Part 18 : Dongeng dan Sihir

30 5 0
                                        

Sudah dua hari sejak Claretta disambut oleh keluarga Schwarz, kurang lebih dirinya memahami bagaimana sifat mereka.

Yang memasak dirumah ini adalah Unwyn, lalu yang membagi tugas bersih-bersih adalah Isaac.

Dan hari ini Claretta mendapatkan tugas bersih-bersihnya bersama Alfrex dan Endcly. Dua orang yang paling tidak ingin Claretta temui.

"Bunga kecilku~ kita hari ini mau main apa?" Claretta bergidik tak menyadari Endcly yang berada dibelakang berbisik serta meniup daun telinganya.

Sementara Alfrex yang melihat itu memicingkan matanya menatap tajam Endcly, "kita harus sopan pada tamu kita, End." lalu memberi peringatan pada lelaki bersurai merah itu.

Lelaki bersurai merah itu mendengus, "jika ia seorang tamu mengapa Isaac memberinya tugas bersih-bersih?" balas Endcly sembari melempar sapunya asal mendekati Claretta dan memeluknya.

"Ya 'kan, bunga kecilku?"

"Tidak, karena dia adalah pembantu." sebuah sahutan dari seorang lelaki bersurai pirang itu membuat mereka bertiga menolehkan kepalanya.

Mereka bertiga bergidik ngeri melihat raut ekspresi lelaki itu yang tersenyum lebar dengan matanya yang menyipit.

"Semua kebagian 'kok, oh tapi jika pembantu ingin membantu setiap hari akan lebih menyenangkan!" katanya lagi dengan senyum yang tak kalah lebarnya dengan yang sebelumnya.

Alfrex mengangkat bahunya seraya memungut sapu yang dijatuhkan Endcly dan memberinya pada lelaki itu.

Lagi-lagi Endcly mendengus, "kita harus patuh jika tidak mansion ini akan seperti rumah hantu ...."

***

Helaan nafas terdengar beberapa kali dengan hembusan kasarnya itu, Claretta yang berada seorang diri di taman belakang mansion tengah merebahkan dirinya diatas rerumputan.

Tanpa memperdulikan pakaiannya yang sudah penuh debu juga noda serta peralatan yang berada disampingnya tergeletak sembarang.

"Anda terlihat lelah sekali."

Claretta membuka sebelah matanya, bisa ia lihat seorang Alfrex tengah berdiri dengan pakaiannya yang sudah bersih.

Tangannya terarah kearah lelaki itu, Alfrex yang tahu maksudnya segera meraih tangan Claretta membuat gadis itu terduduk.

Gadis itu tersenyum tipis, "tidak usah formal ... aku agak tidak nyaman." ucapnya mengutarakan apa yang ia pikirkan.

Alfrex diam sesaat kemudian ikut tersenyum tipis, ia duduk disebelah Claretta lalu menaruh kepalanya diatas pangkuan Claretta.

"Kalau begitu permisi ...." lirihnya tanpa memperdulikan wajah Claretta yang sudah memerah, lelaki itu lebih dulu memejamkan matanya.

"Hei, kau tidak tidur 'kan?"

Claretta menggoyangkan kepala lelaki itu tak mendapat balasan akhirnya ia membiarkan lelaki itu tertidur di pangkuannya. Dan tanpa sadar Claretta dengan tangannya yang menumpu pun ikut tertidur.

Suara angin yang berhembus meniupi dedaunan ditemani suara gemericik air dari air mancur dibelakang mereka membuat suasana yang hening itu sangat sempurna sebagai media meditasi.

Semak-semak yang berada didekat mereka bergerak-gerak, sebuah kepala dengan surainya berwarna merah itu menyembul.

Dari balik semak-semak, Endcly menyeringai jahil. "Wind Blast¹³!" dirinya setengah berteriak itu mengucapkan mantera seketika sebuah hembusan angin yang sangat kencang menerpa mereka.

Claretta [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang