Claretta menatap cermin besarnya seraya menyisir rambut pirangnya yang panjang itu, ia menyingkap beberapa helai sembari mengepangnya kecil.
Ia menghela nafasnya seraya melirik jam dinding disamping cermin besar itu. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi.
Gadis itu menghela nafasnya lagi kemudian mengenakan baju berwarna kuning dengan jumpsuit setelannya. Merasa pas, akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar kamarnya.
"Loh, Clare. Kau mau kemana?" sapaan pagi terdengar membuat wajah Claretta tersipu malu, "seharusnya kau belajar untuk ulangan kenaikan kelasmu, dan apa yang akan kau pilih Hauptschule¹? Realschule²? Gymnasium³? Gesamtschule⁴?" lanjut Cassie yang membuat Claretta langsung mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan beruntun dari ibunya itu.
Claretta menatap langit-langit rumahnya kemudian ia berdeham beberapa kali, ia melirik ke atap rumahnya kemudian menganggukkan kepalanya seraya menepuk tangannya.
"Gesamtschule, mungkin?"
Wanita parubaya itu mendekati Claretta kemudian menarik telinganya pelan, "tetapkan keputusanmu terlebih dahulu, jangan sampai kau salah ambil 'loh?"
"Clare akan mengingatnya, Ma." jawab Claretta dengan cepat kemudian hendak berbalik pergi menuju pintu depan, belum sempat berjalan ia lebih dulu ditahan oleh Cassie.
Cassie melirik putrinya dari atas hingga bawah kemudian menarik senyum simpul.
"Clare, jika kau memilih Gesamtschule ... Kau akan melanjutkannya ke Vocational School⁵ atau Fachhochschule⁶?" tanya Cassie lagi membuat Claretta memiringkan kepalanya.
Claretta merasa ia seperti diminta untuk diam dirumah lebih lama.
Melihat raut wajah putrinya yang berubah itu, Cassie tertawa lepas.
"Hahaha, maafkan Mamamu ini. Sudahlah kau hati-hati ya." tawa Cassie seraya pergi kembali melanjutkan aktifitas memotong sayurannya.
Gadis itu menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kaki ke ruang tamu, disana ada Riley yang tengah membaca buku. Dan Claretta berharap semoga ayahnya tidak menegurnya seperti ibunya yang membuat ia jadi kehabisan waktu.
"Caldwell sudah menunggu didepan pintu." kata Riley tanpa mengalihkan tatapannya yang fokus membaca buku itu.
Claretta menundukkan kepalanya memainkan jari, "k-k-kenapa Ayah tidak memintanya masuk?"
Mendengar pertanyaan putrinya itu, Riley mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lebar tak lama setelahnya ia tertawa.
Rona merah muncul di pipi Claretta ketika ia diketawai aneh oleh orang tuanya itu, akhirnya ia membuka pintu, dan benar saja disana sudah ada Caldwell menggunakan baju berwarna putih dengan jeans hitamnya membuat terkesan rapih dari yang biasanya.
"K-ki-kita akan kemana?" Claretta mengalihkan pandangannya tak ingin menatap lelaki itu lebih lama begitupun dengan Caldwell, mereka sama-sama mengalihkan pandangan mereka.
'Tap tap'
Sebuah langkah kaki terdengar mendakti mereka membuat keduanya sama-sama menoleh kearah pagar, tak lama Clohre datang dengan senyum terukir.
"Tuan Muda, mobilnya sudah siap jalan." kata Clohre menginterupsi, Caldwell melirik Claretta kemudian menarik tangannya tanpa aba-aba menuju mobilnya yang terparkir agak jauh dari rumah Claretta.
***
Setelah mobil itu berjalan cukup jauh dari rumahnya, mereka hanya ada dalam keheningan hingga pelayan yang tengah menyetir itu, Clohre membuka suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Claretta [END]
Fantasi[Fantasy & (Minor)Romance] Claretta Nelson. Setelah mendengar ramalan dari seorang lelaki aneh bernama Onyx itu, Claretta mengalami kejadian aneh juga kejadian tak mengenakan. Claretta dicakar dan digigit oleh seekor kucing, kucing yang memiliki pen...
![Claretta [END]](https://img.wattpad.com/cover/270838133-64-k777552.jpg)