Tenang saja, aku akan segera pergi dari sini karena memang ini bukan duniaku yang sesungguhnya.
***
Sampai di sekolah, Tera ngos-ngosan. Ia mengatur napas dahulu sebelum memasuki kelasnya. Tidak lupa membenarkan seragam sekolahnya yang acak-acakan meskipun hanya ia benarkan asal-asalan. Setidaknya kemejanya masuk rok dan dasinya terpasang dengan benar.
"Permisi." Tera menyapa seorang guru wali kelas yang sedang berdiri di depan. Belum dipersilakan masuk, ia langsung memasuki ruang kelas, lalu menuju bangkunya berada.
"Kamu terlambat, Lentera Amaya," ucap guru tersebut.
Tidak kunjung menjawab, Tera malah heran dengan teman sebangkunya yang hari ini tidak ada di bangkunya.
"Apakah kamu sudah dengar berita?" tanya guru itu lagi.
Tera mengerutkan keningnya heran dua kali lipat. Apalagi ketika melihat seluruh pasang mata kini mengarah padanya. Ia hanya membalas tatapan mereka dengan tatapan polosnya. Lalu, menggeleng sebelum menjawab, "Belum."
"Tidak usah bohong!"
Tersentak, Tera menatap Debra yang kini berdiri di hadapannya. Ia sedikit memundurkan badannya ketika Debra malah memperpendek jarak mereka. Semakin maju hingga wajah gadis itu tepat berada di samping telinga Tera.
"Aku tahu kamu lebih tahu tentang Haiva," bisik Debra setengah mendesis.
"Haiva? Haiva kenapa?" tanya Tera dengan nada rendah.
"Oke, anak-anak, menunggu info selanjutnya saja, ya. Untuk saat ini, kalian di dalam kelas dulu, tolong dikondisikan dengan baik. Tera, tolong ikut saya. Akan saya ceritakan semuanya."
Guru wanita itu berjalan keluar kelas setelah mengatakan kalimat itu. Ia diikuti Tera di belakang dengan wajah masih linglung.
Sesampainya di luar kelas, guru itu tersenyum ramah kepada Tera sebelum memulai.
"Saya tahu kamu akan syok dengan ini. Tapi, mau tidak mau saya harus memberi tahu kamu. Haiva, teman sebangku kamu, meninggal pagi ini serta keluarganya."
Tentu saja Tera syok. Ia tidak bisa menyembunyikan hal itu. Tubuhnya langsung melemas dan dipenuhi keringat dingin. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Baru saja mendapat teman baik yang terus mendukung dan mempertahankannya, tetapi kini pergi.
Bagaimana mau percaya jika gadis itu baru ia temui kemarin sekali. Saat mereka pulang bersama dan berpisah di perbelokan seperti biasanya. Ia tidak menyangka orang yang ia beri kabar semalam kalau ia sudah sampai rumah, hari ini telah tiada.
Guru itu memberi semangat pada Tera, lalu pergi setelah mengatakan agar Tera tetap sabar. Meninggalkan gadis itu yang masih lemas di tempatnya berdiri. Kakinya terasa seperti jelly, tidak bisa menapak dengan kuat.
Lima menit kemudian, barulah gadis itu mendapatkan kembali kesadarannya. Ia berjalan menuju kelasnya lagi dengan perasaan campur aduk.
Memasuki ruang kelas, Tera disambut dengan tatapan membunuh dari Debra.
"Sudah tahu, huh?"
Tera hanya menatap gadis itu tidak berminat. Lalu, ia berjalan perlahan ke bangkunya. Namun, belum sampai ia di bangkunya berada, segerombol siswi datang dari kelas lain, lalu mengepungnya. Mereka adalah anggota klub drama yang menentang keberadaannya, sama seperti Debra.
"Mengaku saja! Pasti kamu yang membuat Haiva seperti itu, 'kan?!" Si gadis berambut cokelat keriting pendek mendorong tubuh Tera sampai menabrak salah satu temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [END]
Misterio / SuspensoPada beberapa kejadian, terkadang mimpi adalah sebuah dunia lain yang sebenarnya berdampingan dengan dunia nyata. Setiap pingsan, Tera akan menjalani hari-hari seperti biasanya. Lalu, ketika ia terbangun, seolah semua itu hanyalah mimpi dan ia ling...
![REFLECTION [END]](https://img.wattpad.com/cover/162337210-64-k233962.jpg)