chapter 22 - farewell

15 2 0
                                        

Bagaimana bisa mereka menjamin masa depanku kalau dalam menit ke depan saja mereka tidak tahu apa yang akan terjadi?

***

Altha yang memanggil polisi. Ia datang terlambat karena melaporkan hal itu ke pihak berwajib lebih dahulu. Laki-laki itu hanya takut jika Rain sampai melukai Tera yang tidak tahu menahu tentang dunia bermasalah ini.

Polisi langsung menangkap Mike dan Claire, tetapi masih dibawa ke rumah sakit untuk diberi penanganan pertama. Kondisi Mike tidak memungkinkan untuk langsung ditahan, sekujur tubuhnya jadi bersimbah darah dan pisau masih menancap di perutnya. Sedangkan Claire masih akan diinterogasi. Mereka juga membawa semua barang yang menjadi bukti, semua peti-peti besar di ruang bawah tanah, dan juga mengajak Tera ke sana.

Lalu, Rain masih ditenangkan oleh Altha di teras belakang rumah besar itu. Altha membawanya ke sana cepat-cepat sebelum polisi datang. Ia juga memaksa Rain agar segera keluar dari tubuh Tera. Selain itu, Rain tidak akan punya banyak energi lagi jika terus berada di tubuh orang lain. Jika diteruskan bisa menyebabkan dirinya menghilang lebih cepat daripada Altha.

"Tera," panggil Arvie. Ia baru datang ke kantor kepolisian untuk melihat keadaan Tera.

Gadis itu tengah duduk di kursi tunggu, menunggu gilirannya diinterogasi setelah Claire. Tatapannya masih terpaku pada sebuah pohon palem bambu di dalam ruangan. Sudah dipanggil dua kali pun belum juga menoleh, masih melamun.

"Aku tahu kamu tidak menyangka dengan hal ini. Tapi, asal kamu tahu, ini hanya dunia mimpi, kamu tidak sebenarnya tinggal di sini. Maksudku, apa pun alasanmu pindah ke dunia ini, kamu masih bisa kembali ke duniamu," ujar Altha menenangkan. Ia duduk di samping gadis itu dan ikut melihat pohon palem di pot itu.

Tiba-tiba Tera terkejut saat kursi yang didudukinya sedikit bergoyang karena di sampingnya ada Arvie ikut duduk. Jelas sekali gadis itu tidak menyimak ucapan Arvie. Ia menoleh, lalu terkejut lagi. Sontak tubuhnya menjauh sedikit dengan wajah panik.

"Ke-kenapa kamu ada di sini?" tanya Tera terbata.

Arvie menghela napas pendek. "Melihat kamu?"

"Kamu tidak takut apa?" Tera menunduk, meremas rok selututnya.

"Apa? Suaramu kecil sekali," ucap Arvie. Ia malah mendekatkan lagi tubuhnya.

"Kamu tidak takut denganku?"

Berpikir sejenak, Arvie membalas dengan pertanyaan, "Kenapa harus?"

"Papaku pembunuh. Sifatnya bisa saja menurun kepadaku. Dia ... dia yang membunuh Haiva dan keluarganya. Dia juga yang sudah membuat Altha dan Rain tidak bisa melanjutkan kehidupannya."

"Tenang saja, Tera, aku tidak takut, kok. Kan, aku dekatnya denganmu, bukan dengan papamu. Kamu tidak akan melakukan hal kejam itu. Aku memang dendam dengan papamu, tapi tidak kepadamu."

Tera berdiri secara tiba-tiba selepas Arvie menyelesaikan kalimatnya. Ia seperti teringat sesuatu dan menatap Arvie. "Altha dan Rain!" serunya.

Mengerti maksud Tera, Arvie langsung mengikut saja ditarik tangannya oleh Tera. Ia pikir gadis itu aneh sekali. Ia pernah menarik tangannya, tetapi harus izin dahulu. Lalu, dirinya sendiri ketika akan menarik tangan orang lain, secara spontan tanpa izin lebih dahulu. Akan tetapi, Arvie tidak mempermasalahkan hal itu.

Mereka berlarian di lorong kantor kepolisian itu tanpa peduli ditatap aneh oleh orang-orang. Beberapa juga ada yang marah-marah karena mengganggu jalan. Ada juga yang terus memanggilnya, tetapi tidak mendapat jawaban karena mereka sudah pergi sampai di luar kantor.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang