BAGIAN 6

190 42 8
                                        

"Kau ini, kecil-kecil begitu rupanya nekat sekali."

Joanne meringis menahan perih tatkala luka asbab pertarungan dadakan yang melintang sepanjang garis keningnya sengaja ditekan oleh Charles. Pemuda medis satu itu hanya memasang raut wajah datarnya, bertolak belakang dengan kesan ramah pada kali pertama mereka berdua bertemu yang sebelumnya ia pamerkan.

"Kalau kau terluka parah bagaimana? Kau bukan petarung, ataupun agen seperti yang lain. Kemungkinan kau akan mati dari setiap pertarungan juga besar." komentar Charles dengan tangan yang masih setia menjahit luka Joanne hati-hati. "Bahkan kau tidak dibekali kemampuan apapun. Bertarung asal-asalan seperti itu bukan pilihan bagus, dasar bodoh."

Joanne menyahut asal, "Iya."

"Iya apa?!" sentak Charles seraya menodongkan kapas yang tengah dijepit.

"Tidak tahu."

Charles mengembuskan napas kesal sebelum mulai menitik beratkan konsentrasinya kembali pada luka yang tengah ia geluti. Sementara Joanne juga tidak jauh beda, gadis dengan beberapa bagian tubuh dihiasi perban menyilang itu justru melirik tak tentu arah. Charles tidak membuka suara lagi, Joanne berterima kasih dalam diam sebab tidak harus repot-repot membuka mulut.

"Kupikir, kau sudah jauh lebih baik." ucap Charles dengan nada bicara yang sukar ditebak maksudnya.

Joanne mengangkat alisnya, "Ya, lalu?"

"Berlatihlah, latihan perdanamu sebagai agen resmi." jawab Charles yang kemudian dilanjutkan cepat-cepat sebelum Joanne memotong ucapannya. "Arthur yang akan menjadi pelatihmu. Kau susuri lorong di luar ruangan ini sampai ke ujung, dan kau akan menemukan lapangan indoor yang lengkap dengan beberapa alat bergantung di sepanjang pagarnya."

***

Lalu, di sinilah Joanne sekarang. Lengkap dengan tangan yang berkeringat dingin, tepat setelah menyadari bahwa pada setiap penjuru lapangan benar-benar ditemukan---secara harfiah---berbagai macam senjata berlainan jenis. Pula didukung suasana senyapnya yang terlalu menyambangi, bahkan terlalu sepi sampai dirinya mulai menaruh curiga.

Brak!

Joanne berjengit setelah telinganya mendengar jelas bising kusen pintu yang ditutup paksa. Ditampilkan setelahnya, Arthur berjalan mendekat dengan langkah lebarnya yang khas, menimbulkan suara ketukan sepatu diantara sunyi yang menginvasi. Raut wajahnya tidak tertebak, persis seperti ekspresi Charles di ruang medis tadi.

"Joanne."

Suara penuh penekanan yang dilayangkan sang pemuda, tak urung menghidupkan rasa gugup Joanne yang semula mati-matian ia pendam. Gadis itu menoleh lamat-lamat, merasa semakin tertekan akibat dihadiahi tatapan lekat dari si lawan jenis. Joanne lantas membungkuk sesaat sebagai isyarat formalitas yang sayangnya tidak mendapat tanggapan apa-apa, membuat pemudi itu menggerutu dalam batin.

"Calon petarung baru klan Shizuragi, benar?" interupsi Arthur sambil tangannya sibuk mengeluarkan nota kecil dari saku kemejanya. Lantas membolak-balikkan halamannya sesaat dengan alis bertaut.

Joanne mengernyit, "Tidak tahu."

Arthur menatapnya sekilas, kemudian mendengus kecil masih sambil memeriksa nota. Beberapa kali bibir tipisnya bergerak tak tentu, menggumamkan banyak hal yang tidak sempat Joanne dengar. Lalu setelah itu, pemuda itu mengikis isi kertas dengan tintanya, mencoret sebagian besar lapak kosongnya.

"Kalau tidak tahu, kenapa kau datang kesini?" tanya Arthur lagi.

"Charles yang menyuruhku." jawab Joanne sekenanya.

Arthur menyunggingkan senyum tipis, "Lalu? Kau dengan senang hati dan tanpa pikir panjang langsung menurutinya? Memangnya kau tak takut akan terjadi sesuatu?"

"Untuk apa takut? Charles bukan orang yang suka menipu, aku percaya padanya." sergah Joanne seraya mengedikkan bahunya tak acuh.

"Tahu dari mana? Kau bahkan belum genap seminggu mengenalnya, dasar naif." tukas Arthur dengan mulai menajamkan intonasinya. "Dari yang kutangkap barusan, kau itu memang persis keledai dungu. Terlalu mudah terbawa arus, sekaligus disaat bersamaan juga pendek pemikiran. Kalau ada sepuluh orang seperti kau dalam organisasi, aku yakin sebulan kemudian organisasi itu pasti akan hancur."

Bohong kalau Joanne tidak tertohok. Belum apa-apa, tapi Arthur sudah sukses menembakkan peluru verbal. Gadis itu tanpa sadar meringis kikuk, merasa canggung untuk menanggapi konversasi atau sekadar menyanggah merealisasikan ketidaksetujuannya.

"Pertama, aku mau kau melakukan tes fisik." tegur Arthur dengan suaranya yang hari ini terdengar sedikit serak. "Kau lihat danau buatan itu?"

Pandangan Arthur mengarah lurus ke depan, mau tak mau membuat Joanne mengikuti arah pandangnya. Sedetik setelahnya, mata gadis itu membola sempurna. Joanne sama sekali tak habis pikir, bagaimana bisa mansion yang dibangun di bawah tanah ini bisa seluas itu dengan teknologi yang canggihnya bukan lelucon.

"Silakan menyebrang. Kalau kau lulus tes pertama, kita akan langsung lanjut tes yang lain." ucap Arthur dengan sebelah tangan direntangkan, mempersilakan Joanne melaksanakan apa yang ia instruksikan.

"Serius?" tanya Joanne, tampaknya masih tergugu setelah memperkirakan luas danau buatan yang dimaksud Arthur. "Maksudku, aku harus menyebrang dengan berenang tanpa pengaman apapun? Apa kau sudah gila?"

Sepasang alis milik si pemuda terangkat, sementara sang empu mulai menyunggingkan senyum miring yang lalu melekat. Arthur mengedikkan bahunya tak peduli, sekali lagi mempersilakan Joanne melalui isyarat tangannya. Bahkan tidak menggubris sedikitpun ekspresi penuh penolakan dari si gadis yang tampak enggan.

"Dunia ini memang penuh kegilaan, jangan terpedaya dengan kemewahannya yang fana." gumam Shizuragi Arthur yang hanya terdengar setingkat diatas bisikan. "Lagipun, di medan yang sebenarnya kau tak akan sempat memikirkan keamanan, ataupun pengaman."

"Shizuragi Joanne, ayo mulai!"

***

Menggigil kedinginan, baju yang basah kuyup, pula tarikan napas yang serasa berada di ambang batas seolah memperlengkap penderitaan Joanne. Telinganya juga sempat sedikit berdenging setelah kemasukan air. Belum lagi luka akibat tertancap paku saat terlempar kayu pada kepalanya yang kembali terbuka, sebab belum kering sepenuhnya.

"Kau gila." ucap Joanne pada Arthur dengan bibir yang membiru.

Joanne dinyatakan gagal dalam tes pertama, bahkan secara jelas dikategorikan sebagai salah satu dengan nilai sangat buruk. Gadis itu tenggelam dalam kedalaman dua puluh meter, karena diluar dugaan ternyata dia tidak bisa berenang.

"Kau yang payah." sergah Arthur masih sambil mencoret buku notanya. "Kalau tes fisik pertama saja sudah tumbang, bagaimana jadinya kau tes fisik yang lain? Mati?"

Ucapan frontal dari si pemuda tak ia gubris. Joanne justru sengaja hanya mendelikkan matanya nyalang sebagai pertanda bahwa kedua telinganya masih setia mendengarkan. Gadis itu masih shock berat, ini kali pertama dirinya hampir memasuki fase sekarat, dan agaknya terdengar terlalu mustahil jika ia berharap semoga kedepannya tidak ada lagi.

"Aku memang nyaris mati kalau kau lupa." sergah Joanne sedikit menghardik.

"Lalu kenapa? Lagi pula, ini baru awalan. Persiapkan dirimu untuk tes berikutnya, pecundang." tukas Arthur. "Kutunggu dua puluh menit lagi di ruang senjata. Kalau telat, pastikan dirimu sanggup menjalani hukumannya."

Arthur lalu mengedikkan bahu, memutar arah tubuhnya sampai berbalik meninggalkan Joanne. Membiarkan gadis itu dikukuhkan para agen khusus medis, sementara langkahnya semakin melebar menjauh. Sedangkan Joanne, masih terdiam di bawah pohon dengan tim medis yang beberapa kali memeriksa dan menanyakan keadaannya.

Joanne melirih disela-sela napasnya yang masih tersengal, "Tunggu waktunya, Arthur."

Hari itu, hari pertama Joanne resmi bergabung dengan kegilaan keluarga Shizuragi. Resmi pula merasakan perasaan benci yang setiap detiknya semakin mengakar, menciptakan tekad yang ia ikrarkan dalam hati. Perihal dia yang berjanji pada diri, suatu hari nanti akan memutar balikkan keadaan.

-Something Unexpected-

Catatan Moy: Kalo ada typo tolong ingetin, ya!

Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang