BAGIAN 25

203 24 3
                                        

Sakit. Perih. Ngilu.

Arthur merasakan ketiganya sekarang. Sepasang netra yang selalu menyorot sinis itu kini ia arahkan untuk menyoroti bagian ulu hatinya sendiri. Ia meringis setelahnya, merasa miris sekaligus sulit menahan sakit lantaran bilah pisau sepanjang kurang lebih sepuluh sentimeter itu mengoyak kulitnya. Menembus jaringan-jaringan di bawah epidermisnya, seakan mencoba menguras pasokan darahnya yang kian mengucur perlahan.

"Hahaha!"

Jelas, Arthur jelas menangkap suara tawa mengejek yang dilontarkan lawan selaku pelaku penikaman benda tajam. Arthur mendesis berang, bertekad membalas namun kesulitan lantaran berdiri pun rasanya tak kuasa. Ia heran, disaat sedang genting dibutuhkan seperti ini, kemana perginya kemampuan mutan miliknya?

Shizuragi Arthur tetap Shizuragi Arthur. Yang enggan mengalah. Yang enggan membiarkan harga dirinya jatuh di depan lawan tarungnya. Yang pernah berjanji pada diri sendiri, bahwa akan selalu menolak keras apabila disuruh menyerah meski dalam keadaan terjepit.

"Kudengar, pacarmu itu ditinggal di mansion-mu, ya? Wah, pacar macam apa yang tidak bertanggung jawab atas keselamatan pasangannya sendiri?"

Darah Arthur seketika mendidih begitu telinganya menangkap dengan jelas nada mencurigakan yang terselip di balik kalimat ejekan sang lawan. Arthur tahu siapa lawannya ini, Yamamura Edgar, anak buah dari organisasi buatan Yamamura Mario—musuh abadinya. Pemuda bersurai light blonde itu segera saja memaksakan tubuhnya bangkit, menepiskan rasa sakit yang kian menggebu seiring frekuensi pergerakannya berubah lebih intens.

"Akh!"

Belum sempat mengukuhkan pijakan, Edgar sudah menarik belati yang sebelumnya tertanam di ulu hati Arthur, untuk kemudian menusukannya lagi di tempat yang hanya berjarak dua sentimeter dari tempat luka awal. Edgar tersenyum miring ketika menyadari ekspresi kesakitan Arthur yang tak lagi bisa disamarkan, membuat raut penuh kemenangan Edgar tanpa sadar terlihat begitu nampak. Edgar tentu tahu persis, apa yang sedang dialami lawannya saat ini, meski Arthur sama sekali belum menemukan petunjuk atas keadaan tubuhnya sendiri.

Tumbang, Shizuragi Arthur kembali tumbang untuk yang kedua kali. Ini tentu saja jelas bukan kemauannya, karena bahkan ia sendiri pun tidak paham mengapa tubuhnya mendadak tidak dapat dikendalikan.

Sepasang kakinya tiba-tiba lemas tanpa alasan, memberi efek gemetar dari pangkal lutut sampai pergelangan kaki. Torsonya memberat, sesak dada bahkan sudah mulai menjalar tanpa bisa ia cegah, Arthur merasa lemas sampai rasanya mustahil bergerak, seakan-akan bobot tenaganya tersedot habis oleh gravitasi bumi. Pandangannya mulai berkabut, namun tetap dipaksa ia tajamkan demi melihat dengan benar kemana arah serangan Edgar selaku lawan main.

"Menyerah, Shizuragi?" ejek Edgar, kali ini diiringi dengusan sinis. "Kau mutan, tapi tidak kunjung pula tersadar kalau kelebihan mutan-mu itu sudah turun sangat jauh, kemudian melemah. Benar, 'kan?"

Arthur mendecih, diam-diam membenarkan dalam hati perihal pernyataan dari si musuh. Anggota Shizuragi yang datang dari tim terkuat itu bukannya tidak sadar, hanya saja menolak sadar tatkala mengetahui bahwa kemampuannya sudah merosot sangat jauh. Arthur selalu berusaha menolak kenyataan, enggan mengakui fakta bahwa kemampuan miliknya menurun secara amat signifikan yang sebenarnya ia pun tidak tahu pasti apa faktor penyebabnya.

"Mau tahu sesuatu tentang tubuhmu sekarang, Draco?" tawar Edgar, masih mempertahankan keangkuhan pada nada bicaranya.

Arthur mendecih sekali. "Tutup mulutmu itu, Yamamura!"

Seakan perintah yang baru dicetuskan Arthur itu hanyalah sekadar angin lewat, Edgar tetap tidak memundurkan niat untuk membocorkan 'sesuatu' yang ia maksudkan. Namun sebelum ia membuka mulutnya, tendangan menukik dari Arthur terlebih dulu sudah telak ia terima pada area bahunya. Edgar mengerang sewaktu ujung tumit Arthur yang sengaja disisipi mata patahan pisau berhasil mengenai kulit bahunya, menembus daging sampai kisaran dua setengah sentimeter dalamnya.

"Kurang ajar kau, keparat!" jerit Edgar begitu menemukan bahunya terkoyak tanpa terlebih dulu sempat melakukan perlawanan.

Arthur tidak membalas umpatan yang ditujukan untuknya, namun beralih menyiapkan ancang-ancang guna merealisasikan niat untuk menyerang titik lemah si lawan. Raut wajahnya berubah berkali lipat lebih serius dibanding sebelumnya, sementara peluh mulai berjatuhan melalui pelipis semulus porselennya. Pijakannya dikuatkan, sedangkan torsonya ia buat sesantai mungkin dengan tujuan agar dapat bergerak lebih fleksibel menghindar tanpa harus mudah oleng.

Edgar berdesis seperti ular, lantas berlari menerjang Arthur dengan api emosi yang begitu memancar dari sepasang matanya. Arthur mempertahankan sikap diam, berusaha menunjukkan aura tenangnya dan mencoba tetap terorganisir seperti yang sudah sering ia terapkan dalam perlawanan sebelum ini.

BRUGH!

Edgar terpental sebelum berhasil mendaratkan mata pisaunya di atas kepala Arthur.

Arthur menunduk, memanfaatkan postur tubuh rampingnya untuk berkelit ke samping kiri Edgar yang sebelumnya tengah mengangkat tinggi-tinggi senjata miliknya. Selanjutnya, pemuda Shizuragi itu memutar tubuh dengan sebelah tangan terangkat, dalam sekejap merebut pisau Edgar, tepat sepersekian detik sebelum benar-benar akan mengenainya. Seakan tidak memperbolehkan Edgar bereaksi atas perlawanannya, Arthur buru-buru melayangkan tendangan samping dengan cepat dan mengerahkan tenaga penuh, seolah sakit pada ulu hatinya mendadak hilang.

Terkesan tergesa-gesa, tapi Arthur puas dengan hasilnya.

"Argh!" Arthur meringis dengan suara yang lebih menyerupai pekikan teredam.

Harusnya, ia lebih waspada dengan lukanya yang menganga dan memang belum sama sekali mengering sedikitpun. Pemuda itu berusaha mengendalikan ekspresinya agar tidak ketahuan bahwa sedang berusaha menangkal sakit. Namun agaknya, hari ini jelas bukan keberuntungan Arthur lantaran Edgar rupanya jauh lebih cermat dalam memperhatikan daripada dugaannya.

"Kambuh, huh?"

Seringai sinis kembali terbit di wajah berparas amat rupawan sang lawan duel, sementara Arthur tak lagi dapat bergerak banyak seiring dada kirinya berdenyut ngilu. Seakan bagian jantungnya seketika dijerat rantai, rasanya amat tidak karuan. Arthur sekarang sudah benar-benar yakin, tubuh miliknya memang sudah tidak beres.

Terlalu larut dalam pikirannya, Arthur tidak sadar bahwa Edgar kini sudah berada di hadapannya. Menghunus katana kokoh dalam genggaman, lengkap serta seringai sinis penuh aura intimidasinya. Arthur menengadah pasrah menatap wajah lawan tarungnya, tidak lagi melawan dan memilih berserah meski itu berarti ia harus berhadapan dengan kemungkinan mati secara tidak terhormat di depan musuh.

Di tengah-tengah detik yang terasa berjalan hanya untuk menghabiskan hela napas, Arthur menerima serangan kejut dari dalam diri. Kemudian terus berlanjut sehingga kesan aliran listrik itu terasa menjalar ke seluruh tubuh, seolah memang sengaja disisipi melalui arus aliran darah. Aliran listrik itu kian menggila seiring rematan pada jantungnya mulai muncul lagi.

"Draco, kau sungguhan tidak tahu?"

Suara Edgar terdengar lagi, membuat Arthur reflek—seakan sudah tersistem otomatis—mengeratkan rematan pada belati kecil yang sengaja lebih dulu diselipkan. Langkah kaki Edgar dibawa mendekat perlahan, sementara Arthur sudah tidak sanggup lagi melangsungkan niat untuk memasang sikap siaga lantaran tak lagi kuasa menahan bobot tubuhnya sendiri, dan berakhir terduduk tidak bisa banyak melawan. Sedangkan Edgar, pria muda itu mendengus puas kala melihat Arthur sudah kepayahan.

Edgar membuka mulut. "Cinta yang ada dalam dirimu itu sudah melemahkanmu, kalau kau belum sadar juga. Dasar bodoh, manusia naif." Edgar mengimbuh kemudian setelah mendengus. "Kau itu jenis mutan A536, jenis mutan yang sensitif terhadap emosi dan afeksi. Kenapa kau tidak sadar juga?"

Ah, benar. Arthur lupa. Untuk mutan dengan tipe sepertinya, jatuh cinta bisa menjadi serumit ini.

Joanne. Menjadi satu-satunya nama yang melintas dalam pikiran Arthur sewaktu Edgar menyinggung bahasan soal cinta. Pemuda Shizuragi itu menggeleng samar, dengan batin yang berteriak memberontak.

"Tidak, jika memang begitu sistem tubuhku, biarlah melemah. Tapi aku tidak akan menghilangkan perasaan ini."

–Something Unexpected–

Catatan Moy: apa kabar? Hehe. Sebulan lebih nggak update, sekalinya update malah cringe. Maaf ya😭🙏

Kuusahakan update lagi minggu depan kalau jadwalku nggak hectic, c u!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 07, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Something Unexpected ; AsaRyu [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang