chapter 16 - discussion

21 3 0
                                        

Kalau diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, aku akan memilih menjadi cahaya.

***

Suasana di pinggir sungai itu terasa dingin dan sedikit menakutkan. Apalagi sekitar yang tadinya sedikit terang kini gelap karena awan menggumpal lebih tebal. Tera selalu bertanya-tanya, apakah awan tidak pernah lelah menanggung bebannya terus-menerus? Maksudnya, ia melihat hujan di sini hanya sekali, setelah itu hanya mendung, menghitam, gelap, kilat, tetapi tidak juga hujan.

Namun, sepertinya memang sudah biasa di sini. Tidak ada yang mengeluh sama sekali atas cuaca yang selalu tidak bersahabat ini.

Suara gemericik air dan gesekan dedaunan bersahutan dengan kendaraan-kendaraan di jalanan yang terdengar samar-samar.

"Jadi, apa yang membuatmu yakin orang itu telah membawa kamu ke dunia ini?" tanya Altha lagi karena Tera hanya melamun.

Tera gelagapan, lalu menatap Altha serius. "Maaf. Jadi, sebelum aku masuk dunia ini yang terakhir kali, dia membisikkan sebuah mantra mirip seperti yang kamu ucapkan waktu itu," jelas Tera. "Meskipun aku tidak ingat jelas yang diucapkannya itu, tapi aku sangat yakin itu adalah mantra agar bisa memasuki dunia ini."

Ia ingat sekali saat dirinya ditidurkan oleh Valisa, orang yang ia yakini telah membawanya ke dunia ini. Valisa seolah memberinya nina bobo yang secara perlahan membawanya ke dunia ini. Meskipun sebenarnya itu belum pasti karena yakin Valisa tidak ada di hari pertama saat ia pingsan dan memasuki dunia ini. 

"Apa kamu punya gambaran kenapa orang itu melakukannya?"

Tera mengendikkan bahunya tidak mengerti. Valisa tidak pernah punya masalah dengannya atau tidak menyukainya. Ia selalu melakukan yang diutus Mike dan selalu menjaga Tera dengan baik. Hanya saja, saat ia terbangun di dunia nyata beberapa hari lalu setelah menerima mantra dari Altha, sangat terlihat wajah tidak suka Valisa.

"Sama sekali tidak."

"Aku yakin dia sedang ingin menikmati hidupmu. Atau bisa saja dia sedang menukar dirimu ke dunia ini sedangkan dia yang akan menjadi kamu di dunia sana." Rain menyahuti.

Valisa memang orang baru di mansion itu, tetapi sudah menjadi kepercayaan Mike karena sebelumnya pernah bekerja di tempat yang sama. Jadi, Valisa ini memang sudah berada di dunia sana sejak dahulu, tidak mungkin pindahan dari dunia ini.

"Mungkin kamu bisa menyelidikinya lagi setelah kamu kembali ke tubuhmu yang asli."

Tera mengangguk. Benar juga daripada membuat spekulasi yang belum tentu benar. Lalu, ia teringat bahwa di pagi hari saat kematian Haiva, ia diminta keluar oleh Altha, tetapi dirinya malah pergi ke sekolah.

"Oh, iya, hari itu, apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" tanya Tera. Ia memang penasaran, tetapi baru ingat lagi hari ini karena setelah itu mereka belum bertemu lagi. Tera pun hanya mengurung diri di kamar, menangisi kepergian Haiva.

Menggumam, Altha mengingat-ingat lagi hal apa yang waktu itu ingin ia katakan. "Oh, waktu itu. Sebenarnya, aku hanya ingin mengajakmu keluar karena merasa kamu pasti ingin keluar juga."

Tera mengerutkan keningnya, merasa tidak puas dengan jawaban Altha. Tidak mungkin laki-laki itu hanya ingin mengajaknya keluar.

"Kamu cenayang, ya? Kamu pasti sudah tahu kalau aku dikurung Mama dan Papa untuk tidak keluar rumah—bahkan kamar pun."

"Oh, kamu dikurung? Sejak kapan, tuh? Kenapa bisa sampai di rumah Haiva pada hari kejadian?" tanya Rain. Gadis ini masih tidak suka dengan Tera meskipun sudah menerima tawaran Altha untuk membuat aliansi di antara mereka bertiga.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang