Part 9 : Dongeng dan Kecelakaan

67 13 0
                                        

"Clare, kamu tidak apa nak?"

Suara Cassie memenuhi kamar gadis itu berada. Dan sudah berapa kali Claretta bilang pada Ibunya. Kalau ia tidak apa-apa.

"Tapi bagaimana jika rabies itu menyebar?"

Claretta mengacak-acak rambutnya, memikirkan kejadian kemarin. Kucing yang kemarin menggigit serta mencakar itu, tidak memiliki gejala penyakit rabies.

Seharusnya itu tidak akan membuatnya kenapa-kenapa, tapi Cassie sang ibu terlalu memikirkan keadaannya.

Iris emasnya menatap sayu ibunya yang sekarang masih khawatir terhadapnya. Bahkan ketika ia berangkat ke sekolahpun Cassie yang mengantarnya.

Claretta menghias cakaran kucing yang berada di kedua pipinya menggunakan make-up atas saran Cassie.

"Kau harus menggunakan ini!" kata Cassie setengah antusias seraya menyodorkan beberapa alat hias.

Claretta sudah beberapa kali menolak dan mengatakan pada Cassie bahwa lukanya akan sembuh jika ditempel oleh plester saja.

Tapi begitupula dengan Cassie yang bersikeras meminta Claretta menggunakan make-up.

"Huh ...."

Claretta menghela nafasnya cukup panjang kemudian pergi keluar rumah, disana sudah ada Caldwell dan Clohre yang sudah ada didepan pintu mobil siap membukanya kapan saja.

Claretta kembali menatap kedalam, namun Cassie tak kunjung keluar mengantarkannya sampai depan pintu. "Mama, aku berangkat!" teriak Claretta sembari berjalan menghampiri Caldwell.

Pelayan lelaki itu dengan sigap membuka pintu membiarkan Claretta yang masuk lebih dulu kemudian tuan mudanya barulah ia menutup pintu itu dan berjalan ke kursi pengemudi.

Mereka berjalan dengan keheningan hingga gedung sekolah hanya berjarak lima meter lagi, Caldwell membuka suaranya.

"Claretta, pipimu."

Iris emasnya mengerjap pelan kemudian menyentuh pipinya yang berhias kumis kucing itu, "ah itu, habis dicakar kucing. Kata mama suruh pakai make-up yang sudah diolesi obat."

Lelaki itu berdeham sebentar kemudian kembali menatap jalanan. Pikirannya mulai menerka kalau Claretta sedang dijahili oleh teman-temannya.

Mereka berdua turun dari mobil, seperti biasa mereka cukup menarik banyak perhatian para murid yang lalu-lalang hendak masuk ke gedung sekolah.

Atau beberapa dari mereka yang sudah masuk kembali keluar hanya untuk melihat Caldwell.

Lelaki itu terkekeh pelan kemudian mendekati Claretta lebih dekat dan menggaet lengan Claretta, "jika boleh aku akan pindah ke kelasmu." Caldwell membuka mulutnya membuat Claretta menghentikan langkahnya.

"Kau? Ke kelasku!?"

"Sssstt! Jangan berisik nanti yang lain dengar." lelaki itu membungkam mulut Claretta, segera menyeretnya masuk kedalam gedung sekolah sebelum menarik perhatian lagi.

Mereka berdua menghela nafas bersamaan begitu memasuki gedung sekolah dan berjalan sekitar beberapa meter menuju koridor kelas.

Caldwell melepas gaetan tangannya, ia berhenti membuat Claretta ikut berhenti kemudian menatapnya meminta penjelasan dari lelaki itu.

"Aku hanya ingin melindungimu."

Kenapa dia tahu?

***

Keesokan harinya, seperti kata lelaki itu. Ia benar-benar pindah ke kelas Realschule dan ia cukup dekat dengan Claretta. Bahkan menjadi seatmate-nya.

Claretta [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang