Bagaimana caraku kembali ke duniaku? Aku takut.
***
Kilasan ingatan dengan jelas muncul di kepala Tera. Seperti sebuah film klasik yang diputar ulang di otaknya. Ia ingat dengan jelas Rain dan wajah penuh dendamnya. Semua itu seakan tengah terjadi tepat di depan matanya. Padahal ia sudah memastikan dirinya sekarang berada di dunia nyata.
Masih berusaha mengatur pernapasan, pundaknya ditepuk sedikit keras. Entah memang sesakit itu atau karena dirinya yang begitu tidak fokus dan hanya berdiri di tengah jalan.
"Jangan melamun saja, nanti kemasukan, loh!"
Tera terkejut sampai melemas hampir saja jatuh. Pundaknya terasa akan patah.
Namun, keterkejutannya tidak berakhir di situ saja. Seorang guru yang pernah ia lihat di dalam kelas waktu itu menatapnya dengan tersenyum. Kalau tidak salah itu guru pembina klub drama. Kemudian, guru itu berlalu begitu saja dengan senyumnya.
Tera ingat semuanya. Ia bermimpi. Semua yang ia lihat adalah mimpi, sedangkan ini kehidupan yang sesungguhnya. Rain dan Altha hanya bagian dari mimpinya.
"Ha? Hahaha!" Tera tertawa sumbang. Ia merasa dirinya menjadi gila karena tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana dunia nyata. Kalau begitu, aku tidak perlu takut lagi dengan Rain? Ya, tentu saja! Dia, kan, cuma ada di mimpi.
Gadis berkulit putih pucat itu tersenyum, merasa sedikit plong dan bersyukur. Sekarang, ia bisa berjalan ke kelas dengan percaya diri.
Setelah sampai di kelas, ia mencari seseorang. Namun, tatanan bangku kelas yang berubah sedikit membuatnya bingung. Ia jadi lupa di mana tempatnya duduk dan siapa seatmate-nya.
"Cari apa? Tidak mau ke kantin? Kamu tidak lapar, Tera?" Sierra menanyai banyak sekali kepada Tera yang tengah melihat-lihat seisi kelas. Tanpa aba-aba, ia langsung menarik tangan gadis itu untuk diajak ke dalam ruang kelas. "Eh, Tera, aku mau kasih tahu kamu. Kita ikut ekstrakurikuler, yuk!"
"Aku mau, kok, ikut klub drama," jawab Tera dengan yakin.
"Hah?" Kening Sierra itu berkerut. Ia duduk di kursi, lalu diikuti Tera duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan selembar kertas bertuliskan formulir pendaftaran, lalu selembar lagi berisikan gambar-gambar kegiatan ekstrakurikuler yang boleh mereka ikuti selama bersekolah di sini. "Nih, kamu tidak mau ikut klub cheerleader? Bakal seru kalau kita ikut barengan sama Carmilla juga!"
Tera menggeleng menanggapi ajakan Sierra. Ia tidak tertarik dengan ekstrakurikuler sebenarnya. Ini baru pertama kalinya ia ikut seperti ini, tetapi di pikirannya hanya ingin ikut yang tidak begitu memberatkan. Ia melihat-lihat lagi brosur itu.
"Kok, klub drama tidak ada, ya?" gumamnya yang bisa didengar Sierra.
"Memang pernah ada? Bukannya dari dulu tidak ada, ya?" Sierra ikut mencari gambar yang menunjukkan ekstrakurikuler drama di brosur itu.
"Loh, aku diajak langsung sama Ha—" iva, penulis naskahnya.
Haiva? Ini, kan, dunia nyata. Haiva bukannya ada di bunga tidurnya? Kenapa bisa ia lupa lagi? Apakah ia terlalu lama tidur sampai tidak menyadari bahwa dirinya dan dunia mimpi berbeda?
"Sama siapa? Memangnya ada klub drama? Siapa saja yang ikut? Aku mau coba ikut, dong!"
Tera jadi pendiam. Ditanyai Sierra pun tidak menjawab. Ia masih syok dengan keadaannya yang begitu membingungkan.
Menghela napas pendek, Tera segera mengenyahkan pikiran buruknya. Kalau ia ingat tentang mimpi tidak jelas itu, pasti akan teringat dengan sosok gadis pendendam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [END]
Mystery / ThrillerPada beberapa kejadian, terkadang mimpi adalah sebuah dunia lain yang sebenarnya berdampingan dengan dunia nyata. Setiap pingsan, Tera akan menjalani hari-hari seperti biasanya. Lalu, ketika ia terbangun, seolah semua itu hanyalah mimpi dan ia ling...
![REFLECTION [END]](https://img.wattpad.com/cover/162337210-64-k233962.jpg)