Part 17 : Dongeng dan Hutan Terlarang

25 5 0
                                        

Claretta sesekali menoleh kebelakang melihat kepala desa itu tengah melambaikan tangannya ditemani prajuritnya yang tengah menunduk.

Gadis itu balas melambaikan tangan sedikit tersenyum tipis lalu kembali berjalan menyusuri jalan yang penuh batu itu.

Ia terus berjalan sesekali melihat kiri dan kanannya yang penuh dengan berbagai macam pepohonan rindang ditambah semilir angin yang dingin mungkin bisa membuat orang awam ketakutan, tapi tidak dengan Claretta ia terus melangkah memberanikan diri.

Hanya satu yang ia mau, ia ingin hidup lebih lama disini. Mungkin ini adalah takdir tuhan yang mengirimkan dirinya ke dunia dongeng yang ia suka.

Gadis itu memicing dari jauh tampak beberapa pohon yang seolah tengah berkerumun. Claretta melebarkan senyumnya dan segera ia berlari menghampiri pepohonan itu.

Begitu sampai ada sebuah pagar kayu yang sudah lapuk disana tertulis larangan tuk menginjakkan kaki di hutan ini. Hutan ini berbahaya.

"Lebih berbahaya jika aku mati lagi 'kan?" tanpa pikir panjang Claretta melompati pagar kayu.

Sebelum kakinya benar-benar memasuki hutan terlarang itu, sebuah suara lirihan terdengar membuat gadis itu seketika menoleh.

Seorang lelaki yang memiliki surai berwarna cokelat gelap itu ditambah iris mata kirinya yang tertutup poni itu.

Lelaki itu mendekati Claretta, "kau ... tidak boleh masuk." ucapnya singkat seraya menarik lengan Claretta kembali ke batas pagar kayu itu.

"Tidak boleh. Bahaya." ia meneruskan kalimatnya lalu menatap Claretta tajam. "Bertemu End, kau akan lupa." kata lelaki itu lagi setelah diam cukup lama itu.

Claretta memiringkan kepalanya, "siapa End?"

"Dia ...." ucapan lelaki dihadapannya yang menggantung itu membuat Claretta penasaran.

Claretta merasa lelaki itu tengah menatap satu titik dengan pandangan kosongnya diikuti lah kearah lelaki itu melihat. Beberapa warga desa dengan batu ditangan mereka hendak melempari mereka dengan batu.

"Pergi, anak terkutuk! Seharusnya kau tidak menginjakkan kakimu ke desa ini." seruan demi seruan saling bersahutan melihat lelaki itu dengan tatapan marah.

"Ayo, pergi."

***

"Eorone."

"Huh?" Claretta menolehkan kepalanya melihat lelaki itu dengan bingung.

Lelaki yang tengah menarik lengannya kini berhenti ia menatap Claretta lekat, "nama." ucapnya singkat lalu kembali berjalan sambil menarik lengan Claretta lagi.

Keadaan hening seketika, Claretta membiarkan dirinya diseret sedangkan lelaki itu masih tetap diam.

Suasana canggung hanya ada gemerisik dedaunan pohon saja. Tak lama setelah beberapa puluh langkah memasuki hutan, lelaki itu yang menyebut dirinya sebagai Eorone berhenti.

"Berpisah." katanya singkat sembari melepas pegangan tangannya dan menyuruh Claretta untuk mengambil jalan yang satunya.

Claretta terdiam, gadis itu pun ikut menunjuk arah yang berlawanan dengan Eorone. "Mengapa?"

"Tidak suka."

Gadis itu kehabisan akal, akhirnya ia berpura-pura melangkahkan kakinya kearah berlawanan sesekali melirik Eorone memastikan lelaki itu sudah pergi lebih dulu.

Setelah beberapa langkah dan sesekali melirik, Claretta akhirnya menyerah dan memutuskan berjalan kearah berlawanan itu ketika ia mendapati Eorone meratapi dirinya yang tak kunjung pergi itu.

Claretta [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang