Di sana, aku selalu tidak bisa mengingat hal lain. Seolah semuanya gelap, kosong, dan hampa.
***
Akibat Tera yang terus merengek ingin keluar, Claire dan Mike membawa putrinya itu keluar. Kamar VIP itu mungkin telah membuat gadis itu sesak dan merindukan suasana luar.
Benar saja, setelah mereka sampai di taman depan rumah sakit, gadis itu langsung menghirup napas sebanyak-banyaknya. Suasana segar menyambutnya sejak kursi rodanya mencapai pintu utama. Meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit, Tera sedikit tenang apalagi saat kedua orang tuanya bersama dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Tera menyukai suasana ini meskipun suara kendaraan di jalan raya depan rumah sakit begitu mengganggu. Cahaya matahari yang menelisik lewat dedaunan pohon ketapang sedikit menghangatkan.
"Mama mau ke mana?" tanya Tera menyadari mamanya beranjak setelah menerima panggilan telepon.
Wanita itu menyimpan lagi ponselnya ke dalam saku jas kerjanya, lalu tersenyum manis ke arah Tera. "Mama harus bertemu dengan calon guru privat kamu, Sayang. Maaf, ya, Mama tinggal dulu. Ini juga demi kebaikan kamu setelah keluar dari rumah sakit. Sebentar doang, sekitar tiga puluh menit. Kamu sama Papa, ya."
Wajah pucat Tera langsung terlihat lesu dengan helaan napas panjang. Padahal dirinya baru mau merasakan enaknya bersama keluarga yang hanya terdiri dari tiga orang ini.
Mata gadis itu berkaca-kaca, memilih menatap sekitar yang juga terdapat beberapa pasien sepertinya alih-alih menatap mamanya yang kini berjongkok di hadapannya. Entah kenapa ia ingin menjadi cengeng hari ini.
"Pasti Mama nanti balik lagi, kok," ujar Mike ikut menenangkan.
"Ya, Sayang?" tanya Claire sekali lagi. Ia mengusap puncak kepala Tera, lalu menciumnya.
Akhirnya, gadis berambut sepunggung bergelombang berwarna cokelat terang yang digerai itu mengangguk. Mata biru lautnya terus mengikuti lengkuk tubuh Claire yang berjalan menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi di perbelokan.
"Pa," panggil Tera. "Papa dan Mama tidak suka, ya, dengan kehadiranku?"
Sontak wajah Mike berubah tidak enak. Ia tidak mengerti arah pembicaraan putrinya itu, tetapi ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan membuat putrinya semakin terpuruk.
"Kenapa Tera berpikir seperti itu? Maafkan Papa sama Mama yang sudah menyekolahkan kamu di sekolah umum dan menjadikan kamu seperti ini. Papa sudah bicara kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan kamu dari sekolah. Papa juga sudah mencarikan guru privat terbaik untukmu. Salah satunya yang sedang ditemu—"
"Hah? Kenapa?" Tera langsung syok dengan pernyataan papanya itu. Tidak menyangka masa-masa yang ia dambakan itu sudah berakhir bahkan sebelum ia benar-benar menikmatinya. "Apa karena kejadian itu? Tapi, teman-teman Tera baik semua, kok."
"Mungkin mereka memang baik karena beberapa kali Amandla bilang ada yang menghubungi nomor rumah kita. Dia bilang, panggilan itu dari temanmu yang ingin bertemu kamu. Entah dari mana mereka dapat nomornya. Namun, kami tidak akan tega melihatmu terus mengalami kejadian yang di luar kendali kami atau Valisa."
Tera menggeleng, masih tidak percaya. Ia tidak menyangka kedua orang tuanya menganggap musibah itu terjadi karena dirinya ada di sekolah itu. Bahkan, yang diucapkan kedua orang tuanya itu sedari tadi hanya tentang sekolahnya dan guru privat entahlah. Ia tidak tahu kebaikan apa yang mereka maksud.
"Kamu tahu, kejadian itu tidak akan terjadi kalau Papa terus membiarkan kamu home schooling. Karena kenyataannya, kamu belum sepenuhnya sembuh."
"Bukan, Pa. Itu pasti kecelakaan! Tera baik-baik saja, kok, di sekolah bar—home schooling?"
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [END]
Mystery / ThrillerPada beberapa kejadian, terkadang mimpi adalah sebuah dunia lain yang sebenarnya berdampingan dengan dunia nyata. Setiap pingsan, Tera akan menjalani hari-hari seperti biasanya. Lalu, ketika ia terbangun, seolah semua itu hanyalah mimpi dan ia ling...
![REFLECTION [END]](https://img.wattpad.com/cover/162337210-64-k233962.jpg)