BAGIAN 2

354 58 26
                                        

Para pengunjung yang berada di lantai bawah tempat dimana ruang dansa berada, masih terlihat menikmati pestanya. Sementara keadaan yang tidak kondusif benar-benar mencerminkan bagaimana suasana atap gedung berlantai lima belas itu. Semua ini berawal dari aksi Arthur dan Kevin yang ketahuan lawan, berakhir terlibat aksi kejar-kejaran dengan para suruhan Riley, dengan cepat memutuskan untuk melarikan diri ke atap. Setidaknya jika terjadi pertumpahan darah seperti sekarang ini, tidak memakan banyak korban tak bersalah.

"Benarkah ini yang disebut-sebut mereka sebagai Draco?" celetuk salah satu yang mengepung, agaknya memang ditugaskan untuk menumpas Arthur lebih dulu. "Pamormu begitu kuat berembus, tapi tak pernah kusangka kita akan bertemu langsung dengan jarak sedekat ini. By the way, kau terlihat sangat ringkih untuk seukuran petarung, lalu apa yang perlu mereka takutkan?"

Arthur berdesis lirih, mengeratkan pegangannya pada Joanne yang jatuh pingsan di punggungnya. Sementara dirinya berusaha memutar otak yang terkadang sulit berfungsi dalam posisi terjepit. Namun sayang, tidak ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membantunya keluar dari kepungan sekarang.

"Hei. Apa kau bisu?" tanya yang lainnya sembari menodongkan pistol berjenis revolver.

Arthur berdecak, masih tetap setia mencari celah agar dapat menyerang dalam kendali. Diam-diam, ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan paket granat dengan daya ledak kecil, menunggu saat yang tepat untuk menarik tuas. Pergerakannya halus, bahkan sepintas hanya terlihat seperti tengah membenahi letak jas yang terbuka.

"Keberadaanmu itu hanya akan menyesakkan bumi. Baiknya, kau segera kami selesaikan dibanding harus memadati bumi dengan semua omong kosong perihal keadilan yang selalu kaummu agungkan."

Arthur menyipitkan mata ketika menangkap pergerakan lawan, secepat mungkin menghindar sewaktu sadar salah satu dari mereka mulai menghunus belati. Tanpa pikir panjang, pemuda Shizuragi itu memutuskan berguling menepikan tubuh dengan kedua lengan melingkari pinggang kecil si gadis. Granat kecil tadi ia lemparkan setelah menarik tuasnya dengan gigi, sebagian besar tepat mengenai badan lawan.

Seringai buasnya ditampilkan senang hati ketika menyaksikan langsung bagaimana bagian tubuh para pengepungnya itu tercerai-berai, menyisakan lautan merah pekat yang setelahnya menyatu dengan kilau marmer. Arthur menyempatkan diri menolehkan kepalanya memeriksa si gadis Shin yang belum juga sadarkan diri. Tanpa sadar pemuda itu menatapnya lekat dengan intensitas tinggi, melupakan fakta bahwa dirinya masih berada di arena pertempuran.

"Jangan lengah, Draco!" seru Kevin dari arah berlawanan.

Nada tinggi dari sesama Shizuragi itu tak urung membuyarkan segala genosida yang bersitegang di dalam benak pemuda pucat itu. Arthur kembali membetulkan posisi, memasang sikap siaga seiring langkahnya berpijak tegak menantang. Kevin memerintahkan dirinya agar jangan lengah, tapi untuk apa?

Setidaknya, itu yang sempat terlintas pada pikirannya sebelum suara katana yang beradu dengan udara memancing alarm waspada dalam dirinya. Arthur lantas mengandalkan ketajaman pendengarannya, sesaat setelah itu menggeser kaki kanan sebesar empat puluh derajat ke arah sejalur. Lantas menemukan Riley yang sedang menyeringai. Sedikit banyak membuat pemuda Shizuragi itu mengumpat pelan setelah mendapati bahunya tergores akibat serangan mendadak.

"Serahkan gadis itu, dan kau bisa pulang dengan selamat. Kau tidak berhak mencampuri masalah seperti ini, budak negara." hardiknya.

"Tidak, dia milikku. Kau yang harus mundur, Joanne sudah ada dalam garis tanggung jawab kami mulai sekarang." tukas Arthur.

Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang