"Aku benar-benar membencimu."
Arthur terkekeh, mengangkat sebelah alisnya sambil terus menaruh atensinya penuh pada Joanne yang sedang push up. Pemuda itu menggoyangkan kakinya santai, terlihat menikmati penderitaan si adik bungsu. Sementara Joanne terus saja mengirimkan sinyal perang melalui tatapan matanya seiring tubuhnya bergerak naik-turun.
"Benarkah? Padahal semalam lepas kau sukarela menerima ajakanku." pungkas Arthur yang kini melipat kakinya seperti lagak seorang bos. "Itukah yang kau namakan benci? Aku bahkan lebih percaya kalau kau menyatakan telah jatuh hati."
Joanne mendecih disela-sela napasnya yang tersengal. Lebih memilih diam tak menanggapi dibanding harus menguras emosi. Keringat mulai mengucur di sepanjang pelipis, yang kemudian lantas ia abaikan. Juga kedua tangannya mulai bergetar tepat pada hitungan delapan puluh dua, masih tersisa delapan belas untuk menyelesaikan tugasnya.
"Ini masih jam delapan pagi, aku baru saja sarapan. Dan kau sudah memaksaku untuk latihan fisik? Gila." gerutunya lagi sambil terus komat-kamit menghitung gerakan. "Kau tahu? Sarapanku mungkin saja belum dicerna, dan kau seenaknya memerintah. Dasar lelaki."
"Hei? Kau mengoceh sebanyak itu hanya untuk meributkan sarapanmu?" Arthur mendengus kesal sampai menurunkan kaki, agaknya tak habis pikir dengan jalan pemikiran gadis yang satu ini.
"Sudahlah, lagi pula ini bukan latihan fisik biasa. Jadi, cepat selesaikan dan ayo ikut aku." tukas Arthur sambil kembali membenahi posisi duduknya. "Mari kita lihat seberapa pantas kau."
"Yang pasti, jauh lebih unggul dari pada kau."
***
Joanne mengangguk patuh saat Matthew menyematkan lencana berbentuk singa sembari mengucapkan selamat. Kalau ia tidak salah, tim singa adalah tim terkuat kedua setelah tim hiu. Yang mana membuatnya lebih rendah dari pada Arthur yang notabene tim hiu.
"Tim singa, huh?" ucap Arthur sedikit berbisik dengan nada berselip ejekan saat Joanne berjalan melewatinya. "Nyatanya, kau memang tidak bisa unggul atasku."
Joanne mendecih, namun tak menjawab apa-apa. Gadis itu hanya berbalik, melangkah menjauhi si lelaki pongah tanpa banyak berpikir. Matanya kemudian ia fokuskan menatap Matthew yang sedang menerangkan perihal apa saja yang harus Joanne tekuni ketika dirinya berhasil mendiami tim singa.
Gadis itu mengangguk beberapa kali mengamini beberapa pernyataan yang ditujukan untuknya, menandakan ia paham setelah mendengarkan begitu serius. Matthew pula menegaskan, Joanne perlu mendalami beberapa bahasa serta peningkatan ketepatan penyerangan, mengingat posisinya adalah petarung yang lebih banyak menghabiskan waktu tugasnya untuk turun langsung.
"Untuk seterusnya, latihanmu akan dipimpin Kevin." final Matthew lalu sambil mengerling ke arah Kevin yang juga hadir pada apel pagi dadakan ini.
Kevin membungkuk hormat, lalu berteriak menyetujui. Begitu pula Joanne yang langsung mengikuti tindakan sang senior meski kikuk. Matthew tersenyum lebar di atas podiumnya, setelahnya ikut membungkuk beberapa derajat sebelum turun menyelesaikan.
Roseanne bergantian naik ke atas podium, lantas berseru lantang. "Sampai sini, apa ada yang keberatan dengan keputusan ini?"
Orang-orang yang bersangkutan—termasuk Joanne—serempak menyerukan kata 'tidak' dengan sama lantangnya. Namun dipatahkan oleh seruan dari arah belakang yang hanya berselisih sepersekian detik. Tatkala semua pasang mata tertuju ke arahnya, dengan percaya diri ia meneruskan.
"Saya menyatakan kalau saya keberatan dengan salah satu keputusan."
Roseanne mengangguk bersahaja. "Lantas, bagian mana yang membuatmu tampak tak setuju, Shizuragi Arthur?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]
AksiPerihal sesuatu yang sering digaungkan, sesuatu yang sulit dipahami, namun kerap kali bersangkutan. Romance | Thriller | Mystery | Fantasy | Adventure Hamada Asahi x Shin Ryujin Fanfiction ©acathmoy's own story, 2021.
![Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/269394841-64-k549729.jpg)