BAGIAN 7

183 43 22
                                        

Seminggu penuh penyiksaan telah resmi berlalu, menyisakan Joanne dengan segala penderitaannya yang tak kunjung membaik. Setelah dipastikan lulus berbagai macam ujian tes, komandan Jeffrey memanggilnya ke ruang pribadi pada pagi ini. Gadis itu berusaha tak menggubris banyak tatapan iba yang ditujukan untuknya, selagi tungkainya tetap bergerak dalam koordinatnya.

"Permisi." ucapnya setelah mengetuk pintu.

"Silakan masuk."

Mendengar suara serak yang bergaung dari balik pintu ruangan tak urung membuat Joanne menyingkirkan rasa percaya dirinya. Terlebih lagi ketika dirinya berhasil membuka pintu yang menjadi sekat, saat kedua matanya berhasil menangkap presensi Jeffrey yang tengah berdiri mengintimidasi. Joanne masuk dengan gugup, mengesampingkan keinginannya untuk kabur secepat yang ia bisa.

"Shizuragi Joanne," panggil Jeffrey yang kemudian mengisyaratkan Joanne agar mendekat. "Kudengar dari Arthur, katanya kau sudah ada kemajuan dalam tes. Benar begitu?"

Joanne mengangguk kaku, merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan. Sementara Jeffrey meraih blue print dari meja kuasanya, menunjukkan isinya secara jelas ke hadapan Joanne yang masih mematung. Pemudi Shizuragi itu mengernyit, namun tangannya tetap menerima berkas yang diserahkan.

Joanne tergugu, "Misi pertama?"

"Silakan kau baca baik-baik, lalu laksanakan." ucap Jeffrey sebelum mendudukkan bokongnya ke atas kursi kebanggaan. "Ada yang mau ditanyakan?"

Joanne mencermati kertas yang berada di genggamannya, menilik betul-betul isinya dengan kening mengernyit. Beberapa kali ia menjumpai kata yang tidak ia pahami, namun masih tidak cukup untuk dijadikan pengajuan pertanyaan kepada petinggi seperti Jeffrey.

"Terkait dengan petunjuk yang tertera, apa saya bisa meminta arahan yang lebih spesifik untuk misi pertama kali ini?" tanya Joanne dengan mata penuh binar harap, secara tidak langsung meminta belas kasih agar Jeffrey bersedia meringankan tugasnya.

Jeffrey menaikkan sebelah alisnya seraya mengulas seringai, "Pertanyaan bagus. Tapi sayangnya, kau tidak bisa mendapat jawaban seperti yang kau inginkan. Karena dalam klan Shizuragi, kami memerlukan kemampuan agen yang mampu berimprovisasi dalam keadaan terjepit. Bukannya terus-terusan meminta arahan, karena kau akan berhadapan dengan medan sesungguhnya, Joanne. Bukan lagi pelatihan yang masih dilindungi pihak organisasi."

Joanne tertohok, "Baik, Sir. Saya pamit, terima kasih."

Jeffrey mengangguk dan tersenyum bersahaja, mempersilakan Joanne untuk keluar ketika gadis itu membungkuk hormat. Pria berparas tegas itu bahkan melebarkan senyum, sayangnya tidak berpengaruh apa-apa bagi nyali Joanne yang terlanjur menciut.

"Ah, tunggu sebentar, Joanne!" panggil Jeffrey, mengejutkan Joanne yang baru saja berbalik badan. "Kau ditempatkan di posisi petarung, jadi kau benar-benar membutuhkan blue print itu untuk memahami medan yang akan kau selami. Silakan dipelajari."

Joanne mengangguk kaku, berpamit sekali lagi dengan bibit bulir keringat mulai lahir di sepanjang pelipisnya.

***

Pintu ruangan lantas tertutup buru-buru, dengan sang pelaku yang masih sibuk mengatur napas.

"Hei, santai saja, Joanne. Kau pasti bisa," ucapnya pada diri sendiri. "Ya, aku pasti bisa."

"Apa kau sudah tidak waras? Untuk apa berbicara pada pintu?" suara lain menginterupsi, hampir membuat Joanne terlonjak di antara kesunyiannya.

"Untuk apa kau kemari?" ketus Joanne yang merasa tak ingin diganggu oleh presensi di sampingnya itu.

Arthur—si pemuda yang datang tiba-tiba, lantas mengedikkan bahunya tak acuh. Kedua netranya justru mengerling jahil pada kertas blue print yang sedang digenggam Joanne. Pemuda itu bersiul kemudian, memasukkan sebelah telapak tangannya ke dalam saku celana berbahan katun miliknya seraya berujar.

"Omong-omong, kau akan ditugaskan denganku dalam misi itu." ucapnya dengan nada puas juga raut wajah angkuh menunjuk pada berkas. "Kuharap, kau tidak akan merepotkanku dalam misi kali ini, partner."

Joanne mendengus tak terima, "Begitukah caramu menyambut rekan baru? Etikamu sangat tidak berkelas."

"Kau tidak akan membutuhkan etika berkelas seperti seorang putri raja kalau berhadapan dengan musuh." sergah Arthur dengan tangan yang bergerak merebut kertas blue print dari kuasa Joanne. "Lagi pula, aku tidak suka kekalahan, sejak dulu klan Shizuragi memang sudah dirancang untuk menang. Jadi, jangan sampai kau merusak apa yang sudah tertanam, paham?"

Tepat setelah mulutnya selesai mengucapkan ancaman, Arthur merobek kertas blue print yang masih ada di tangannya sebelum sempat Joanne merebutnya kembali. Pemuda tampan yang satu itu kemudian berbalik badan lalu melangkah dengan langkah lebar khasnya, meninggalkan Joanne yang masih mematung sesaat tak percaya.

Arthur menyempatkan dirinya berbalik, lalu menyeringai selagi kedua maniknya menikmati ekspresi marah yang ditujukan Joanne untuknya, "Selamat menderita, Joanne."

"Shizuragi Arthur, beraninya kau!"

***

Joanne kini sedang sibuk menyendiri, dengan lem dan penjepit kapas yang ia pinjam dari Charles mengisi kedua tangannya. Keningnya mengerut dalam, terlihat begitu serius pada serpihan kertas blue print yang sudah tak karuan bentuknya. Gadis itu benar-benar tak bisa diganggu, bahkan ocehan Carrie yang menyuruhnya makan tak juga ia gubris.

"Ayolah, Joanne. Setidaknya kau pasti akan tetap berhasil meski tanpa kertas blue print. Jangan membebani dirimu sendiri seperti itu." Tegur Carrie yang sudah mulai kesal.

Joanne melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda ketika tahu bahwa Carrie hanya menawarkan makan untuk kesekian kalinya. Jemari lentiknya masih setia membubuhkan lem perekat pada setiap robekan yang lembarannya mulai kusut.

"Hei, apa kau tahu sesuatu tentang Arthur?" ucap Carrie mengundang atensi Joanne untuk segera bertumpu pada kalimatnya barusan. "Sikapnya tidak seburuk itu."

Joanne tanpa sadar menaruh penjepit kapas dengan sedikit kasar. Menimbulkan bunyi bising pada meja yang dijadikan alas, juga ekspresi terkejut Carrie yang tidak bisa disembunyikan setelah gadis di sebelahnya itu selesai mengeluarkan reaksinya.

"Tidak seburuk itu katamu? Apa kau tidak lihat penindasan macam apa yang dia lakukan padaku?" hardik Joanne dengan tangan menggenggam botol lem kuat-kuat. "Cih, double standard, huh? Dia itu sudah seperti manusia tak punya hati saja kalau kutilik betul-betul."

"Itu karena kau tidak tahu apa-apa tentangnya." bantah Carrie yang kini justru menyadarkan punggungnya ke papan kursi dengan sepasang manik jernih yang menatap menantang ke arah Joanne, ia meneruskan. "Double standard apanya? Lagi pula, siapa yang bilang kalau dia itu benar-benar sepenuhnya manusia, Joanne-ku yang polos?"

Awalnya, Joanne ingin menghardik semua yang disampaikan Carrie. Setidaknya, itu yang terlintas sesaat dalam pikirannya sebelum saraf dalam otaknya menangkap sesuatu yang lain secara impulsif. Gadis itu beralih mengernyit, memajukan tubuhnya sampai condong ke arah Carrie yang masih memasang ekspresi menantang.

Joanne tergugu dengan raut terkejut yang begitu kentara terlihat, "Apa yang kaumaksud dari ... kalimat terakhirmu barusan?"

"Kau sudah cukup pintar untuk mengerti, Joanne. Silakan simpulkan sendiri, atau mungkin kau akan tahu dari sumbernya langsung suatu saat nanti. Aku pamit, dah!"

-Something Unexpected-

Catatan Moy: Heuheu, masih ada yang nunggu?

Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang