"Kucing itu beneran terkena rabies 'loh setelah dua hari kemudian gejalanya baru muncul."
Claretta mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian ia mengguncang lelaki dihadapannya berulang kali meminta kejelasan ulang.
Deg
Setelah puas mengguncang lelaki itu segera Claretta menghampiri dirinya itu mencoba menyatu dengan raganya seperti yang dikatakan kakek itu namun nihil tak ada perubahan sama sekali.
Gadis itu menundukkan kepalanya dalam membuat lelaki yang mematung itu menghampirinya seraya menepuk pundak Claretta.
"Sudahlah apa enaknya hidup menjadi Claretta? Harusnya kau mendambakan kematian yang sekarang kau miliki ini!" seru lelaki itu begitu semangat menekankan kata damba terhadap kematian.
Alih-alih menyahut lelaki itu, Claretta justru membalikkan badannya kemudian menampar lelaki itu.
Lagi-lagi lelaki itu tertawa kencang, "tanpa raga kau hanya menamparku seperti kau menampar angin."
Claretta kembali menundukkan kepalanya lagi, mulutnya terkatup rapat-rapat tak membalas ucapan lelaki itu lagi.
Merasa diabaikan, lelaki itu kini menarik Claretta kembali kedalam ruang serba putih sebelumnya.
Sebuah ruang berwarna putih berbentuk persegi tanpa batas itu hanya ada mereka berdua didalamnya. Lelaki itu duduk bersimpuh melihat gadis dihadapannya yang tengah menelungkup itu.
"Mau sampai kapan kau menangisi hidupmu yang tak berharga itu?" tanya lelaki itu membuat Claretta mendongak dan mengusap wajahnya kasar.
Iris matanya menatap tajam lelaki itu, "kau ... sungguh kejam!" lagi-lagi dirinya bangun hanya untuk menampar lelaki itu walaupun ia tahu itu tak akan berguna karena tanpa raganya ia hanya menampar angin saja.
"Bisakah kau berhenti mengatakan kalau hidupku tidak berguna?"
"Tidak. Hidupmu memang tidak berguna, kau tidak punya teman karena kau dekat dengan lelaki itu."
***
Tidak. Itu tidak benar. Claretta yang ingin menyangkal perkataan lelaki itu beberapa jam sebelumnya terpaksa mengurung niat.
Perkataan sedikit benar namun yang membuat mereka menjauhi Claretta karena gadis itu irit bicara dan dia hanya banyak bicara pada Caldwell dan mengenai topik yang disukainya.
Mengenai lelaki itu, ia tak pernah menyebutkan namanya hingga ketika ia menghilang meninggalkan Claretta sendirian diruangan serba putih ini.
Gadis itu menghela nafasnya, entah sudah yang keberapa ia terus menerus menghela nafasnya.
Luka-luka pada tubuhnya kian menghilang, membuat ia penasaran apa yang terjadi dengan raganya di rumah sakit itu.
"Aku kembali membawa berita." sebuah suara diikuti angin yang begitu dingin membuat Claretta bergidik ngeri begitu lelaki itu datang membawa beberapa camilan.
Claretta menatap camilan itu beberapa kali lalu mendongak melihat lelaki dengan iris matanya yang berbeda itu.
"Memangnya ... camilan itu bisa dimakan?"
Pertanyaan polos keluar dari mulut Claretta setelah ia mengingat bahwa mereka berada di dimensi antara hidup dan mati ini.
Lelaki yang membawa camilan itu duduk tanpa menjawab pertanyaan dari Claretta lalu mulai membuka salah satu camilan dan memakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Claretta [END]
Fantasy[Fantasy & (Minor)Romance] Claretta Nelson. Setelah mendengar ramalan dari seorang lelaki aneh bernama Onyx itu, Claretta mengalami kejadian aneh juga kejadian tak mengenakan. Claretta dicakar dan digigit oleh seekor kucing, kucing yang memiliki pen...
![Claretta [END]](https://img.wattpad.com/cover/270838133-64-k777552.jpg)