chapter 13 - the murder

25 4 0
                                        

Aku ingin punya teman, tapi aku takut mereka akan membenciku atau menertawakanku suatu hari.

***

Tera tidak ingat pernah lewat jalan sini.

Pagi ini, masih subuh sekali dan masih mengenakan piama, ia keluar rumah. Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin berjalan-jalan di gang-gang rumahnya yang sebenarnya banyak sekali. Padahal ini di pinggiran kota, tetapi rumah-rumah penduduk berdekatan seperti berada di tengah kota. Meskipun begitu, udara di gang rumah Tera sejuk karena masih ada beberapa pepohonan di depan rumah-rumah.

Gadis itu terus berjalan saja mengikuti insting. Lalu, ketika sampai di perbelokan, entah kenapa ia merasa familier. Seperti tidak asing dengan jalan itu meski tidak yakin.

Oh, ini jalan ke rumah Haiva.

Tersadar, ternyata ia baru saja dari gang rumah Haiva. Sebenarnya, ia penasaran seperti apa rumah teman sebangkunya itu. Ingin pergi ke sana pagi ini, tetapi ia harus berangkat sekolah satu jam lagi. Mungkin bisa lain kali.

"Aduh!" keluhnya saat tidak sengaja ia menginjak sebuah batu kerikil.

Menunduk, ternyata ia pun lupa tidak memakai sandal. Akhirnya, kakinya berdarah. Meskipun begitu, Tera memilih untuk mengabaikan rasa sakitnya, lalu berjalan terus untuk pulang. Sesekali harus berjalan secara pincang.

Tadi malam, ia kira Claire dan Mike sudah berbaikan. Mereka makan malam bersamanya, seperti keluarga normal lainnya. Namun, ternyata salah. Ketika ia sudah selesai makan dan izin ke kamar untuk tidur, ketegangan itu mulai lagi.

Yah, awalnya pun Tera sudah mengira bahwa diam-diam mereka menyimpan sesuatu yang sangat besar. Bahkan, meskipun berada di meja yang sama dan kursi berdampingan, keduanya tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk masing-masing. Hanya beberapa kali mengajak Tera berbicara.

Sekitar sepuluh menit setelah Tera berada di kamar, dua orang itu masih diam saja. Tera kira mereka akan terus seperti itu, jadi ia memilih untuk tidur. Mungkin lama-lama mereka akan kembali lagi, mungkin juga bukan masalah besar.

Lagi-lagi, Tera salah. Tepat ketika ia sampai di depan rumahnya, ia mendengar suara teriakan Claire.

"Lalu, apa maksudmu kita akan mengakhirinya sampai di sini?"

Samar-samar Tera hanya mendengar suara itu. Dalam hati gadis itu merasa sakit. Padahal mereka baru saja seperti keluarga normal lainnya, lalu sekarang?

Tera segera masuk rumah. Ia berjalan cepat ke ruang keluarga. Langkahnya berhenti di dekat pintu penghubung antara ruang tamu dengan ruang tengah.

"Kita selalu melakukan hal itu, apa kamu tidak berpikir sampai kapan kita akan terus melakukannya?"

Dapat Tera lihat papanya sedang mengusap wajahnya secara kasar. Pria itu terlihat sangat frustrasi.

"Kita sudah berpindah dari satu kota ke kota lainnya dan hampir saja dicurigai!"

"Jadi, maksudmu, kamu menyesal melakukan hal ini demi anak kita sendiri?" Air mata Claire mulai keluar, tetapi ia usap dengan kasar.

"Kalau pun dia benar anak kita."

Mata Tera membulat. Ia tidak percaya papanya mengatakan hal itu kepadanya.

"Mama? Papa?"

Tera muncul di tengah pintu. Ia menatap butuh penjelasan kepada kedua orang tuanya itu.

"Tera?" Mereka langsung terlihat syok.

Claire berlari cepat ke arahnya, sedangkan Mike menuju kamar Tera.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang