"Selamat, para pejuang semuanya!"
Suara riuh tepuk tangan mulai mengudara, tepat setelah komandan Jeffrey mengucapkan kalimatnya. Beberapa kali suara siulan dan sahutan terdengar dari bagian audiens, turut serta meramaikan perayaan kemenangan. Hal semacam ini sungguh jarang diadakan, sebab hanya akan digelar ketika berhasil menumpas klan-klan besar seperti klan Mizuki kemarin.
Suasana pesta terasa begitu kental, membuat Arthur mau tak mau ikut mencicipi bagaimana traumanya kembali datang. Tangan kirinya yang memegang gelas minuman tampak beberapa kali oleng karena gemetarnya sulit ia atasi. Sikap tubuhnya yang terlihat mencolok sukses membangkitkan rasa simpatik Judy yang kebetulan berdiri tepat di sampingnya.
"Hei, mau kuantar keluar? Sepertinya kau terlihat tidak baik-baik saja." ucapnya sambil mengulurkan tangan setelah meletakkan gelas berisi tequila-nya.
Arthur menganggukkan kepalanya lemas, membiarkan Judy mengambil alih dirinya, membawa tubuh yang tengah ringkih itu keluar dari ruangan pesta. Judy tahu, pemuda yang kini dalam kendalinya selalu sulit mengatasi rasa takutnya terhadap pesta. Maka dari itu, si manis Shizuragi yang satu itu memilih untuk membawa ketua timnya ke halaman belakang yang tidak seramai aula.
"Apa rasanya masih sakit seperti dulu?" tanya gadis itu setelah berhasil membawa Arthur duduk di bangku halaman. "Apa kau bisa menahannya? Perlu kubawakan obat penenang, atau perlu kupanggilkan seseorang?"
Arthur menggeleng dengan kernyitan menghiasi dahinya yang berpeluh. "Tidak, tidak usah. Kau bisa meninggalkanku di sini, aku tidak apa-apa."
"Benarkah?" tanya Judy yang masih tidak yakin, memutuskan sekali lagi memastikan.
Arthur mengangguk dengan mata setengah terpejam. "Ya, pergilah."
Judy menurut, lantas segera angkat kaki dari lokasi dan kembali ke tempat awal. Gadis petarung itu menghela napas gusar, sebelum sepasang sudut bibirnya terangkat ketika selintas ide melewati benaknya yang semula kosong. Si manis Shizuragi lekas mempercepat langkahnya sampai terlihat seperti setengah berlari, seakan benar-benar dikejar waktu.
Senyumnya terkembang semakin lebar ketika sepasang maniknya menemukan presensi yang ia cari. "Joanne, aku butuh bantuanmu!"
***
Jadi, di sinilah Joanne sekarang. Menatap halaman belakang yang tampak lengang tanpa bising, hanya berisi Arthur di bangku panjang halaman. Terlihat putus asa, bahkan terlihat begitu jelas meski Joanne hanya memperhatikan dari kejauhan seperti yang diminta Judy padanya.
Gadis berhelai pirang itu menghela napas pelan, terlihat tidak tega saat retinanya mampu menangkap bagaimana Arthur terlihat rapuh. Duduk sendirian, dengan bahu yang merosot jatuh tidak bergairah. Joanne sempat mencibir tanpa suara, mengatakan kalau Arthur sudah seperti manusia yang hidup segan namun disuruh mati pun tak mau.
"Keluar kau! Aku tahu kau bersembunyi di balik pohon." ujar Arthur sedikit berseru, tak ayal membuat Joanne berjengit di tempatnya. "Kemari, jangan bertingkah seperti penguntit."
Joanne beranjak dari belakang pohon tempatnya bersembunyi barusan, lalu dengan setengah hati memijakkan kakinya mendekati si pemanggil. Arthur menoleh, membuat Joanne mengutuk dalam hati, perihal bagaimana bisa pemuda dengan jarak delapan meter di depannya itu tampak menawan hanya karena terbiaskan sinar rembulan purnama. Sampai kakinya berhasil mendarat dengan jarak tak lebih dari dua meter pun, gadis itu tetap diam mengagumi pahatan wajah ketua tim menyebalkannya.
"Mau apa kau kesini? Kalau hanya ingin mengasihaniku, kembalilah berpesta. Anggap aku tidak ada, itu jauh lebih baik." cecar Arthur yang lebih dulu memutuskan kontak mata mereka berdua.
"Kau terlihat menyedihkan." sela Joanne setelah menerka bahwa Arthur akan mencerocos lebih banyak.
Arthur mendengus geli seiring senyuman miringnya muncul ke permukaan. "Aku tahu, tidak perlu diperjelas."
Joanne mengedikkan bahunya tak peduli. Ia lalu mendudukkan diri tepat di ujung bangku, masih merasa enggan berdekatan dengan Arthur. Pemudi dengan wajah lucu itu hanya melemparkan pandangannya memandang rerumputan yang terhampar sejauh matanya mengedar.
"Kalau kau terus berdiam diri di sini, kau bisa sakit. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan." oceh Joanne tanpa mengalihkan pandangannya.
Arthur menoleh, mengerjap beberapa kali seolah memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya barusan. "Lalu? Apa bedanya dengan kau?"
Joanne berdecih, "Jangan bandel. Ayo masuk, jangan sok kuat."
"Aku tidak bisa berdiam diri dengan suasana pesta yang mengelilingi." pungkas Arthur dengan bersedekap dada. "Masuk sana, aku sedang dalam fase tidak mau diceramahi, apalagi olehmu."
Joanne mendengus, setelahnya diam tak bersuara. Bungsu Shizuragi yang satu itu justru menghempaskan punggungnya guna bersandar, alih-alih kembali membuka percakapan. Sementara Arthur, tidak jauh beda dengan gadis di sampingnya, pemuda itu beralih menatapi figur samping sang pemudi yang tidak merasa terusik dengan kegiatannya ini.
"Aku tahu aku menawan, tapi bisakah kau menatapku biasa saja?"
Yah, setidaknya sampai si gadis mengeluarkan ultimatum berupa tatapan maut yang dilayangkan untuknya. Arthur tidak keberatan dengan itu, bahkan ia hanya membalas dengan tersenyum tipis. Sebelah tangannya tergerak merangkul bahu si puan, mengikis jarak sampai kedua bahu mereka bersisian.
"Kau ternyata menarik, apa kau berkenan 'menghapus memori masa laluku'?" tanyanya sambil sesekali memainkan anak rambut Joanne yang bergelung di sisi wajahnya.
Joanne terperanjat, sama sekali tak pernah membayangkan hal semacam ini menimpanya dalam waktu singkat. Sepasang tangannya bergerak cepat, mendorong Arthur sampai lelaki itu menemui ujung bangkunya, kembali ke posisi awal. Arthur terkejut, sama terkejutnya dengan Joanne yang masih berusaha menetralkan degup jantung.
"Sinting. Kau mau kupukul?" ancam Joanne seraya bangkit lalu setelahnya mengangkat tangan kanan, lengkap serta wajahnya yang merah padam menahan emosi. "Aku bukanlah pelampiasan. Kalau kau mau cari seseorang yang bisa dijadikan pelarian, cari yang lain saja, jangan aku."
Arthur menatap Joanne datar, nampak betul tak minat sama sekali dengan apa yang pemudi itu serukan. Pemuda berusia sama dengan Joanne itu hanya menggelengkan kepala, lalu menyuruh Joanne untuk kembali duduk. Dituruti oleh si gadis, yang masih bersungut-sungut dan setia menghadiahkannya tatapan maut.
"Apa yang salah dengan tawaranku? Kau tidak akan menyesal, Joanne." ujar Arthur tenang, seakan apa yang baru ia ajukan bukanlah apa-apa. "Memangnya, apa lagi yang perlu kau ragukan dariku?"
"Semuanya." sela Joanne cepat-cepat. "Kau tidak terlihat meyakinkan, dasar patung berjalan."
"Hei! Aku bahkan tidak pernah menipu."
"Tampangmu itu seperti tampang kriminal asal kau tahu."
Arthur berdecak kesal, kembali menarik bahu Joanne agar tepat bersinggungan dengan bahunya sendiri. Kali ini, dirinya membiarkan sepasang netranya bersitatap dengan manik jernih tanpa cela milik Joanne. Mengizinkan gadis yang tengah ia rangkul untuk menyelami obsidian kelamnya.
"Silakan cari kebohonganku." ujarnya sambil tetap mempertahankan posisi mereka berdua.
"Aku tetap menolak." sanggah Joanne. "Lagi pula, kalau aku menyetujuinya, apa kau akan benar-benar memperlakukanku seperti seorang kekasih pada umumnya?"
"Siapa bilang aku akan menjadikanmu kekasih? Aku hanya memerintahkanmu untuk menghapus memori masa lalu, melampiaskan traumaku padamu, bukan berkencan."
-Something Unexpected-
Catatan Moy: tobat arthur, ai maneh teh kebangetan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]
ActionPerihal sesuatu yang sering digaungkan, sesuatu yang sulit dipahami, namun kerap kali bersangkutan. Romance | Thriller | Mystery | Fantasy | Adventure Hamada Asahi x Shin Ryujin Fanfiction ©acathmoy's own story, 2021.
![Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/269394841-64-k549729.jpg)