Kedatangan Hillary yang sengaja berkunjung rupanya sudah terdengar sampai ke telinga Alice. Padahal, semua awak mansion sudah berusaha menutupi kabar, sebab tahu bagaimana dendamnya petinggi yang satu itu terhadap Hillary. Wajar, mengingat Alice paling benci dengan yang namanya pengkhianatan.
"Bawa dia kemari untukku." perintahnya yang langsung dilaksanakan agen khusus penjaga ruangannya.
"Baik, Madam."
Dengusan kesal terdengar jelas setelahnya, Alice menekuk alis sambil mengetukkan jarinya di atas meja beberapa kali. Punggungnya sengaja ia rebahkan pada sandaran kursi, berusaha merelaksasi diri sendiri sebelum nanti kembali hectic.
Sudah lewat sepuluh menit berlalu, kini perlahan mulai terdengar suara hentakan sepatu beradu dengan lantai marmer. Alice dalam sekejap menegakkan tubuh terlebih bahunya saat menangkap ketukan di pintu. Dirinya lantas berseru mempersilakan.
"Masuk!" serunya.
Kenop pintu diraih perlahan oleh telapak tangan si gadis mungil bermarga Sukito. Senyum cerah dengan mudahnya tersungging di wajah cantik mungilnya ketika berhasil bertemu pandang dengan Alice, membuat madam yang satu itu merasa terejek karenanya.
"Ada apa, Madam?" tanya Hillary dengan maksud menyapa, tapi sukses menyulut emosi Alice naik ke permukaan.
"Ada apa katamu? Harusnya aku yang tanya begitu! Ada apa kau tiba-tiba datang tanpa undangan kemari?!" semprotnya yang terlanjur kesal.
Hillary terkekeh kecil dengan tangan menghalangi mulutnya, membentuk gestur anggun yang tidak ada tandingannya. "Tidak ada apa-apa, Madam. Aku hanya rindu pada suasana mansion, tidak bolehkah?"
"Tidak." tolak Alice menegaskan, sebelum berdiri menghampiri Hillary. "Kau sudah tidak dipersilakan memasuki area, namamu sudah tidak ada dalam daftar keluarga Shizuragi. Istilahnya, kau sudah ada dalam black list."
Hillary menutup mulutnya dengan sikap terkejut pura-pura, lalu menyahut. "Ah! Aku benar-benar tidak tahu soal itu, Madam."
Alice berdecak sebelum mencondongkan tubuhnya agar lebih merapat dengan tujuan mengintimidasi, sebelum menanggapi dengan malas. "Berhenti bertingkah seakan kau adalah anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa, Sukito Hillary. Aku bahkan bisa mengetahui akal bulusmu agar dapat memiliki akses masuk meski sudah tidak tercantum dalam pihak. Dan aku bahkan bisa tahu apa tujuanmu kemari."
Hillary terdiam tak menjawab, sementara Alice memutuskan melanjutkan perkataannya barusan. Kali ini diselingi seringai sinis yang dalam beberapa sisi justru terlihat manis.
"Bilang pada atasanmu, suruh dia menghadapku. Kalau memang dia bernyali besar, pastinya dia akan datang menemuiku, bukan begitu?" ujarnya sambil sesekali menjawil anak rambut Hillary yang dibiarkan menjuntai, menekan setiap ucapan dengan sendirinya. "Jangan malah menyuruh anak buah rendahannya untuk datang kemari dan membuat kekacauan dengan anak baru klan Shizuragi. Pahamkah?"
***
Beralih pada sisi Joanne, si gadis yang kini tengah disudutkan oleh Kate. Bungkam sesaat setelah mengetahui bahwa rekan sesama Shizuragi-nya yang satu itu tengah menilik dirinya lekat-lekat.
"Apa kau serius mau menuruti perintah Hillary begitu saja?"
Kate bertanya bingung saat menemukan Joanne terdiam termenung dalam pikirannya. Sementara gadis berambut pirang di depannya itu masih enggan mengeluarkan suara, bahkan setelah sepuluh menit Kate terus mencecarnya tanpa henti. Seperti kehilangan semangat hidup, pikir Kate.
"Hei, tatap mataku, aku sedang berbicara padamu." ujar Kate lagi, kali ini diselingi kegiatan mereposisi bola matanya kesal. "Jangan seperti orang linglung yang tidak punya pendirian, Joanne. Aku tahu kau tidak sebodoh itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]
ActionPerihal sesuatu yang sering digaungkan, sesuatu yang sulit dipahami, namun kerap kali bersangkutan. Romance | Thriller | Mystery | Fantasy | Adventure Hamada Asahi x Shin Ryujin Fanfiction ©acathmoy's own story, 2021.
![Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/269394841-64-k549729.jpg)