kepada Claire atau Mike nanti ketika sudah siuman.

"Aku akan tetap memberitahumu." Wanita itu menjentikkan lagi jarinya dua kali. "Ini adalah ingatan papamu yang bisa kamu lihat."

Setelah itu, suasana di sekitar tiba-tiba berubah, dari ruang gelap, dingin, dan bau itu, berubah menjadi sebuah ruangan bergaya zaman dahulu. Tera yang duduk di sebuah kursi itu melihat seorang wanita tua sedang duduk di kursi lain dengan mata melihat langit-langit ruangan. Tidak salah lagi, wanita itu adalah orang aneh yang berada di depannya saat ini.

Ona mempersilakan sepasang suami-istri untuk masuk setelah mereka mengetuk pintu.

Tanpa berbasa-basi lagi, pasangan itu meminta sebuah hal mustahil kepada Ona. Si pria sampai memohon-mohon, bersujud, lalu menangis. Sedangkan si wanita berwajah pucat, ia menunduk dalam.

Kejadian itu masih berlangsung, tetapi Tera hanya menatap tidak tertarik. Tidak paham apa maksud Ona menunjukkan hal itu.

"Apa kamu belum menyadarinya? Mereka itu kedua orang tuamu."

Mata Tera melotot, ia segera menoleh lagi kepada bayangan yang berada di hadapannya saat ini. Gadis itu memang duduk di satu ruangan yang sama, tetapi mereka tidak menyadarinya. Hal itu disebabkan kejadian itu hanyalah bayangan dari ingatan Mike, kata Ona si wanita aneh itu.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang