chapter 28 - reflection

25 3 0
                                        

Aku harap, suatu saat kita bisa bertemu lagi dan masih mengingat satu sama lain.

***

"Terima kasih dan maaf."

Suara gadis itu lirih sekali hampir terdengar seperti bisikan. Dirinya tengah berdiri di samping brankar Mike sembari memegang tangan pria itu.

Tera tidak bisa membuat kalimat-kalimat mengharukan atau berkata-kata. Ia tidak pandai dalam hal itu. Baginya, mungkin dua kata itu bisa mewakili semua yang sedang bergumul di dalam hatinya. Gadis itu berterima kasih untuk segala hal. Meskipun ia bukan anak kandung dari Mike di dunia ini, ia bisa merasakan kasih sayang seorang papa yang selama ini belum pernah ia dapatkan secara tulus. Entah kenapa orang tuanya di dunia nyata terlihat kaku dan tidak begitu menyayanginya.

Lalu, kata maaf ia referensikan untuk dirinya yang tidak bisa menjaga Claire dari maut. Juga untuk segala hal yang sekiranya ia tidak jujur, seperti tidak berkata jika ia tidak dari dunia ini. Lalu, ia yang juga pernah berniat membunuh Mike beberapa kali, yang telah menancapkan pisau di tubuh Mike hingga sampai seperti sekarang ini. Dan masih banyak lagi lainnya.

Perasaannya sedang campur aduk, seperti tidak akan bisa berhenti menangis sekalipun air matanya telah habis. Dengan mengatakan dua hal itu kepada Mike yang sedang memejamkan mata, ia kira akan sedikit mengurangi emosinya.

Sebelumnya, di dunianya, Tera tidak pernah merasa seemosional ini. Kehidupannya yang datar dan abu-abu tidak ada yang menarik. Ia hanya menghabiskan waktu selama tiga belas tahun di dalam mansion besar itu. Ketika hendak menangis, marah, berteriak, atau berbagai emosi menguras tenaga lainnya, Tera selalu merasa terbatasi. Tidak ada sesuatu yang membuatnya benar-benar merasakan semua hal itu.

Setelah merasa cukup berada di ruangan berbau obat-obatan itu, Tera keluar dan pulang.

Namun, Tera berjalan kaki terus menuju tempat biasanya Altha dan Rain berada. Di teras belakang dekat sungai itu.

Setelah kejadian tadi, Tera merasa sangat marah dan kesal kepada dirinya sendiri. Ingin rasanya ia menampar dan menghukum dirinya sendiri dengan menjatuhkan diri dari rooftop. Tera juga marah kepada dirinya yang lain.

Tera transparan pergi begitu saja bersama Valisa. Entah ke mana mereka, tidak pernah muncul lagi sampai malam tiba. Tubuh Claire segera ditangani oleh pihak rumah sakit dan dikuburkan hari ini juga. Dirinya yang lain itu bahkan tidak meminta maaf atau merasa menyesal.

Hujan perlahan turun ke bumi dengan rintik-rintik kecilnya. Tera hanya duduk di kursi yang ia ambil dari tumpukan. Memandang rintik hujan yang membasahi tanah dan menguarkan parfum alami atau biasa dikenal sebagai petrikor.

Tera mengeluarkan sebuah kertas putih dari saku roknya. Surat pemberian Altha saat mereka terakhir kali bertemu.

To: Lentera Amaya Miller

Hai, Tera. Pertemuan kita sesingkat perpisahan kita. Layaknya hujan di dunia ini yang turun hanya beberapa saat saja.

Kamu sudah paham dengan dunia ini, 'kan? Aku pernah ingin menceritakannya kepadamu, tetapi waktuku tidak banyak. Kalau ada waktu, aku ingin menyampaikan banyak hal dan ingin mendengar juga banyak cerita darimu. Sayangnya, sejak awal memang kita tidak pernah bisa bersama.

Rasa sesak mengimpit dada Tera sampai terasa nyeri pada dadanya.

Mengenai Altha dan Rain yang pergi dari dunia ini, Tera tahu bahwa kontrak mereka sudah habis. Altha pernah menceritakan kepadanya bahwa setelah kematian mereka itu tiga tahun lalu, mereka tidak bisa menemukan tubuh mereka, orang tua, dan orang-orang yang dibantai bersama mereka. Jadi, dua orang itu menyetujui kontrak dengan salah satu penyihir untuk kembali ke dunia mereka, dunia ini.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang