Apakah tidak pernah ada yang tahu kalau aku di sini sedang terjebak di lubang kesepian?
***
Suara sibuk di lantai satu mengganggu sekali. Tera yang sedang berusaha menutup matanya pun tidak jadi. Yah, meski sebenarnya tidak ada suara itu pun gadis itu tetap tidak bisa tidur.
Kali ini, bukan suara teriakan atau ribut dari kedua orang tuanya yang bertengkar, tetapi seperti ada orang lain di rumah ini. Mama dan papanya sedang tidak ada di rumah sejak ia pulang tadi pagi. Entah ke mana mereka pergi, mungkin bekerja karena sekarang masih siang hari.
Setelah pulang dari tempat Altha bersama Arvie, gadis itu langsung membersihkan diri dan berniat istirahat. Siapa tahu saat ia tidur, dirinya bisa terbangun di dunia nyata dan tidak akan kembali ke sini lagi.
Namun, hal itu tidak terjadi karena dirinya kini terkejut bukan main sesampainya di lantai satu. Altha dan Rain sedang berada di dalam rumahnya. Padahal ia tidak pernah ingat atau merasa mempersilakan mereka masuk.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Tera syok.
"Maaf, Tera, tapi kami butuh ini semua agar segera selesai. Kalau tidak, teror ini akan terus berlanjut dan kami tidak bisa tenang," jawab Altha. Ia berdiri di dekat tangga ketika Tera menatapnya dari ujung anak tangga paling atas.
Sementara itu, Rain tengah membuka-buka laci, lemari, meja, dan sofa, serta barang-barang lainnya yang ada di ruangan itu. Seolah ia sudah meminta izin untuk melakukan hal itu. Bahkan, tanpa sungkan, gadis itu memasuki kamar-kamar di lantai satu dan entah apa yang dilakukannya.
"Kalian punya adab dan sopan santun, 'kan?" Tera berjalan dengan cepat ke lantai satu. Ia berniat ingin mengusir dua orang tidak sopan itu. Entah bagaimana mereka bisa memasuki rumah ini sedangkan seingatnya, pintu utama sudah ia kunci.
Rain menghentikan aksinya, lalu menatap Tera dengan tangan berkacak pinggang. "Aku sudah muak dengan ini semua! Kamu pikir, berapa lama aku menunggu agar semua bukti terkumpul dan bisa membuat kalian membayar semua ini?"
"Maaf, Tera, izinkan kami menggeledah rumah ini untuk hari ini. Kami tidak hanya melakukan hal ini kepadamu saja, tetapi kepada semua rumah di kota ini." Altha menarik napas pelan, lalu melanjutkan kegiatannya yang entah sedang mencari apa.
Tera berjalan mengikuti Rain dan Altha. Ingin menghentikan mereka, tetapi ia bingung harus dengan bagaimana. "Aku bahkan tidak mengerti. Kenapa kalian melakukannya kepadaku? Ya, mungkin Tera di masa lalu melakukan pembunuhan, tetapi aku yang sekarang bukan Tera di masa lalu! Kalian tahu itu! Dan aku tidak mengerti apa yang sedang kalian cari!"
Altha berhenti. Ia berdiri satu meter di hadapan Tera. "Kami sedang mencari bukti. Apa pun dan di mana pun itu, kami akan menemukannya hari ini."
Gelengan kepala Tera tidak digubris Altha. Ia kembali fokus membuka-buka sampai karpet dan tempat sampah pun. Lalu, Rain berjalan cepat menuju lantai atas. Sepertinya ia sudah selesai dengan yang di lantai bawah.
Tera langsung mengikuti Rain agar setidaknya bisa ia cegah. Namun, gadis itu terus berjalan hingga ke kamarnya.
"Rain, tunggu! Bisakah kamu hentikan omong kosong ini?! Kenapa tidak kita laporkan saja ke pihak berwenang agar semuanya adil! Apa yang kalian lakukan ini justru gegabah dan seenak kalian sendiri!" seru Tera dengan nada marah. Ia mengikuti Rain sampai masuk kamarnya.
Akan tetapi, melihat Rain yang mematung di dekat tempat tidurnya, membuat ia penasaran.
"Apa katamu?! Omong kosong?!" teriak Rain lebih marah lagi. Tangan kirinya memegang figura foto yang ia ambil dari nakas tempat tidur Tera, satu tangannya lagi dengan cepat meraih leher Tera. Ia mendorong tubuh si pemilik rumah itu dengan cekikan sampai tubuhnya keluar kamar dan menabrak pembatas lantai dua.
KAMU SEDANG MEMBACA
REFLECTION [END]
Mystery / ThrillerPada beberapa kejadian, terkadang mimpi adalah sebuah dunia lain yang sebenarnya berdampingan dengan dunia nyata. Setiap pingsan, Tera akan menjalani hari-hari seperti biasanya. Lalu, ketika ia terbangun, seolah semua itu hanyalah mimpi dan ia ling...
![REFLECTION [END]](https://img.wattpad.com/cover/162337210-64-k233962.jpg)