Kilatan berbinar dimatanya tampak begitu gadis kecil itu melihat seorang anak lelaki dengan pria parubaya yang bergandengan tangan sedang berjalan menuju kelasnya.
Claretta yang antusias itu tidak bisa berhenti menatap jendela hingga guru kelompok bermain menegurnya memintanya untuk fokus dengan apa yang guru itu tulis dipapan tulis.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya sembari mengikuti pelajaran yang seharusnya.
Tak lama belpun berbunyi tanda jam pelajaran telah usai. Anak-anak kelompok bermain dengan kompak keluar dari kelas mereka menuju lapangan dan menghampiri orang tua mereka.
Claretta keluar terakhir, gadis kecil itu mengedarkan pandangannya tapi ia sama sekali tidak menemukan orang tuanya dimanapun hingga ... seseorang menepuk bahunya membuat Claretta mundur kembali kedalam kelas.
"Hei, Clare!"
Claretta melongok dari tempat persembunyian, dan matanya setengah membulat karena melihat Caldwell berada diambang pintu. Lelaki itu tengah tersenyum tipis sembari melambaikan tangannya.
Perlahan Claretta keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Caldwell yang berada diambang pintu itu.
"Mama Claletta dimana, Cald?" iris mata emas Claretta mengelilingi sekitarnya dan tak menemukan orang tuanya dimanapun.
Tak lama pria parubaya yang diduga Tuan Stewart datang menghampiri mereka, "Ibumu bilang ia ada urusan, dan Ayahmu ... sedang bekerja." kata Tuan Stewart setelah sampai dihadapan kedua anak itu.
Claretta mengerjapkan matanya beberapa kali, ia menganggukkan kepalanya pelan. Caldwell yang berada disampingnya pun menepuk-nepuk pucuk kepala Claretta.
Caldwell menoleh menatap ayahnya, "Ayah boleh 'kan kalau Clare bermain dirumah?"
***
Disini 'lah Claretta berada, seperti yang dikatakan Caldwell bahwa Claretta akan bermain dirumahnya.
Setelah Tuan Stewart selesai menghubungi orang tua Claretta, ia pun akhirnya mengizinkan Claretta bermain dengan Caldwell setelah mereka duduk hampir sepuluh menit menunggu telepon dibalas.
Cassie sedang berbelanja, itu yang dikatakan Riley setelah Tuan Stewart menelponnya dan itulah yang menyebabkan mereka harus menunggu sepuluh menit.
Tangan Claretta ditarik oleh Caldwell menuju kamarnya, sesampainya mereka dikamar, pandangan Claretta tak henti-hentinya takjub dengan seberapa luas kamar milik Caldwell.
"Cald, tidak takut?" tanya Claretta seraya memiringkan kepalanya dan berjalan pelan menuju kasur berukuran cukup besar itu.
Caldwell menggelengkan kepalanya lalu menuju rak buku yang berisi berbagai macam dongeng anak-anak, ia mengambilnya asal lalu melemparnya sembarang kearah Claretta.
Iris mata emas Claretta mengerjap beberapa kali kala membaca tulisan di buku itu yang cukup rumit, "ini apa bacanya, Cald?" setelahnya ia menanyakan Caldwell yang masih berdiri didepan rak bukunya.
Anak lelaki itu kini berbalik dan menghampiri Claretta dan duduk didekatnya.
"Aku juga tidak tahu bagaimana cara membaca judulnya, tapi kata Ibu ... buku ini sangat bagus!" tatapan berbinar yang dibuat Caldwell membuat Claretta membuka beberapa halaman buku itu dan membacanya terbata-bata.
Caldwell yang melihat itu terkekeh pelan, "padahal Clare bersekolah, kenapa Clare tidak bisa membacanya, ahahaha!" anak lelaki itu dengan jelas meledek Claretta membuat wajah gadis kecil itu merona seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Claretta [END]
Fantasy[Fantasy & (Minor)Romance] Claretta Nelson. Setelah mendengar ramalan dari seorang lelaki aneh bernama Onyx itu, Claretta mengalami kejadian aneh juga kejadian tak mengenakan. Claretta dicakar dan digigit oleh seekor kucing, kucing yang memiliki pen...
![Claretta [END]](https://img.wattpad.com/cover/270838133-64-k777552.jpg)