chapter 9 - the death

20 4 0
                                        

Mereka selalu menganggapku tidak serius, padahal memang hanya sampai situlah batasanku.

***

Tanpa ingat apa-apa, tiba-tiba tubuh Tera menyadari bahwa dirinya berada di gedung sekolah bagian belakang yang hanya berisi gudang-gudang. Gedung berlantai tiga itu hampir tidak pernah terpakai kalau tidak ada kegiatan. Hanya beberapa kali dalam setahun kalau ada lomba antar kelas atau ujian. Hal itu disebabkan oleh bangunan yang kelebihan.

Katanya, lomba antar kelas atau classmate nanti diadakan di gedung itu yang memiliki lapangan outdoor. Jadi, untuk saat ini belum ada yang menggunakam bangunan itu.

Namun, kini dirinya berada di depan bangunan itu. Menyaksikan seorang pria berusia 53 tahun yang tengah berlumuran darah tergeletak di lantai paving. Tubuhnya sudah hampir tidak berbentuk lagi, tengkurap, dan darah tidak berhenti mengalir dari kepala.

Perlahan, para siswa berkerumun di pagi yang berkabut itu.

Suara grasak-grusuk orang-orang membuat kepala Tera terasa penuh. Ia mengerjap sekali dan ingatan tentang kejadian itu muncul di kepalanya. Pria petugas kebersihan sekolah bernama Evan itu jatuh dari lantai tiga bukan tanpa alasan. Tera tahu itu.

"Tera? Kamu tidak apa-apa?" tanya Haiva panik saat mendapati Tera melamun di antara kerumunan.

Tera menatap Haiva sebentar, lalu berjalan pergi dari sana.

"Tunggu, Tera, kamu tadi lihat? Anu, maksudku ... iya, sebaiknya kita segera ke kelas karena pelajaran sebentar lagi dimulai."

"Haiva," panggil Tera lirih.

"I-iya?"

Mereka berhenti di depan perpustakaan, sudah agak jauh dari bangunan belakang itu.

"Mr. Evan tidak salah apa-apa."

"Hah?" Haiva melongo mendengar itu.

Sulit untuk menjelaskan. Tera sendiri bingung dengan kejadian tadi yang tiba-tiba saja. Seolah dirinya berada di sana saat kejadian, tetapi hanya menyaksikan tanpa membantu. Seharusnya kejadian itu tidak akan terjadi apabila ia berteriak meminta bantuan dari orang lain.

"Tera, aku tahu kamu syok. Lebih baik kita segera ke kelas saja. Yuk!"

***

Berita itu menjadi pembicaraan hangat di Taraxa Junior High School. Sekolah tidak mau diliput media, jadi mereka menutupi kasus itu. Mereka juga menutup mulut para siswa untuk tidak membicarakan hal itu lebih lanjut apalagi kepada para wali murid.

Akibat hal itu, sekolah hari ini diliburkan. Mereka diimbau untuk langsung pulang ke rumah tanpa mampir di lain tempat. Termasuk Tera dan Haiva yang kini pulang bersama.

Awalnya, Tera bingung harus bagaimana karena saat ini Claire maupun Mike pasti belum pulang kerja, jadi ia akan sendiri di rumah. Ia takut jika bertemu Rain lagi.

"Tera, kamu di rumah sendiri nanti?" tanya Haiva.

Mereka baru saja menyeberang, kini berjalan di gang pertama. Suasana lengang sekitar memang terkadang menakutkan, makanya Tera memilih untuk pulang bersama Haiva. Terlebih hari ini suasana sedikit berkabut, mendung terlihat keberatan membawa bebannya sampai menghitam. Sepertinya akan turun hujan dalam waktu dekat.

"Iya. Kalau kamu sendiri?"

"Mungkin Mama di rumah karena masih pagi. Jadi, aku harus membantunya bersih-bersih atau apalah. Orang tua biasanya seperti itu, tidak mau melihat anaknya terlihat tidak melakukan apa-apa." Haiva menghela napasnya panjang, lalu menggembungkan kedua pipinya.

REFLECTION [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang