Malam itu, seharusnya tidak kacau begini. Rencananya, semua harus tetap masih dalam kendali. Sepatutnya, lengah tetap tidak boleh terjadi.
Kerutan kening yang cukup dalam pada raut wajah Margareth jelas saja menimbulkan tanda tanya. Tangan mungilnya yang menggenggam ponsel dan menempelkannya ke telinga beberapa kali tanpa sadar meremat kuat-kuat. Mimik mukanya kerap berubah-ubah seiring suara dari seberang saluran telepon terdengar menyahuti.
"Secepatnya." ucapnya yang langsung mematikan saluran secara sepihak.
Gadis bersuara emas itu kemudian membalikkan tubuh, menatap Joanne, Kevin, dan Arthur yang bergerak di depan rombongan secara bergantian. "Joanne dan Arthur, kau ikut aku. Kevin, tolong kau arahkan rombongan kembali ke mansion."
"Ada apa?" tanya Kevin yang sanggup mewakili semuanya.
Margareth berdecak. "Judy diculik. Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu."
Benar, tidak ada banyak waktu, bahkan untuk sekadar terkejut. Joanne yang baru hendak menyuarakan reaksinya, lantas lekas dipaksa redam—sebab lengan kanannya kini ditarik kuat oleh Arthur mengikuti langkah cepat Margareth. Kevin sudah tidak butuh banyak instruksi, lelaki itu cukup cakap melaksanakan tugasnya.
"Arthur, kau saja yang mengemudi." pinta Margareth sambil melempar kunci kendaraan berbentuk kapsul yang ia pakai tadi. "Joanne, kau duduk di belakang, biasanya tekanan di belakang tidak sekuat set kursi depan."
Arthur dengan cekatan menangkap kunci serta sinyal yang diberi. "Lokasi? Sukito?"
"Sukito." Margareth mengangguk yakin.
Tidak ada lagi pertanyaan yang terlahir, semua sibuk dengan rumitnya pikiran masing-masing. Antara Margareth yang cemas dalam diam, Arthur yang ingin semuanya tuntas dengan senyap, pula Joanne yang enggan mengeluarkan suara sampai kembali terciptanya hening. Tidak masalah, toh, dalam situasi seperti ini bukan waktu yang tepat untuk banyak omong.
Sementara di sisi lain, Kevin tak kalah repot. Mengawal begitu banyak agen sendirian tak urung membuatnya kewalahan. Untungnya, masalah kendaraan dapat teratasi, pihak markas utama sudah memfasilitasi.
"Kenapa kau hanya sendirian? Mana yang lain? Bukannya biasanya selalu ada yang mampir menjemput?" Tanya William dari luar gedung, terlihat heran tatkala melihat rombongan hanya diatur satu orang. "Kalau tidak salah, tadi ada Margareth dengan—aku tak tahu."
Kevin membungkuk sejenak memberi hormat, lalu menjawab. "Benar, Sir. Namun, Margareth dan Joanne ada urusan khusus yang harus melibatkan Arthur."
Dahi William mengernyit. "Arthur juga ikut? Sepertinya benar-benar perlu diwaspadai, ya?" Pria itu mengurai kerutan dahinya dengan ekspresi yang sulit ditebak sebelum berakhir menimpali. "Butuh bantuanku?"
***
"SIALAN!"
Teriakan geram Judy yang diikuti tubuhnya yang bergerak memberontak sanggup membuat para bodyguard utusan si 'penculik' sampai harus turun tangan ekstra dalam menghadapinya. Gadis muda itu bahkan mulai nekat menginjak kaki lawannya kuat-kuat, menyikut, atau justru menendang orang-orang yang menahannya. Serangannya sekilas terlihat berantakan dan menghabiskan stamina, namun ia pikir akan lebih baik begini dibanding harus diam menyerahkan diri dengan mudahnya.
"Kau sudah berani melawan?"
Ah sial, suara itu—suara yang sudah lama Judy tak ingin dengar kembali. Tanpa sadar, bibirnya bergetar dan helaan napasnya memburu begitu cepat seiring fokusnya terberai menyebabkan tubuhnya kembali dipaksa berlutut menuruti perintah.
Dalam kondisi lutut tergores tekstur pijakan yang kasar, Judy meringis sewaktu telinganya berhasil menangkap ketukan sepatu dari arah belakangnya. Bahunya sakit, nyerinya tak main-main terlebih ketika para bodyguard berbadan kekar yang membekuknya tak sedikitpun memberi kelonggaran. Kepala yang semula menengadah menantang, kini tertunduk lunglai lengkap dengan sekujur tubuh mulai dingin.
"Kenapa tidak melawan lagi?"
'Fuck!'
Dalam hati, Judy mengumpat perihal kenapa suara itu jadi cepat sekali berpindah? Atau dirinya yang lambat menyadari pergerakan si lawan sampai-sampai terlewat banyak hal?
Derap langkah itu benar-benar berhenti persis di belakang tubuhnya. Tanpa menoleh sedikitpun, Judy tahu jarak mereka berdua tidak lebih dari tiga puluh sentimeter, bahkan telinganya dengan mudah mendengar embusan napas berpola dari si pemilik suara. Gadis itu memejamkan mata erat-erat, tak berani berkutik atau kembali memberontak seperti saat sebelumnya.
"Kau masih terbawa masa lalu?" Terdengar kekehan sumbang setelah kalimat tersebut diselesaikan. "Aku baru tahu kalau anggota organisasi budak negara itu bisa menjadi senaif ini."
Judy menelan salivanya sesaat sebelum kemudian menukas tegas, "Siapa bilang aku bergabung dalam organisasi ini untuk kepentingan negara?"
Decihan sinis keluar dari bibir tebal si gadis, yang kemudian kembali memberanikan diri memberontak setelah merasa energinya perlahan memulih. Terasa agak sia-sia karena nyatanya tidak sepenuhnya terlepas dari kekangan musuh, tapi setidaknya cukup untuk memberi gestur perlawanan. Erangan kecil nan lirihnya terdengar begitu saja sewaktu Judy memaksakan kepalanua yang terasa agak kaku untuk menoleh ke belakang.
"Kau tahu sampah? Nah, itu dirimu." ujarnya sambil mengatur napas. "Tujuanku bergabung adalah ingin menumpas sampah-sampah masyarakat tak tahu diri seperti dirimu, bukan seperti yang kau bilang, Edmund."
Edmund—si pemuda yang sedari tadi membangun percakapan—tergelak kecil sebelum menuntun kakinya memutari posisi tubuh Judy. Pemuda itu lalu berhenti tepat di hadapan si gadis yang masih setia melemparinya tatapan mata tak bersahabat. Tidak ada suara lagi selain embusan napas Judy, serta ringisan yang sesekali tercipta sewaktu nyeri pada sekujur badan tak kunjung berkurang.
"Menyerah—"
"STAY AWAY!"
Perkataan Edmund tersela secara mendadak ketika seruan bernada perintah itu menggelegar seisi gedung yang kemudian disusul munculnya derap langkah tak beraturan. Desing katana yang dihunus membuatnya sedikit bergidik ngilu, sampai pekikan nyaring dari Judy menyadarkannya kembali.
"Aku di sini!" seru Judy yang merasa harapannya untuk selamat perlahan meningkat.
Si peneriak—tak lain adalah Margareth, menodongkan senjata api miliknya ke arah bodyguard yang masih menahan pergerakan temannya. Maniknya sesekali berotasi mengawasi gerak-gerik Edmund yang bisa saja sewaktu-waktu bertindak nekat, sementara senjatanya masih tetap terangkat. Margareth tanpa ragu melepaskan peluru amunisinya ke atap, sekadar ancaman agar mereka menyingkir menjauh dari Judy, namun sayangnya tidak semudah itu untuk dapat berhasil mengelabui.
Presensi Arthur dan Joanne setelahnya mulai mengambil alih arah penyerangan mendadak ini. Kedua anak Shizuragi itu entah sejak kapan mulai akur, bahkan dapat menunaikan kerja sama dengan cukup baik tanpa harus banyak dikoordinir. Mereka berdua serempak mengepung Edmund yang masih bereaksi minim, memanfaatkan situasi untuk pengalihan atensi agar Margareth bisa menarik peluang guna membebaskan Judy.
Diluar dugaan sebelumnya, Edmund tetap santai. Padahal kalau menurut pengalaman Arthur yang sudah pernah berduel dengan lelaki itu, seingatnya Edmund adalah tipe petarung agresif dan tak mau mengalah. Aneh jika menjumpainya tenang bahkan sesudah terang-terangan ditentang.
"Kenapa reaksimu hanya begitu?" celetuk Arthur yang tidak tahan lagi.
Edmund terkekeh sebelum mengibaskan rambutnya yang menghalangi pandangan, lantas menukas. "Memangnya kau mengharap aku akan bereaksi seheboh apa? Apa aku harus panik? Harusnya pertanyaan itu kau tujukan untuk dirimu sendiri, Arthur."
Benar-benar ada yang tidak beres. Dan mengapa pula Arthur baru memahaminya ketika Edmund kembali melanjutkan kalimatnya barusan?
"Tidak sadarkah kalian? Ini semua hanya jebakan."
-Something Unexpected-
Catatan Moy: tenang, aku double up langsung kok. Di-scroll aja yaw!
KAMU SEDANG MEMBACA
Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]
AçãoPerihal sesuatu yang sering digaungkan, sesuatu yang sulit dipahami, namun kerap kali bersangkutan. Romance | Thriller | Mystery | Fantasy | Adventure Hamada Asahi x Shin Ryujin Fanfiction ©acathmoy's own story, 2021.
![Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/269394841-64-k549729.jpg)