Mengetahui adanya perseteruan di lantai bawah, tak urung membuat hati Joanne ketar-ketir saat itu juga. Ditambah dengan keadaan Alice yang langsung melesat ke ruang monitor saat diberitahukan bahwa ada penyerangan, menyisakan Joanne yang terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi ketika Alice memberikan ultimatum agar Joanne tetap di tempat. Namun Joanne yang tidak tahan kalau hanya berdiam diri saja lantas bangkit dari kursi, lalu berusaha keluar dari dalam ruangan yang ternyata dikunci.
"Ah, sial." makinya sambil menendang pintu kayu berukuran jumbo itu.
Otaknya cepat berputar saat melihat linggis yang terletak di selipan rak ukiran khusus pajangan. Sedikit berdecak kagum memuji diri sendiri begitu sadar seberapa jeli dirinya dalam keadaan terjepit seperti sekarang ini. Matanya mengedar, kembali menyunggingkan senyum lebar sewaktu melihat dengan jelas adanya lubang jalur ventilasi yang hanya ditutup dengan menggunakan baut. Namun sayangnya, ventilasi dengan desainnya yang terkesan rapuh itu terletak di atap, yang mana sangat tinggi untuk dicapai tubuh kecil Joanne.
Tidak lama berpikir, Joanne naik ke atas meja kuasa milik Alice, mengarahkan linggis yang ia genggam untuk mencongkel ventilasi. Jantungnya berdegup dua kali lipat, terlebih setelah rungunya menerima sukarela pasokan suara baku tembak yang terdengar begitu nyaring dari lantai bawah. Berulang kali melantunkan doa agar usahanya kali ini berhasil.
"Hidupku jadi banyak drama di sini." komentarnya sesaat setelah berhasil membongkar baut. "Ah, bisa-bisa aku akan gila sebentar lagi."
Joanne sedikit tercengang sewaktu melihat terobosan dari ventilasi tadi adalah sebuah lorong sempit yang panjang, diperkirakan hanya muat untuk ukuran tubuh anak kecil berusia lima tahun. Pemudi yang satu itu lantas menyempatkan diri untuk mendengus kecil ketika aroma tidak sedap menyeruak memaksa masuk ke dalam hidungnya. Gadis itu cepat-cepat merangkak seperti balita sehabis bersusah-payah mencapai mulut lorong. Tidak mau lama-lama terperangkap dalam lorong yang bercabang layaknya labirin. Beberapa kali menggerutu kala harus cepat menentukan pilihan sewaktu melihat jalan lorong yang berkelok.
"Kalau aku sampai tersesat dan kehabisan stok oksigen, apa aku akan mati menjadi bangkai? Atau hidup kembali sebagai zombi?"
***
Terburu-buru langkah Arthur mengejar waktu yang semakin lama semakin sempit. Mansion benar-benar kacau setelah diobrak-abrik oleh para suruhan komplotan tempat mendiang Riley bernaung. Semacam serangan balas dendam, karenanya Arthur berdecak sebal.
"Jangan ke daerah koridor lima dan enam, mereka banyak memasang jebakan laser." peringatnya pada alat komunikasi berbentuk jam tangan kecil, penggunaannya jauh lebih praktis dibanding ear zoom kalau menurut Arthur.
Pemuda itu memindai lokasi setempat, meringis geli begitu mendapati banyaknya genangan merah pekat beraroma anyir. Beberapa rekannya sibuk menembak, atau bahkan beradu senjata tajam. Untuk serangan kali ini, Arthur enggan mengeluarkan banyak tenaganya dan lebih memilih mengawasi jalannya permainan. Hemat-hemat energi, kalau-kalau suatu saat eksistensinya sebagai partisipan mendadak diperlukan.
Si Shizuragi satu ini kembali mengedarkan pandangannya, namun mendengus kesal sewaktu retinanya merekam jelas bagaimana seringai lawan tersungging padanya. Dalam sepersekian detik pun ia tahu, bahwa musuhnya yang berperawakan tinggi itu tengah mengincar dirinya. Arthur tidak mau berurusan lebih jauh, maka dari itu ia lebih memilih mundur.
"Mau lari kemana, Shizuragi Arthur?"
"Fuck." Arthur mengumpat, tepat setelah tubuhnya saling berhadapan dengan yang ia hindari awalnya. "Diam di tempatmu, atau---"
KAMU SEDANG MEMBACA
Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]
ActionPerihal sesuatu yang sering digaungkan, sesuatu yang sulit dipahami, namun kerap kali bersangkutan. Romance | Thriller | Mystery | Fantasy | Adventure Hamada Asahi x Shin Ryujin Fanfiction ©acathmoy's own story, 2021.
![Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/269394841-64-k549729.jpg)